Sejarah Banjir di Jakarta dari Masa VOC hingga Gubernur Anies, Apa Penyebabnya?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 09 Nov 2021 12:00 WIB
Banjir merendam kawasan Pela Mampang usai Jakarta diguyur hujan sejak siang hari. Tak sedikit warga yang nekat menerjang banjir agar dapat beraktivitas.
Banjir di Jakarta Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Jakarta - Banjir di Jakarta bukanlah hal yang baru karena hampir terjadi setiap musim hujan. Terendamnya wilayah Jakarta oleh banjir yang tercatat dalam sejarah sudah ada sejak zaman kerajaan hingga kini saat menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Sumber-sumber tertulis menyebut Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara memerintahkan penggalian kanal menuju ke laut untuk mengatasi banjir di kawasan yang kini bernama Jakarta.

Banjir Jakarta Zaman Kerajaan Tarumanegara

Melansir buku "Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe" oleh Zaenudin HM, banjir di Kota Jakarta tercatat pernah terjadi pada zaman Kerajaan Tarumanegara pimpinan Raja Purnawarman pada abad ke-5.

Bukti banjir yang terjadi zaman Tarumanegara ditemukan pada tahun 1878 melalui Prasasti Tugu di daerah Jakarta Utara dan sekarang disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Dari prasasti ini didapat bukti otentik bahwa Jakarta sudah kebanjiran sejak berabad-abad silam.

Prasasti Tugu tersebut mengungkap petunjuk mengenai kehidupan di Jakarta pada zaman Kerajaan Tarumanegara, termasuk mengenai banjir. Penyebabnya, saat itu sistem drainase belum begitu baik sehingga ketika diguyur hujan deras air menggenang dan beberapa kanal atau sungai meluap.

Untuk mengatasi hal tersebut, terungkap dalam prasasti bahwa Raja Purnawarman pernah membuat proyek menggali Kali Chandrabhaga (Bekasi) dan Gomati (Tangerang) sepanjang 24 kilometer untuk mengatasi banjir.


Banjir Jakarta Zaman VOC


Pada tahun 1600-an, tepatnya saat Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC, Jakarta juga pernah dilanda banjir. Penyebabnya ialah meluapnya rawa dan sungai-sungai di Batavia saat diguyur hujan deras.

Dalam catatan sejarah, JP Coen kemudian membangun sejumlah kanal dan Kali Ciliwung untuk mengatasi banjir tersebut. Namun, usahanya gagal dan Batavia dulu pada akhirnya tetap diterjang banjir.

Tak hanya itu, pada tahun 1918 banjir besar juga terjadi Jakarta. Saat itu, pemerintahan di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal VOC Johan Paul van Limburg Stirum.

Kemudian pada tahun 1920, Johan Paul van Limburg Stirum membuat rencana membangun sebuah kanal yakni Kanal Banjir Barat di sepanjang Pintu Air Manggarai hingga Muara Angke.


Banjir Jakarta Tahun 1960 hingga 1970

Setelah kemerdekaan pun Jakarta masih berurusan dengan banjir yang kembali datang. Pada tahun 1965, pemerintah era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin membentuk Komando Proyek Pencegahan Banjir.

Komando tersebut kemudian berganti nama menjadi Proyek Pengendalian Banjir Jakarta Raya tahun 1972. Saat itu, Ali Sadikin bekerja sama dengan pihak Netherlands Engineering Consultants untuk membangun sebuah waduk dalam kota.

Tak hanya itu, untuk mengatasi banjir juga dibangung sejumlah saluran baru seperti saluran Cengkareng dan Cakung.


Banjir Jakarta Tahun 2000-an

Memasuki tahun 2000-an hingga sekarang, banjir di Jakarta masih terjadi. Bahkan ketika curah hujan tinggi, beberapa wilayah di Jakarta berpotensi mengalami kebanjiran.

Sejak kepemimpinan Gubernur Sutiyoso hingga Anies Baswedan, perbaikan sistem drainase dan kanal terus dilakukan. Meski bisa dikatakan berkurang, namun dalam catatan hingga tahun 2020, banjir besar masih terjadi di Jakarta dan menyebabkan banyak kerugian.

Selain curah hujan, penyebab lain banjir di Jakarta sebenarnya ialah karena adanya sampah yang terbuang sembarangan di berbagai sungai atau kanal. Perilaku semacam ini menimbulkan dampak yang tak berkesudahan dalam sejarah banjir di Jakarta dari masa ke masa.

Simak Video "Anies Klaim Banjir di Jakarta 18 Januari Bisa Ditangani Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia