Mengapa Manusia Mudah Gemas dengan Kucing? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Anatasia Anjani - detikEdu
Senin, 06 Des 2021 13:45 WIB
gambar kucing realistis
Foto: Haruki Kudo/Bored Panda/Ilustrasi Kucing
Jakarta -

Apakah kamu suka gemas dengan tingkah laku dan kelucuan kucing? Ternyata ada alasan ilmiah mengapa otak manusia tidak bisa menahan kelucuan kucing, lho.

Pada tahun 1940, ahli zoologi Austria dan ahli etologi Konrad Lorenz menyebutkan ada beberapa ciri-ciri tertentu yang termasuk ke dalam sisi imut (yang menyebabkan kucing menggemaskan).

Ciri-ciri tersebut adalah kepala besar, dahi tinggi, mata besar, hidung dan mulut kecil, dan pipi tembam.

Karakteristik dengan ciri tersebut juga dikenal dengan kindchenschema atau kinderschema. Maksudnya adalah bentuk kelucuan yang bisa diterjemahkan dalam bentuk bayi.

Jika melihat karakteristik imut dan lucu seperti yang disebutkan, maka ketika melihat bayi yang baru lahir dan memiliki karakteristik itu, otak secara tidak langsung akan memaksa kita untuk merawat bayi tersebut.

Nah, hal tersebut tidak hanya terjadi pada bayi manusia. Melainkan juga pada bayi binatang. Otak akan mengenali kinderschema pada bayi binatang.

Tidak hanya itu orang juga dapat mengenali hal lucu pada benda mati dengan karakteristik tersebut.

Bayi kucing atau bayi anjing sendiri sering diasosiasikan sebagai binatang terimut. Hal ini terlihat dari cat eye maupun puppy eye.

Kemudian pada tahun 2014, kelompok riset dari University of Portsmouth menemukan jika anjing secara aktif lebih sering mengangkat alis dan melebarkan mata mereka.

Perilaku tersebutlah yang dikenal sebagai puppy eye dan manusia kesulitan untuk menolak kelucuannya.

Dengan puppy eyenya, anjing akan lebih cepat menemukan rumah barunya dibandingkan mereka yang tidak mengeluarkan jurus maut kelucuannya.

"Studi kami menunjukkan bahwa gerakan wajah anjing telah berevolusi sebagai tanggapan terhadap preferensi manusia untuk karakteristik seperti anak," tulis pemimpin studi Bridget Waller yang dikutip dari laman CNNIndonesia.

Hal tersebut juga terjadi pada saat manusia melihat bayi panda.

"Berbeda dengan anjing yang dibiakkan menjadi lucu, panda adalah binatang yang lucunya tak disengaja. Seperangkat fitur yang kebetulan mengaktifkan aww-spot di otak kita," tulisnya.

Menurut Waller, kepala besar, hidung pesek, dan ilusi mata hitam yang besar akan merangsang sirkuit otak yang berhubungan dengan interaksi dengan bayi manusia.

Nah, itulah alasan ilmiah mengapa manusia seringkali gemas pada kucing. Sekarang sudah paham kan, detikers?



Simak Video "Ini Lego, Kucing Anies yang Hanya Memiliki Tiga Kaki"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia