Contoh Cerita Inspiratif, Pengertian, Struktur, dan Ciri-cirinya

Puti Yasmin - detikEdu
Selasa, 16 Nov 2021 16:30 WIB
ilustrasi menulis surat
Foto: thinkstock
Jakarta - Dalam pelajaran bahasa Indonesia, cerita inspiratif menjadi salah satu materi yang dipelajari. Agar lebih memahaminya, detikers bisa pelajari contoh, pengertian, hingga ciri-cirinya di sini.

Cerita Inspiratif


  • Pengertian

Dikutip dari 'Materi Umum Bahasa Indonesia SMP' terbitan Puri Cipta Media, cerita inspiratif adalah jenis teks narasi yang menyajikan suatu inspirasi keteladanan kepada banyak orang. Cerita itu bisa menggugah atau menginspirasi seseorang untuk berbuat baik.

Adapun, cerita inspiratif juga sering disebut sebagai 'cerita keteladanan' atau 'cerita penuh hikmah'.

  • Struktur

Struktur cerita inspiratif terdiri dari beberapa hal, seperti di bawah ini:

-Orientasi, berisi pengenalan peristiwa, tokoh, maupun latar cerita
-Komplikasi berisi cerita tentang masalah yang dialami tokoh utama, seperti konflik atau pertentangan dengan tokoh lain
-Resolusi, menceritakan penyelesaian dari masalah yang dialami tokoh
-Koda, berisi bagian akhir dari suatu cerita, biasanya berupa ulasan hikmah atas peristiwa yang dialami tokoh utama.

  • Ciri-ciri Cerita Inspiratif

Sama seperti cerpen, penulisan cerita inspiratif juga menggunakan bahasa sehari-hari. Adapun, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

-Menggunakan ungkapan-ungkapan yang bernada saran atau erusatif, seperti hendaknya, sebaiknya, jangan
-Menggunakan kata kerja tindakan, seperti mengembara, memberi, menggapai-gapai, melompat, berjalan, berlari
-Menggunakan kata kerja yang menggambarkan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan para tokohnya, seperti membisu, mengeluh, mengerang
-Menggunakan kata-kata yang menggambarkan keadaan atau sifat tokohnya, seperti bingung, lapar, sombong
-Menggunakan kata ganti orang ketika (tunggal atau jamak)
-Menggunakan dialog.

"Oleh-oleh Papa" oleh Laras Ayu

"Ini oleh-oleh buat Kania," kata Papa sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas berwarna cokelat. Papa baru pulang dari Kanada. Sebagai seorang wartawan di majalah wisata, Papa sering berpergian, mulai dari pulau-pulau kecil di Indonesia hingga ke luar negeri.

"Terima kasih, Pa," sahut Kania tak bersemangat.
"Buka, dong, Kania. Mama mau lihat," ujar Mama.

Kania menyobek kertas pembungkusnya dengan perlahan. Tanpa melihat isinya, dia sudah tahu isi bungkusan mungil itu. Papa selalu membawa bungkusan serupa setiap kali pulang dari tugasnya.

Benar, kan, sebuah magnet kulkas berbentuk daun, seperti simbol pada bendera Kanada.

"Kania tempelkan di kulkas, ya. Bertambah, deh, koleksi kita," jara Papa senang. Kania mendengus kesal. Kulkas dua pintu di rumah mereka sudah penuh sesak dengan magnet berbagai bentuk dan warna. Herannya, Papa selalu tahu kalau ada yang hilang. Meski papa menyukainya, bukan berarti Kania juga suka.

"Bagus sekali," komentar Mama. Kania melihat sekilas magnet itu. Daun bercabang tiga, seperti itu sama sekali tidak menarik baginya.

"Kok, diam saja? Kania nggak suka" tanya Papa.

Kian melirik Pap. Sudah berkali-kali Kania bilang, ingin oleh-oleh lain, seperti teman-temannya ketika orang tuanya pergi. Tapi, Papa tetap saja membawakan magnet kulkas lagi.

"Kenapa, sih. Papa selalu memberi oleh-oleh magnet? Kania ingin oleh-oleh yang lain, Pa. Kania minta tas." Kania tak tahan lagi, "Magnet bukan benda yang bisa dibanggakan di sekolah. Semua orang juga punya magnet kulkas," pikir Kania.

Papa terkejut menatap Kania dan Papa tak mengira kalau Kania sungguh-sungguh meminta tas dan boneka.

"Maafkan Papa, ya. Tas Kania kan masih banyak dan bagus-bagus. Papa pikir, Kania tidak butuh tas," Papa memberikan alasan. "Tapi...kalau Kania benar-benar ingin tas, nanti kita beli, ya," bujuk Papa.

Kania menggeleng kepalanya. Ia sudah terlanjur kesal.

"Nggak suah!" teriaknya. "Kania cuma mau tas dari Kanada!"

Kania berlari ke dalam kamar, Kania tak tahu, Papa memandangnya dengan hati kecewa.

Hari minggu sore, Mila, sepupu Kania datang. Ayah Mila sudah meninggal beberapa bulan lalu.

"Koleksi magnetmu bertambah banyak, Nia. Om Luki pasti semakin sering tugas luar, ya?" tanya Mila sambil mengamati magnet-magnet itu.

"Iya," jawab Kania pendek. Dia enggan bicara soal magnet. Magnet kulkas mengingatkan pada peristiwa beberapa hati yang lalu. "Main yuk. Aku punya games baru di komputer."

Mila malah mengelus magnet-magnet itu satu per satu, seperti mengelus benda berharga.

"Kamu kenapa, sih? cetus Kania tak sabar. "Itu, kan magnet biasa."
"Tiap kali lihat magnet-magnet itu, aku jadi ingat Ayah," bisik Mila.

"Ayah juga suka mengoleksi magnet. Padahal, magnet-magnet itu tidak ada yang dibelinya sendiri. Ayah mendapatkannya dari teman-temannya."

Kania ingat ayah Mila yang sudah meninggal. Dia bekerja sebagai akuntan. Mereka sekeluarga jarang bepergian.

"Belum sempat Ayah bepergian ke tempat-tempat yang diimpikannya itu, Ayah sudah meninggal," desah Mila sedih.

Kania menggenggam tangan Mila. Dia ikut sedih mendengar perkataan Mila.

"Semoga aku bisa mewujudkan impian Ayah, ya, Kania. Ayah selalu bilang, impiannya adalah melihat dunia. Mungkin aku belum bisa pergi ke tempat-tempat itu sekarang. Tapi, aku bisa belajar dari magnet-magnet itu," kata Mila.

Kania terdiam. Perkataan Mila pernah didengar dari Papa. Tiba-tiba perasaan bersalah menyelinap di hatinya. Papa mungkin ingin Kania belajar banyak hal dari magnet-magnet itu. Tapi Kania tidak menghargai usaha Papa membawakan hadiah kecil itu.

"Kamu tahu daun apa ini?" Mila menunjuk magnet baru Papa. Kania menggeleng.

"Ini adalah daun mapel. Daun ini hanya ditemukan di negara empat musim. Daun ini menjadi simbol dalam bendera Kanada karena melambangkan kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, dan kesetiaan."

Mulut Kania menganga. "Wow, hebat banget kamu, tahu sejarahnya."

"Kania," Papa memanggil.

Kania menoleh. Papa membawa sebuah plastik berukuran besar. Entah ke mana Papa pergi seharian.

"Maaf, ya. Papa tidak membelikanmu tas dari Kanada seperti yang Kania inginkan. Papa belikan ini semoga Kania suka," ujar Papa.

Kania membuka plastik itu. Sebuah tas berwarna ungu yang bagus. Kania tahu harga tas itu pasti mahal. Tiba-tiba, mata Kania terasa hangat.

"Pa..., terima kasih. Maaf, ya," Kania memeluk Papa.

"Lho, kenapa Kania?" tanya Papa tak mengerti.

"Kania menyesal. Sekarang Kania tahu magnet itu oleh-oleh yang sangat berharga." Papa mengelus rambut Kania.

Semoga contoh cerita inspiratif di atas bisa membuat detikers semakin paham ya!

Simak Video "Dedikasi Guru Tunarungu, Mengajar 'Sunyi' Selama 15 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia