Mengupas Unsur-unsur Cerita Fantasi: Ciri Kebahasaan dan Contohnya

Olivia Sabat - detikEdu
Selasa, 19 Okt 2021 10:30 WIB
Siswa belajar secara daring dengan memanfaatkan fasilitas wifi gratis di perpustakaan desa.
Ciri kebahasaan cerita fantasi serta contohnya (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta - Cerita fantasi memang paling asyik dibaca untuk mengisi waktu luang. Jika kamu tertarik untuk menulis cerita fantasi, simak unsur-unsur cerita fantasi dalam artikel ini, yuk.

Cerita fantasi adalah cerita imajinatif atau khayalan yang menceritakan suatu rangkaian peristiwa dengan ciri perilaku tokohnya tidak ada dalam kehidupan nyata atau merupakan imaji pengarang.

Cerita fantasi memiliki ciri-ciri:

1. Imaji bukan kejadian nyata, ceritanya dapat berupa hal-hal yang gaib atau tidak nyata dan misterius.

2. Cerita dibangun berdasarkan khayalan penulis yang melampaui batas ruang dan waktu.

3. Tokoh pelaku dalam cerita fantasi memiliki kelebihan atau kesaktian dibandingkan tokoh cerita pada umumnya.

4. Mengandung kejadian unik atau aneh.

5. Memiliki ragam bahasa yang variatif, ekspresif, dan bukan bahasa formal.

Jenis-jenis Cerita Fantasi

Mengutip Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas 7 yang ditulis oleh Heriyanto, jenis-jenis cerita fantasi dikelompokkan berdasarkan kesesuaian dengan kehidupan dan latar belakang.

Berdasarkan kesesuaian kehidupan, jenis cerita fantasi dibagi menjadi dua, yaitu

1. Fantasi Total

Jenis cerita fantasi total merupakan cerita yang semua kejadian dan tempat peristiwanya merupakan rekayasa pengarang dan tidak terjadi dalam dunia nyata.

2. Fantasi Irisan

Merupakan cerita fantasi yang menggabungkan dunia fantasi dan dunia nyata. Nah, berdasarkan latar belakang cerita, cerita fantasi dibagi menjadi:

  • Latar lintas waktu

Memadukan dua latar waktu, yaitu waktu masa sekarang dan masa lalu, atau memadukan masa sekarang dengan masa yang akan datang.

  • Latar waktu sezaman

Cerita hanya menggunakan satu latar waktu, yaitu masa lampau, masa kini, atau masa yang akan datang.

Ciri Kebahasaan Cerita Fantasi

Ciri kebahasaan cerita fantasi dapat dikelompokkan menjadi kata ganti, kata sambung penanda urutan waktu, dan kata keterkejutan. Ini dia penjelasan lengkapnya.

1. Kata Ganti

a. Kata ganti orang bisa menggunakan kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga. Contoh kata ganti orang pertama, yaitu aku, saya, kami, dan kita, sedangkan contoh kata ganti kedua adalah kamu, anda, saudara, dan kalian. Kemudian, contoh kata ganti orang ketiga adalah dia, ia, beliau, -Nya, dan mereka.

b. Kata ganti penunjuk, yaitu sana, situ, sini, ini, dan itu. Contoh penggunaan kata ganti penunjuk adalah: Seruling ini yang telah memberinya semangat hidup.

c. Kata penghubung 'yang'. Contoh penggunaannya sebagai berikut: Rumah berwarna kuning yang ada di tengah hutan itu selalu dikunjungi oleh tujuh kurcaci.

d. Kata ganti penanya, seperti kapan, siapa, dan apa. Contoh: Kapan nenek sihir itu keluar dari tempat persembunyiannya?

e. Kata ganti tak tentu, seperti seseorang atau sesuatu. Contoh kalimat: Tunggu di sini, aku akan pergi ke jalan besar untuk meminta bantuan seseorang.

f. Kata ganti kepunyaan, yaitu ku, mu, dan-nya. Contoh kalimat: Buku mantraku telah dirampas oleh murid penyihir di seberang desa.

2. Kata sambung penanda urutan waktu, yakni semenjak, ketika, dan sebelum. Contoh penggunaan katanya adalah: Semenjak kakek merawat burung nuri ini, keadaan kakek semakin membaik.

3. Kata keterkejutan, seperti tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, di tengah keheningan.

Contoh penggunaan katanya dalam cerita fantasi adalah:
a. Tiba-tiba monster besar yang ada di tengah hutan menyerang kami.
b. Tanpa disangka-sangka naga besar membawanya pergi.
c. Di tengah keheningan, akhirnya muncul sosok nenek tua yang sudah dinanti-nanti.

Contoh Cerita Fantasi

Bacalah cerita fantasi di bawah ini yang dikutip dari Modul Kemdikbud Bahasa Indonesia:

Asyiknya Menulis Cerita Imajinasi.

Legenda Peri Bulan


Oleh: Mila Nurhida

Wulan adalah seorang gadis desa yang miskin. Wajahnya agak suram, sebab ia menderita penyakit kulit di wajahnya. Orang-orang desa sering takut jika berpapasan dengannya. Wulan akhirnya selalu menggunakan cadar. Pada suatu malam, Wulan bermimpi bertemu dengan pangeran Rangga.

Putra Raja itu terkenal dengan keramahannya dan ketampanannya. Wulan ingin berkenalan dengannya. Ia pun makin sering memimpikan Pangeran Rangga. "Sudahlah, Wulan! Buang jauh-jauh mimpimu itu!" kata Ibu Wulan, ketika melihat anaknya termangu di depan jendela kamar.

"Ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu. Kamu boleh menyukai siapa saja. Tapi Ibu tidak ingin akhirnya kamu kecewa," tutur Ibu Wulan lembut. Sebenarnya Wulan juga sadar. Mimpinya terlalu tinggi. Orang-orang desa saja takut melihatnya, apalagi pangeran Rangga, pikir Wulan.

Pada suatu malam, Wulan melihat pemandangan alam yang sangat indah. Bulan bersinar terang di langit. Cahayanya lembut keemasan. Di sekitarnya, tampak bintang-bintang yang berkelap-kelip. Malam itu begitu cerah. "Sungguh cantik!" gumam Wulan.

Matanya takjub memandang ke arah bulan. Tiba-tiba saja Wulan teringat pada sebuah dongeng tentang Dewi Bulan. Dewi itu tinggal di bulan. Ia sangat cantik dan baik hati. Ia sering turun ke bumi untuk menolong orang-orang yang kesusahan.

Di desa Wulan, setiap ibu yang ingin mempunyai anak perempuan, selalu berharap anaknya seperti Dewi Bulan. Dulu, ketika Wulan masih kecil, wajahnya pun secantik Dewi Bulan, menurut Ibu Wulan. "Aku ingin memohon kepada Dewi Bulan agar aku bisa cantik lagi seperti dulu. Tapi, ah, mana mungkin! Itu pasti hanya dongeng!" Wulan segera menepis harapannya.

Setelah puas menatap bulan, Wulan menutup rapat jendela kamarnya. Ia beranjak untuk tidur dengan hati sedih. Wulan adalah gadis yang baik. Hatinya lembut dan suka menolong orang lain. Suatu sore, Wulan bersiap-siap pergi mengantarkan makanan untuk seorang nenek yang sedang sakit. Meski rumah nenek itu cukup jauh, Wulan rela menjenguknya.

Sepulang dari rumah si nenek, Wulan kemalaman di tengah perjalanan. Ia bingung karena keadaan jalan begitu gelap. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba, muncul ratusan kunang-kunang. Cahaya dari tubuh mereka begitu terang. "Terima kasih kunang-kunang. Kalian telah menerangi jalanku!" ucap Wulan lega.

Ia berjalan dan terus berjalan. Namun, meski sudah cukup jauh berjalan. Wulan tidak juga sampai di rumahnya. Wulan tidak juga menemukan rumahnya. "Kurasa aku sudah tersesat!" gumamnya panik.

Ternyata para kunang-kunang telah mengarahkannya masuk ke dalam hutan. "Jangan takut, Wulan! Kami membawamu kesini , agar wajahmu bisa disembuhkan," ujar seekor kunang-kunang. "Kau..kau bisa bicara?" Wulan menatap heran ke arah seekor kunang-kunang yang paling besar.

"Kami adalah utusan Dewi Bulan," jelas kunang-kunang itu. Wulan akhirnya tiba di tepi danau. Para kunang-kunang beterbangan menuju langit. Begitu kunang-kunang menghilang, perlahan-lahan awan hitam di langit menyibak. Keluarlah sinar bulan purnama yang terang benderang.

"Indah sekali!" Wulan takjub. Keadaan di sekitar danau menjadi terang. Wulan mengamati bayang-bayang bulan di atas air danau. Bayangan purnama itu begitu bulat sempurna. Tak lama kemudian, tepat dari bayangan bulan itu muncul sosok perempuan berparas cantik.

"Si...siapa kau?" tanya Wulan kaget. "Akulah Dewi Bulan. Aku datang untuk menyembuhkan wajahmu," tutur Dewi Bulan lembut. "Selama ini kau telah mendapat ujian. Namun, karena kebaikan hatimu, kau berhak menerima air kecantikan dariku. Usaplah wajahmu dengan air ini!" lanjut Dewi Bulan sambil memberikan sebotol air.

Dengan tangan gemetar Wulan menerimanya. Perlahan-lahan Dewi Bulan masuk kembali ke dalam bayang-bayang bulan di permukaan air danau. Kemudian, ia menghilang. Wulan segera membasuh wajahnya dengan air pemberian Dewi Bulan. Malam itu, Wulan tertidurdi tepi danau.

Akan tetapi, sungguh ajaib karena esok harinya Wulan telah berada di kamarnya sendiri. Ketika bercermin, ia sangat gembira melihat kulit wajahnya telah halus lembut kembali seperti dulu. Ia telah cantik kembali. Ibunya heran dan gembira.

"Bu, Dewi Bulan ternyata benar-benar ada!" cerita Wulan. Dengan cepat kecantikan paras Wulan tersebar kemana-mana. Bahkan sampai juga ke telinga Pangeran Rangga. Karena penasaran, Pangeran Rangga pun mencari Wulan.

Keduanya akhirnya bisa bertemu. Wulan sangat gembira bisa bersahabat dengan pangeran pujaan hatinya.

Itulah ciri-ciri, jenis, ciri kebahasaan, dan contoh cerita narasi. Cukup mudah bukan? (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia