Kenapa Bisa Gagal Fokus? Riset Ini Jelaskan Cara Kerja Otak

Kristina - detikEdu
Selasa, 11 Jan 2022 09:30 WIB
MAN STUDYING CROSSWORD AT TABLE
Foto: Getty Images
Jakarta -

Para ilmuwan dari Max Planck Institute for Human Development dan University of Southern California berhasil mengungkap sistem kerja otak yang dapat mengalihkan fokus perhatian secara tiba-tiba. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan Locus coeruleus atau yang sering disebut dengan titik biru.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences tersebut telah mengembangkan kerangka kerja baru yang menggambarkan cara titik biru mengatur sensitivitas otak manusia terhadap informasi yang relevan dalam situasi yang membutuhkan perhatian.

Perhatian manusia dapat dikatakan berfluktuasi. Di satu sisi, kita mudah terganggu dengan kesadarannya. Sementara di sisi lain, kita dapat dengan mudah fokus pada hal yang penting secara tiba-tiba, misalnya ketika dikagetkan dengan bunyi klakson saat sedang mengemudi.

Selama keadaan kurang perhatian, otak kita diatur oleh fluktuasi aktivitas saraf yang lambat dan berirama. Secara khusus, ritme saraf berada pada frekuensi sekitar 10 Hertz, yang disebut osilasi alfa. Kondisi tersebut diperkirakan menekan pemrosesan aktif input sensorik selama otak kurang perhatian.

"Sedikit yang diketahui tentang apa yang membuat pola penembakan berirama ini datang dan pergi," kata Markus Werkle-Bergner, Ilmuwan Senior di Center for Lifespan Psychology di Max Planck Institute for Human Development, dilansir dari ScienceDaily, Selasa (11/1/2022).

Para peneliti berfokus pada titik biru, struktur sel kecil yang terletak di batang otak. Gugusan sel ini hanya berukuran sekitar 15 milimeter, tetapi terhubung ke sebagian besar otak melalui jaringan luas serabut saraf jarak jauh.

Titik biru terdiri dari neuron yang merupakan sumber utama neurotransmitter noradrenalin. Dengan mengatur komunikasi saraf, noradrenalin berperan dalam pengendalian stres, memori, dan perhatian.

Karena ukurannya yang kecil dan lokasinya yang jauh di dalam batang otak, sebelumnya hampir tidak mungkin untuk menyelidiki nukleus noradrenergik secara non-invasif pada manusia yang hidup. Untungnya, selama beberapa tahun terakhir, penelitian pada hewan telah mengungkapkan bahwa fluktuasi ukuran pupil berkaitan dengan aktivitas titik biru.

Para peneliti menggabungkan rekaman ukuran pupil dan osilasi saraf sementara peserta menyelesaikan tugas yang membutuhkan perhatian. Hasilnya, saat ukuran pupil yang lebih besar menunjukkan aktivitas noradrenergik yang lebih tinggi, osilasi alfa menghilang.

Selain itu, peserta yang menunjukkan respons pupil dan alfa yang lebih kuat lebih baik dalam menyelesaikan tugas perhatian. Temuan yang diterbitkan tahun 2020 dalam sebuah artikel di Journal of Neuroscience, menunjukkan bahwa dengan memodulasi osilasi alfa, titik biru dapat membantu kita memfokuskan perhatian kita.



Simak Video "Mencicipi Gurihnya Otak-otak Khas Kepulauan Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia