Ada 400 Cerita Budaya Spiritual di Kawasan Borobudur, Bisa Jadi Wisata Sejarah

Eko Susanto - detikEdu
Selasa, 09 Nov 2021 11:30 WIB
Suasana Sarasehan Hasil Identifikasi Budaya Spiritual Kawasan Candi Borobudur di Balkondes Ngargogondo
Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), menemukan sekitar 400-an cerita budaya spiritual yang tersebar di 20 desa kawasan Borobudur. Diharapkan temuan ini nantinya bisa memecah kunjungan wisatawan bukan hanya konsentrasi di Candi Borobudur, melainkan tersebar di beberapa kawasan.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud Ristek, Sjamsul Hadi mengatakan, temu kenal budaya spiritual di kawasan Candi Borobudur yang melibatkan 20 desa merupakan tindaklanjut dari amanat UU pemajuan kebudayaan. Kemudian khusus di kawasan Borobudur terkait dengan destinasi super prioritas melakukan dua penguatan.

"Upaya temu kenal, budaya spiritual di kawasan Candi Borobudur yang melibatkan 20 desa disini tindak lanjut dari amanat UU Pemajuan Kebudayaan. Nah khusus di kawasan Candi Borobudur ini yang bertepatan dengan destinasi super prioritas nasional, kita Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek itu mengupayakan penguatan dari dua sisi, yaitu yang menjadi prioritas sumber daya manusia karena dengan upaya temu kenal ini yang identifikasi dari budaya spiritual di tiap desa itu dilakukan oleh pemuda-pemudi," katanya kepada wartawan di sela-sela Sarasehan Hasil Identifikasi Budaya Spiritual Kawasan Candi Borobudur di Balkondes Ngargogondo, Senin (8/11/2021).


Adapun 400 cerita budaya spiritual yang berada di kawasan Borobudur tersebut tersebar di 20 desa yang ada. Kemudian, 400-an cerita budaya spiritual tersebut telah didokumentasikan yang nantinya sebagai upaya kemajuan desa kebudayaan.

"Melalui upaya temu kenal ini mengidentifikasi kembali dengan upaya dokumentasi, dari kegiatan-kegiatan konkritnya dan juga dokumentasi siapa-siapa saja sesepuhnya yang nanti menjadi narasumber. Dengan sudah tersusunnya identifikasi budaya spiritual ini juga akan mempercepat upaya-upaya kemajuan desa kebudayaan," tuturnya.


"Desa pemajuan kebudayaan itu sehingga melalui program-program dua sisi ini penguatan dari potensi budaya spiritualnya dan juga dari sisi penguatan sumber daya di sebuah kemasan untuk langkah-langkah konkrit percepatan desa pemajuan kebudayaan. Selain potensi alam juga potensi lingkungan di tiap-tiap desa pasti ada hal-hal yang prioritas," ujar Sjamsul.

Pihaknya berharap dengan sarasehan tersebut nantinya masing-masing desa melakukan rembug desa. Hal ini mengingat identifikasi yang dilakukan sekarang ini belum sempurna, kemudian pada tahun 2022 nantinya pemanfaatan serta pengembangannya.

Suasana Sarasehan Hasil Identifikasi Budaya Spiritual Kawasan Candi Borobudur di Balkondes NgargogondoSuasana Sarasehan Hasil Identifikasi Budaya Spiritual Kawasan Candi Borobudur di Balkondes Ngargogondo Foto: Eko Susanto/detikcom

"Dengan sarasehan identifikasi budaya spiritual di kawasan Candi Borobudur ini diharapkan tiap-tiap kepala desa melakukan rembug desa. Dari hasil ini, mau dibuat apa, terus dikemanakan, jadi upaya pengembangan dan pemanfaatannya bagaimana, karena dari identifikasi ini belum sempurna sekali. Nah oleh karena itu, kami kembalikan ke masing-masing desa untuk pengembangan dan pemanfaatannya gimana sehingga di 2022 itu nanti sudah terbangun sebuah ekosistem, harapannya tiap-tiap desa itu kegiatan yang ada itu sudah terbangun," ujar dia.


"400 cerita. Dalam diskusi sudah disampaikan sebagai penyangga (20 desa). Jadi tidak terfokus kunjungan itu di Borobudurnya, tapi di kawasannya justru yang lebih menarik, selain Borobudurnya yaitu di wilayah kawasannya," katanya.

Sementara itu, Ketua Eksotika Desa, Panji Kusuma menambahkan, Borobudur menjadi kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) banyak program yang masuk. Kemudian, khususnya Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, merasa penting untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal.

"Karena percepatan pembangunan ini sangat masif diharapkan dari Kemendikbud khususnya Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat itu merasa penting untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal. Menggali nilai-nilai budaya spiritual. Jadi, jati dirinya masyarakat Jawa di 20 Desa di Borobudur itu seperti apa. Kemudian bagaimana mereka menjaga hubungan baik dengan Tuhannya, dengan alam dan sesama manusia itu yang diharapkan bisa digali, dimunculkan dan menjadi pondasi untuk mengisi pembangunan kawasan Borobudur," kata Panji.

Panji mengatakan, identifikasi yang dilakukan dua bulan pada sura dan sapar menemukan 400-an cerita budaya spiritual. Diyakini masih banyak lagi cerita budaya spiritual lainnya.

"Ternyata di 20 desa itu, kita menemukan sekitar 400-an cerita budaya spiritual dan itu belum semua. Identifikasi ini baru dilakukan 2 bulan, sura sama sapar (kalender Jawa). Itupun suro dan sapar, belum semua karena 40 tim desa dari 20 desa itu kan juga baru pemanasan. Dari sekian banyak budaya spiritual baru sebagian yang ditemukan," ujarnya.

"Ragam budaya spiritual itu dirangkum dalam buku, kemudian peta budaya spiritual masing-masing desa. Yang tadinya dirasa sudah tidak ada dan mulai ditinggalkan ternyata masih dilakukan oleh masyarakat. Kami dari Eksotika Desa ini kan hanya memfasilitasi, mendorong dan menemani masyarakat. Kemudian yang lain juga pengen dikembangkan untuk pengembangan ekonomi lokal. Jadi wisata misalnya. Itu ternyata hasil temu kenal ini menarik untuk menjadi paket wisata budaya spiritual," pungkasnya.



Simak Video "Heboh Wisata Borobudur Haram, Wagub Jateng: Agama Saya Boleh"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia