Ternyata Ini Asal Usul Nama Lubang Buaya, Saksi Bisu Gugurnya 6 Pahlawan Nasional

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Sabtu, 25 Des 2021 17:00 WIB
Diorama yang menggambarkan kekejaman PKI dapat dilihat di Museum Pengkhianatan PKI di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Yuk kita lihat.
Lubang Buaya di Cipayung, Jakarta Timur. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Lokasi Lubang Buaya memiliki makna historis tersendiri. Khususnya, usai peristiwa bersejarah gerakan 30 September yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI terjadi pada tahun 1965 silam.

Lubang Buaya tersebut berlokasi di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Sebenarnya, nama Lubang Buaya juga sudah ada sejak sebelum pertistiwa G30S/PKI tersebut. Nama tersebut dijadikan sebagai sebuah nama desa dan kelurahan di sana.

Namun, berdasarkan pemberitaan dari detikX, desa Lubang Buaya pada tahun 1965 tidak ramai seperti sekarang. Pasalnya, kondisi di Jakarta Timur saat itu masih berupa hutan karet dan kebun.

Di tambah lagi, hanya ada kurang lebih 13 rumah yang letaknya saling terpencar jauh di Desa Lubang Buaya. Tiap kawasan hanya dihuni oleh tiga rumah dengan satu sumur.

Lantas, apa makna penamaan Lubang Buaya sebagai daerah bersejarah peristiwa G30S/PKI tersebut?

Asal Usul Penamaan Lubang Buaya

Pertanyaan soal asal usul penamaan Lubang Buaya dapat dijawab melalui penelitian dari jurnal Local History & Heritage yang ditulis oleh Aqilah Afifadiyah Rahman memiliki sungai yang dihuni oleh buaya.

Tidak hanya buaya si hewan reptil saja yang mendiami wilayah tersebut, namun disebut-sebut ada buaya dari 'dunia lain' yang tidak kasat mata turut hadir di sana. Buaya ini disebut dengan siluman buaya putih.

Siluman buaya putih tersebut kemudian berhasil ditangani oleh salah seorang ulama bernama Pangeran Syarif atau Datok Banjir. Hal itulah yang menjadi asal-usul penamaan Lubang Buaya di wilayah tersebut.

"Buaya-buaya gaib itu dapat diatasi oleh ulama yang bernama Pangeran Syarif atau Datok Banjir. Maka sejak itulah daerah tersebut dinamakan sebagai Lubang Buaya," tulis penelitan dari Aqilah.

Hingga kemudian, warga setempat pun takjub dengan kemampuan sang ulama Pangeran Syarif. Mereka meyakini, Pangeran Syarif memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebab itu, mereka selanjutnya memanggil ulama tersebut dengan Datok Banjir.

Kegagalan Belanda Menguasai Lubang Buaya

Menurut penuturan salah satu narasumber dalam penelitian, pasukan Belanda pernah hendak memiliki keinginan untuk menguasai daerah Lubang Buaya. Namun, hasilnya nihil. Kegagalan tersebut diyakini mereka karena doa yang dipanjatkan oleh Datok Banjir.

"Dulu pasukan Belanda yang mau nguasain daerah sini tidak berhasil berkat doa yang dipanjatkan beliau," kata sang Narasumber.

"Waktu itu, sepenglihatan pasukan Belanda, daerah Lubang Buaya terlihat seperti lautan sampai akhirnya tidak jadi menyerbu kawasan Lubang Buaya," tuturnya lagi.

Hingga pada akhirnya, daerah Lubang Buaya dimanfaatkan sebagai tempat pembunuhan dan pembuangan 7 pahlawan nasional yang terdiri dari 6 perwira tinggi dan 1 perwira menengah TNI AD.

Para pahlawan nasional yang harus mengembuskan napas terakhir di daerah Lubang Buaya di antaranya adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, Brigjen DI Pandjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean.



Simak Video "Spanduk Jenderal Andika "Pro PKI" Bertebaran di Ibu Kota"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia