Mengenal Spesies Dugong dan Populasinya yang Hampir Punah

Kristina - detikEdu
Kamis, 18 Nov 2021 16:16 WIB
Dugong
Foto: Dok. NAM Air
Jakarta - Dugong merupakan salah satu mamalia laut yang hampir punah. Ia termasuk hewan dengan masa hidup cukup panjang, mencapai 70 tahun.

Dari segi morfologi, dugong rata-rata memiliki panjang sekitar 2,4-3 meter dengan berat 230-930 kilogram. Hewan ini memiliki sirip dengan panjang mencapai 35-45 cm. Kulitnya tebal, keras, namun permukaannya halus. Seluruh bagian tubuhnya tertutupi oleh rambut-rambut pendek, dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

Dugong termasuk hewan herbivora. Dalam kesehariannya, ia menghabiskan waktu untuk mencari makan di padang lamun, sebuah ekosistem khas laut dangkal (wilayah perairan hangat) yang ditumbuhi rerumputan. Jenis lamun yang dikonsumsi dugong berasal dari genus halodule, halophila, dan cymodocea.

Melansir Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, dugong pertama kali diklasifikasikan oleh Műller pada tahun 1776 dengan nama Trichechus dugon. Nama tersebut kemudian diubah oleh Lacépède menjadi Dugon dugon.

Berikut klasifikasi dugong:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Class : Mamalia
Ordo : Serenia
Family : Dugongidae
Genus : Dugong
Species : Dugong dugon

Dugong memiliki usia yang panjang sekitar 40 hingga 70 tahun. Umumnya, dugong akan bereproduksi pada usia 10-17 tahun. Pada keadaan tertentu, dugong dapat bereproduksi mulai 6 tahun.

Usia kehamilan dugong sekitar 13-15 bulan. Dugong betina hanya bisa melahirkan satu anak untuk satu kali kehamilan. Bayi dugong berukuran 1,1-1,2 meter dengan berat mencapai 27-35 kilogram. Bayi tersebut akan menyusu hingga usia 14-18 bulan.

Populasi Dugong

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memasukkan dugong ke dalam daftar spesies yang rentan terhadap kepunahan. Jangkauan dugong mencakup 48 negara di pesisir tropis dan subtropis dan perairan pulau antara Afrika timur dan Vanuatu di Oceania.

Dugong tersebar di beberapa wilayah Indonesia meliputi Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, pantai selatan Jawa Timur, hingga Sumatera.

Seorang ilmuwan asal University of the Ryukyus, Masaharu Nishiwaki, menyebut total populasi dugong di seluruh dunia mencapai 30.000 individu. Ini merupakan perkiraan kasar yang ia lakukan untuk pertama kalinya, sebagaimana dipublikasikan dalam laporan Institute of Cetacean Research tahun 1979.

Dalam laporannya, IUCN menyebut populasi dugong yang tersisa kini semakin berkurang. Dugong sangat rentan terhadap gangguan antropogenik karena umurnya yang panjang dengan rentang hidup 70 tahun atau lebih dan tingkat reproduksi yang lambat.

Populasi di seluruh dunia telah mengalami eksploitasi berlebihan terutama karena penangkapan langsung untuk diambil dagingnya, kulitnya dan minyaknya, dan juga karena hilangnya habitat (pendangkalan padang lamun).

Selain itu, ancaman paling signifikan dari dugong adalah kematian akibat jaring insang yang menjerat mereka sebagai bycatch. Polusi, lalu lintas kapal, dan perburuan ilegal juga menjadi penyebab kematian dugong.

Di Indonesia sendiri, dugong telah ditetapkan oleh KKP sebagai 20 spesies prioritas yang perlu perlindungan. Sebagai upaya pelestarian, pada 2017 silam, pemerintah Indonesia bergabung dengan Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Sri Lanka, Timor Leste, dan Vanuatu dalam proyek Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP).

Simak Video "Dugong Terdampar Berhasil Dievakuasi, Tubuh Dipenuhi Luka"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia