Apa Sebutan Orang yang Menyampaikan Tabligh?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Kamis, 02 Des 2021 19:00 WIB
Anak-anak muslim Kashmir tetap belajar Alquran di tengah pandemi corona ini. Begini potret anak-anak kashmir belajar alquran di bulan Ramadhan.
Ilustrasi/Orang yang menyampaikan tabligh disebut mubaligh. (Foto: AP Photo/Dar Yasin)
Jakarta - Tabligh merupakan salah satu sifat wajib yang dimiliki para rasul. Dalam bahasa Arab, orang yang menyampaikan tabligh disebut mubaligh, bila yang bersangkutan adalah seorang laki-laki. Sementara untuk perempuan disebut mubalighah.

"Orang yang menyampaikan dalam istilah tabligh disebut mubaligh (laki-laki) dan mubalighah (perempuan)," tulis Muh Akbar Nasrullah dalam buku Khusus Pemuda Keren.

Untuk asal katanya, tabligh berasal dari kata Balagha-Yuballighu-Tablighan yang bermakna menyampaikan atau memberi tahu secara lisan. Hal yang disampaikan dalam konteks tabligh ini bukanlah perkara yang sembarangan.

Melainkan, hal-hal penting dan bermanfaat untuk meraih kebaikan dalam hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk itulah, tabligh ini merupakan salah satu sifat wajib para rasul sebagaimana yang termaktub dalam QS. Ali Imron ayat 104,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Menjadi orang yang menyampaikan tabligh, dapat membantu dakwah Islam mengenai ajaran-ajaran yang sesuai dengan Al Quran dan hadits menjadi lebih tersebar luas ke berbagai belahan dunia.

Seba itu, sebenarnya dakwah dengan tabligh ini bukan hanya menjadi kewajiban para rasul. Namun, hal ini juga berlaku bagi seluruh umatnya yang telah mampu menyampaikan kebenaran Islam sesuai dengan syariat. Salah satu hadits Rasulullah SAW berbunyi,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Artinya: Dari 'Abdullah bin 'Amr dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat," (HR Bukhari).

Menurut dosen KPI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Samian Hadisaputra dalam tulisan jurnalnya, orang yang menyampaikan tabligh atau mubaligh setidaknya harus memegang dua prinsip etika dakwah. Prinsip yang pertama adalah prinsip teologis atau kewahyuan, kemudian prinsip kemanusiaan atau landasan sosiologis.

Prinsip Etika Dakwah Seorang Mubaligh

  • Prinsip Teologis

Artinya, landasan utama dalam etika dakwah Islam adalah perintah yang bersumber dari Allah SWT. Seorang mubaligh harus selalu memegang teguh etika yang bersumber dari Al Quran hadits, serta kesepakatan-kesepakan para ulama (ijma').

  • Prinsip Kemanusiaan

Aspek kemanusiaan selalu digandengan dengan perintah Allah SWT sebagaimana pula dikenal adanya hubungan sesama manusia (habluminannas). Rasulullah SAW dalam dakwahnya pun menjunjung tinggi aspek ini dengan berwatak sabar, penyayang, dan lemah lembut dalam menyampaikan risalahNya.

Dengan demikian, orang yang menyampaikan tabligh tidak akan merasa tinggi meskipun ilmunya lebih dari cukup dari orang yang hendak disampaikan dakwah kepadanya.

Simak Video "Tarif Dakwah Digadang Capai Rp 3 Miliar, Ini Respons Gus Miftah"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia