Kenapa Bulan Safar Dianggap Bulan Sial oleh Arab Jahiliah?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Rabu, 17 Nov 2021 05:36 WIB
Arabs, Middle East, Culture - Three Arab men walking behind each other on the sand dunes
Ilustrasi Muslim di Arab, Kenapa Bulan Safar Dianggap Bulan Sial oleh Arab Jahiliah? Foto: Getty Images/GCShutter
Jakarta - Safar adalah bulan kedua setelah bulan Muharram dalam kalender Islam atau kalender hijriah. Secara bahasa, safar artinya kosong dalam bahasa Arab. Ternyata makna kata ini menjelaskan kebiasaan orang-orang Arab jahiliah hingga menyebut bulan Safar sebagai bulan yang sial.

Safar biasa digunakan untuk menjelaskan kebiasaan orang-orang Arab zaman dahulu, tepatnya saat mereka pergi meninggalkan kediaman atau rumah mereka. Baik saat melakukan perjalanan jauh atau pun saat pergi berperang seperti yang dikutip dari buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah.

"Kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong) untuk berperang atau berpergian jauh," tulis Ida Fitri Shohibah.

Sebab itu, kata safar dalam bentuk safarah yang mufradnya safir kerap kali erat dikaitkan untuk menjelaskan sebuah gerakan dan perpindahan. Lantas, kenapa bulan Safar dianggap sebagai bulan sial oleh Arab Jahiliah?

Sebelum Islam datang, orang-orang Arab jahiliah percaya bahwa kata safar diambil dari nama suatu jenis penyakit. Penyakit ini disebut merupakan salah satu penyakit yang bersarang di dalam perut akibat adanya sejenis ular yang berbahaya.

Hal inilah yang membuat para Arab jahiliah menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan keburukan. Mereka bahkan menganggap bulan Safar adalan bulan di mana Allah menurunkan hukuman kepada manusia.

Sebagaimana dikutip dari sumber buku sebelumnya, salah satu kepercayaan yang diyakini oleh Arab jahiliah terkait bulan safar yakni pelarangan pelaksanaan pernikahan.

"Dalam sejarahnya orang Arab jahiliah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar. Keyakinan lainnya, yaitu tidak boleh melakukan pernikahan, khitan, atau semisalnya pada bulan Safar," tulis buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah.

Hingga akhirnya Islam datang dan Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk mengabarkan kebenaran bagi orang-orang Arab jahiliah tersebut. Tindakan orang Arab jahiliah itu pula disebut dengan tathayyur dalam Islam.

Dalam suatu hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah menjelaskan mengenai kepercayaan bulan Safar yang membawa sial tersebut, ia bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

Artinya: "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar," (HR Bukhari no. 5437, Muslim no. 2220, Abu Dau no. 3911, dan Ahmad no II/327).

Bahkan dalam Al Quran pun dijelaskan bahwa segala bencana, petaka atau kesialan dapat terjadi jika Allah SWT berkehendak. Perkara tersebut tidak hanya terjadi di bulan safar.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At Taghabun: 11).

Jadi, keyakinan makna safar berhubungan dengan penyakit tertentu membuat orang-orang Arab jahiliah memiliki kepercayaan tersebut. Padahal, safar artinya adalah kosong atau rumah yang dikosongkan karena mereka memilih bepergian di bulan ini daripada tinggal di rumah saat bulan Safar.

Bahkan peristiwa penting dalam Islam juga terjadi pada Safar. Salah satunya saat Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dan menikah dengan Khadijah binti Khuwailid RA.

Simak Video "Bagaimana Bulan Terbentuk?"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia