17 Kebiasaan Ini Disebut Bisa Merusak Otak, Benarkah?

Kristina - detikEdu
Senin, 13 Des 2021 15:15 WIB
Ilustrasi multitasking
Ilustrasi multitasking, salah satu kebiasaan yang disebut dapat merusak otak. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ada banyak kebiasaan sehari-hari yang disebut dapat merusak otak. Beberapa di antaranya tidak sarapan, banyak konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi, hingga kurang tidur. Benarkah demikian?

Otak merupakan organ vital pusat kecerdasan manusia yang terdiri dari milyaran saraf. Organ paling kompleks ini membutuhkan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup agar dapat bekerja dengan baik.

Kebiasaan yang disebut merusak otak

Namun demikian, ada beberapa kebiasaan yang diketahui dapat mengganggu sistem kerja otak. Berikut 17 kebiasaan sehari-hari yang disebut dapat merusak otak:

1. Kurang Tidur

Kurang tidur disebut dapat menyebabkan kerusakan otak. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam National Center for Biotechnology Information (NCBI) US National Library of Medicine, kurang tidur dalam hal ini diartikan sebagai pengurangan durasi tidur dari waktu yang dibutuhkan atau sleep deprivation (SD), di mana hal tersebut dapat menginduksi perubahan buruk dalam kinerja kognitif.

SD total diketahui dapat merusak konsentrasi dan memori kerja serta berpengaruh terhadap fungsi lain, seperti memori jangka panjang dan pengambilan keputusan. Sementara itu, SD parsial diketahui dapat berpengaruh pada kewaspadaan. Meski demikian, studi tentang efeknya terhadap fungsi kognitif masih kurang.

2. Multitasking

Sebuah penelitian dari University of London telah menunjukkan bahwa multitasking dapat menurunkan skor IQ untuk sementara hingga 15 persen. Sementara penelitian lain di Inggris menemukan bahwa multitasking yang tinggi berisiko merusak otak mereka secara permanen.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang multitasker memiliki kepadatan otak yang lebih sedikit di korteks cingulate anterior, wilayah yang bertanggung jawab untuk empati, serta kontrol kognitif dan emosional, dilansir dari Bestlife.

3. Melewatkan Sarapan

Sebuah penelitian di Jepang terhadap lebih dari 80.000 orang selama periode 15 tahun menemukan bahwa peserta yang secara teratur melewatkan sarapan meningkatkan risiko terkena stroke dan tekanan darah tinggi. Penulis penelitian mencatat bahwa tekanan darah turun setelah sarapan, yang berarti bahwa tidak melewatkannya dapat mengurangi risiko pendarahan otak.

4. Terlalu Banyak Asupan Gula

Sebuah studi pada 2011 menunjukkan hubungan yang kuat antara asupan gula dan fungsi kognitif pada peserta studi. Terlalu banyak gula diketahui dapat mengacaukan penyerapan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi. Padahal, otak membutuhkan nutrisi yang baik untuk tetap bekerja pada tingkat yang optimal.

5. Kurang Minum Air

Penelitian telah mengungkapkan bahwa periode dehidrasi yang berkepanjangan menyebabkan jaringan otak menyusut, dan mengganggu fungsi eksekutif seperti perencanaan dan pemrosesan visuospasial. Seperti daun tanaman tanpa air, sel-sel di otak tampak mengering dan berkontraksi ketika kekurangan cairan, menurut penelitian dari Harvard Medical School.

6. Banyak Konsumsi Lemak Jenuh

Sebuah studi Universitas Vanderbilt menemukan bahwa orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan berlemak mengembangkan cacat di otak, yang menghambat kemampuan seseorang untuk menyadari bahwa mereka kenyang.

7. Makan Terlalu Banyak Kalori

Sebuah studi tahun 2012 menunjukkan bahwa makan berlebihan dari waktu ke waktu dapat meningkatkan peluang seseorang akan mengalami kehilangan memori, atau gangguan kognitif ringan (MCI), di kemudian hari.

"Studi ini menyiratkan bahwa di usia lanjut, ketika Anda sudah berada pada peningkatan risiko gangguan kognitif-terutama karena penyakit Alzheimer-peningkatan asupan kalori dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif," jelas ahli saraf perilaku Dr. Gad Marshall.

8. Bekerja Ketika Sakit

Berbagai sumber menyebutkan bahwa memaksa otak untuk bekerja selama masa pemulihan tubuh dari kondisi sakit justru akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan rentan terhadap penyakit. Memaksa otak untuk bekerja atau belajar ini menjadi ide yang sangat buruk.

9. Menutup Kepala Saat Tidur

Oksigen merupakan hal yang sangat penting bagi fungsi otak. Menutup kepala saat tidur baik dengan selimut atau bantal dapat mengakibatkan pasokan oksigen dalam otak berkurang. Meski dapat mengurangi paparan cahaya dan suara, tetapi tidur dengan kepala tertutup menyebabkan peningkatan asupan karbon dioksida.

10. Jarang Berbicara dengan Orang Lain

Berbicara dengan orang lain merupakan salah satu bentuk stimulasi otak yang benar-benar bermanfaat. Pasalnya, memahami pikiran dan perasaan lawan bicara dapat membantu melatih respons terhadap rangsangan dan juga melatih keterampilan berbicara.

11. Terlalu Banyak Mendengarkan Musik Metal

Musik heavy metal cenderung membuat orang lebih agresif. Alunan nada yang keras memicu timbulnya renspons untuk melakukan headbaging, yakni gerakan kepala ke atas ke bawah sesuai dengan hentakan musik. Sebuah penelitian tentang headbanging yang diterbitkan di The Lancet membenarkan bahwa meskipun konser musik metal menyenangkan, tetapi beberapa penggemar berpotensi melakukan headbanging yang berlebihan.

12. Minum Beralkohol

Dalam sebuah penelitian di British Medical Journal, peneliti dari University of Oxford dan University College London melihat dampak konsumsi alkohol moderat pada otak. Para peneliti menemukan orang yang minum antara 15 dan 20 minuman standar per minggu tiga kali lebih berpotensi menderita atrofi hipokampus, kerusakan pada area otak yang terlibat dalam memori dan navigasi spasial.

13. Merokok

Kandungan nikotin dalam rokok diketahui dapat menyebabkan penyusutan otak. Penyusutan yang berkepanjangan dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.

14. Mengunyah Permen Karet

Sebuah studi dari tahun 2012 menunjukkan bahwa mengunyah permen karet sebenarnya dapat merusak memori jangka pendek untuk pesanan barang dan identitas barang. Para ilmuwan di Universitas Cardiff di Wales menemukan bahwa mengunyah permen karet membuat partisipan lebih sulit mengingat daftar kata dan angka sesuai urutan yang dilihat atau didengar. Selain itu, mereka menemukan bahwa orang kurang dapat menemukan item yang hilang dalam daftar.

15. Terlalu Banyak Jet Lag

Sebuah studi dari University of Bristol melakukan pengamatan terhadap otak 20 awak pesawat wanita yang secara teratur terbang di antara tujuh zona waktu yang berbeda. Studi, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience, menemukan bahwa jet lag kronis dapat menyebabkan atrofi lobus temporal dan berkurangnya kognitif spasial.

16. Terlalu Banyak Menonton Reality Show

Seorang psikiater, dr. Marcia Sirota mengatakan bahwa tayangan reality show adalah makanan cepat saji untuk otak, di mana hal tersebut dapat merusak otak dan membuat seseorang menjadi kasar.

Ahli saraf Jepang telah mendukung sudut pandang Sirota dengan menunjukkan bahwa menonton televisi dalam waktu lama mengubah struktur otak anak-anak, yang mendukung temuan beberapa penelitian sebelumnya tentang IQ verbal yang lebih rendah, serta peningkatan agresivitas.

17. Memilih Googling daripada Mencoba Mengingat

Dalam makalah 2011 yang berjudul Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips, hasil dari empat studi menunjukkan ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, orang-orang akan berpikir tentang komputer. Mereka memiliki tingkat yang lebih rendah untuk mengingat informasi itu sendiri dan meningkatkan daya ingat alih-alih ke mana harus mencari informasi.



Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia