Batas Waktu Salat Magrib, Mengapa Ditambah 2 Menit dari Matahari Terbenam?

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 17 Jan 2022 06:05 WIB
Ilustrasi Sholat berjamaah
ilustrasi Sholat Maghrib (Tim Infografis detikcom)
Jakarta -

Salat Magrib yang dimulai sejak matahari terbenam, hukumnya adalah wajib. Sebagaimana salat fardhu lainnya, hendaknya salat magrib pun dilakukan di awal waktu. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

"Jika waktu sholat telah tiba, maka hendaklah seseorang diantara kalian beradzan, dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian menjadi imam." (HR. Bukhari).

Batas Waktu Salat Magrib

Batas awal dan akhir ibadah salat magrib adalah sejak terbenamnya matahari dan hilangnya awan yang berwarna merah. Ketentuan ini juga terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim Nomor 162 yang berbunyi:

"Waktu maghrib berakhir hingga hilangnya awan merah dari cakrawala."

Selanjutnya, salat magrib akan diikuti dengan salat Isya yang dimulai setelah waktu magrib sampai terbit fajar yang menandakan saatnya salat subuh.

Pada penerapannya, jadwal salat sebetulnya sering bergeser sedikit atau banyak. Hal ini bergantung pada posisi matahari di koordinat horizon.

"Dalam penentuan jadwal sholat, data astronomi terpenting adalah posisi matahari dalam koordinat horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit," ujar astronom dan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin dalam blognya.

Posisi matahari yang perlu dicermati adalah fajar atau morning twilight, terbit, melintasi meridian, serta senja atau evening twilight. Berbagai posisi ini dihitung dan diamati sehingga menjadi jadwal salat.

Apabila mengacu secara astronomis atau berdasarkan letak matahari, maka batas waktu salat magrib biasanya ditentukan ketika matahari terbenam ditambahkan dua menit. Mengapa demikian? Karena ada larangan menunaikan salat, tepat saat matahari terbit, terbenam, atau ketika kulminasi atas.

Selanjutnya, salat magrib diikuti isya yang secara astronomis ditandai dengan memudarnya cahaya warna merah di ufuk bagian barat. Inilah tandanya sudah masuk malam. Pada ilmu astronomi, hal ini disebut sebagai akhir senja astronomi atau astronomical twilight.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan Rasulullah SAW juga menjelaskan jadwal salat sesuai arahan Malaikat Jibril. Begini bunyi hadisnya, sesuai narasi Jabir bin 'Abdullah:

الَ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الْعَصْرَ ‏.‏ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْمَغْرِبَ فَقَامَ فَصَلاَّهَا حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ سَوَاءً ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ الشَّفَقُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ ‏.‏ فَقَامَ فَصَلاَّهَا ثُمَّ جَاءَهُ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ فِي الصُّبْحِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ ‏.‏ فَقَامَ فَصَلَّى الصُّبْحَ ثُمَّ جَاءَهُ مِنَ الْغَدِ حِينَ كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ ‏.‏ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ جَاءَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِينَ كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَيْهِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ ‏.‏ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ ‏.‏ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ ‏.‏ فَصَلَّى الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ ‏.‏ فَصَلَّى الصُّبْحَ فَقَالَ ‏ "‏ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ ‏"‏

Artinya: Jibril, (semoga kedamaian dilimpahkan atasnya) datang kepada Nabi SAW ketika matahari telah melewati puncaknya dan berkata: 'Bangunlah, wahai Muhammad, dan sholat Dzuhur ketika matahari telah melewati puncaknya.' Kemudian dia menunggu sampai bayangan seorang pria sama dengan tinggi badannya, lalu dia mendatanginya untuk 'Ashar dan berkata: 'Bangunlah, ya Muhammad, dan sholatlah 'Ashar.' Kemudian dia menunggu sampai matahari terbenam, lalu dia datang kepadanya dan berkata: 'Bangunlah, ya Muhammad, dan sholat Maghrib.' Maka ia bangun dan sholat ketika matahari telah terbenam. Kemudian ia menunggu sampai senja menghilang, lalu ia datang kepadanya dan berkata: 'Bangunlah, wahai Muhammad, dan sholat Isya. Maka ia bangun dan sholat. Kemudian ia datang kepadanya ketika fajar menyingsing dan berkata: 'Bangunlah wahai Muhammad, dan sholatlah.' Jadi dia bangun dan sholat Subuh.' Jadi dia bangun dan sholat Subuh. Kemudian dia datang kepadanya keesokan harinya ketika bayangan seorang pria sama tingginya, dan berkata: 'Bangunlah, ya Muhammad, dan berdoalah.' Maka ia sholat Dzuhur. Kemudian Jibril datang kepadanya ketika bayangan seorang laki-laki sama dengan dua kali panjangnya dan berkata: 'Bangunlah wahai Muhammad, dan sholatlah.' Jadi dia sholat 'Ashar. Kemudian dia datang kepadanya untuk Maghrib ketika matahari terbenam, tepat pada waktu yang sama dengan hari sebelumnya, dan berkata: 'Bangunlah, ya Muhammad, dan berdoalah.' Jadi dia sholat Maghrib. Kemudian dia datang kepadanya untuk Isya ketika sepertiga pertama malam telah berlalu, dan berkata: 'Bangun dan sholat.' Jadi dia berdoa Isya. Kemudian dia mendatanginya untuk Subh ketika hari sudah sangat terang, dan berkata: 'Bangun dan sholatlah.' Jadi dia berdoa Subuh. Kemudian dia berkata: 'Waktu sholat satu di antara dua (batas) itu.' (HR An-Nasa'i).

Hadis di atas diterjemahkan menjadi jadwal salat setiap harinya, baik itu untuk salat magrib, maupun yang lainnya.



Simak Video "Silaturahmi Senior Golkar Usai Peresmian Masjid Baru di Markas Partai"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia