Kapan Agama Terbesar di Dunia Masuk Indonesia? Begini Sejarahnya

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 10 Nov 2021 19:30 WIB
Saat ini pemerintah Arab Saudi telah membuka kembali untuk umroh dan haji di jamaah negara internasional. Tetapi tidak semua negara bisa masuk karena alasan tertentu dan jenis vaksin yang tidak diakui oleh Saudi Arabia. Lalu bagaimana nasib  para jamaah umroh dan haji Indonesia?
Foto: Getty Images/Kapan Agama Terbesar di Dunia Masuk Indonesia? Begini Sejarahnya
Jakarta -

Agama adalah sistem kepercayaan atau pemujaan pada kekuatan yang lebih tinggi. Di dunia ini, ada lebih dari empat ribu agama dan yang terbesar adalah Kristen.

Menurut World Population Review, pemeluk agama Kristen mencapai 33 persen total populasi dunia atau mencapai hampir 2,4 miliar orang. Hal itu membuat Kristen menjadi agama terbesar di dunia.

Sejarah Masuknya Agama Terbesar di Dunia ke Indonesia

Melansir dari tulisan berjudul Early Signs of Christianity in Indonesia oleh Josef Glinka dari jurusan Antropologi Universitas Airlangga, setelah Kenaikan Isa Almasih, Kekristenan kemudian berkembang dari Yerusalem ke berbagai penjuru, baik di dalam Kekaisaran Romawi maupun di luarnya.

Terdapat pandangan umum di mana agama terbesar di dunia tersebut dibawa ke Indonesia oleh pedagang Portugis pada abad ke-16. Tetapi, sumber utama mengenai proses masuknya Kristen ke Indonesia ada di buku Syekh Abu Salih al-Armini yang tinggal di Mesir.

Dikatakan oleh Bakker (1974) seperti dilansir Early Signs of Christianity in Indonesia, buku Syekh Abu Salih al-Armini yang berjudul 'Tadhakkur fiha
akhbar min al-kana'is wa'l-adyar w'al iqtha'aihu' seperti sebuah ensiklopedia yang berisi informasi mengenai 707 gereja Kristen dan 181 biara di Mesir, Nubia, Abessinia, Afrika Timur, Spanyol, Arab, India, dan Indonesia. Buku tersebut tak hanya berisi penjelasan, tetapi juga banyak gambar dari bangunan-bangunan yang disebutkan di dalamnya.

Perlu diketahui juga, ada perdebatan soal seberapa jauh informasi Abu Salih bisa diandalkan. Namun, Kraus (1968) menyebutkan banyak penggalian arkeologi di Mesir pada tahun 1963-1964 mengkonfirmasi Abu Salih.

Pada sumber yang lebih lampau, ada sebuah surat uskup Ishoyabh di tahun 650 sesudah Masehi yang merujuk tentang keuskupan di Kedan dan Malaka, serta penduduk Kristen di pulau-pulau sebelah Selatan Malaka. Lokasi itu merujuk pada kawasan Asia Tenggara dan waktu itu merupakan awal Kerajaan Sriwijaya (abad 7-14).

Munoz (2006) mengatakan, orang-orang China menyebut daerah itu sebagai Sanfotsi atau San Fo Qi. Lalu, masing-masing dalam bahasa Sansekerta dan Pali disebut sebagai Yavadesh dan Javadeh. Sementara, orang Arab memanggilnya sebagai zabag. Dan orang Khmer memanggilnya Melayu.

Dari segala sumber, maka publikasi Early Signs of Christianity in Indonesia menyimpulkan, di abad ke-7 ada umat Kristen di Pancur, yang sekarang merupakan Kota Barus, Sumatra. Di abad ke-8 masa Kerajaan Sriwijaya, ada seorang uskup agung dan dua uskup, tetapi belum ada kejelasan mereka tinggal di mana. Diperkirakan, mereka berada di Kala, Malaka, dan Palembang.

Di samping itu, belum dapat dipastikan pula seberapa besar komunitas Kristen di Sumatra zaman itu. Namun, pada waktu itu banyak berdiri gereja yang mengindikasikan bahwa ada cukup banyak pemeluk Kristen di Sumatra. Sebagian nama gereja tersebut masih dikenal hingga sekarang dalam tradisi lisan.

Dalam sejarahnya, agama Kristen meluas dari Sumatra ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bakker (1974) mengatakan, Portugis menemukan sebuah komunitas Kristen di Nusantara sebelum adanya ekspansi Islam.

Itulah sejarah masuknya agama terbesar di dunia ke Indonesia, detikers.



Simak Video "Suasana Kepanikan Warga Saat Temukan Benda Mencurigakan di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia