Sejarah Jakarta Informal Meeting, Berhasil Akhiri Konflik Kamboja-Vietnam

Olivia Sabat - detikEdu
Kamis, 07 Okt 2021 17:10 WIB
Kompleks Penjara S-21 yang kini jadi Museum Genosida Tuol Sleng merupakan bangunan bersejarah yang jadi saksi bisu kekejaman rezim Khmer Merah di Kamboja.
Jakarta Informal Meeting berhasil menyelesaikan konflik di Kamboja. Museum Genosida Tuol Sleng merupakan saksi bisu kekejaman konflik tersebut (Foto: AP Photo)
Jakarta - Menjadi salah satu pendiri dan anggota ASEAN, Indonesia memainkan peran untuk mewujudkan perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Salah satu cara yang berhasil dilakukan adalah dengan menggelar Jakarta Informal Meeting atau JIM.

Diadakan di Bogor pada 5-28 Juli 1988 dan Jakarta pada 19-21 Februari 1989, Jakarta Informal Meeting bertujuan untuk mewujudkan perdamaian atau menyelesaikan konflik bersenjata antara dua negara bertetangga di Semenanjung Indocina, Kamboja dan Vietnam.

Melalui pertemuan tersebut, Indonesia berhasil memfasilitasi kedua negara untuk berunding dan menyelesaikan konflik berdarah yang terjadi selama bertahun-tahun.

Lalu, bagaimana sejarah terselenggaranya Jakarta Informal Meeting?

Latar Belakang Jakarta Informal Meeting

Kamboja dan Vietnam merupakan dua negara yang sudah berkonflik cukup lama hingga menelan banyak korban. Mengutip jurnal ilmiah berjudul Peran Indonesia dalam Proses Penyelesaian Konflik Kamboja (Periode 1984-1991) yang ditulis oleh Maradona Runtukahu, konflik antara Kamboja dan Vietnam dipicu oleh pergolakan dan besarnya ketegangan politik dalam negeri.

Puncak konflik Kamboja-Vietnam terjadi pada akhir 1978 ketika terjadi bentrokan antara rezim Khmer Merah dengan Vietnam. Dalam bentrokan tersebut terjadi pembantaian warga keturunan Vietnam di Kamboja yang membuat Vietnam akhirnya menyerbu Kamboja dengan tujuan menghentikan genosida tersebut.

Rezim Khmer Merah pun akhirnya berhasil digulingkan berkat invasi Vietnam pada Januari 1979. Kemudian, Vietnam mendirikan rezim baru di Kamboja yang dipimpin oleh Heng Samrin.

Namun, tindakan ini tentu mendapat penolakan dari berbagai pihak Kamboja dan menyebabkan perang yang terus berlanjut dan terus memakan korban tanpa ada tanda-tanda penyelesaian.

Hal inilah yang akhirnya mendorong Indonesia beserta negara ASEAN lainnya untuk mengupayakan mediasi guna mencari penyelesaian yang damai, adil, dan menyeluruh. Diprakarsai oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas, Jakarta Informal Meeting diadakan untuk menyelesaikan konflik Kamboja-Vietnam.

Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas XII: Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia oleh Kemdikbud, Jakarta Informal Meeting dilaksanakan sebanyak dua kali. Jakarta Informal Meeting pertama berlangsung di Istana Bogor pada 25-28 Juli 1988. JIM pertama lebih ditujukan untuk memediasi kubu-kubu yang bertikai di Kamboja.

Sekitar tujuh bulan kemudian tepatnya 19-21 Februari 1989 di Jakarta digelar Jakarta Informal Meeting kedua. Kali ini dihadiri oleh 6 Menteri Luar Negeri (Menlu) ASEAN, Menlu Vietnam, dan kelompok yang bertikai di Kamboja. Hasil dari Jakarta Informal Meeting adalah:

1. Gencatan senjata di seluruh wilayah Kamboja

2. Segera setelah gencatan senjata diikuti penarikan pasukan dan persenjataan Vietnam dari Kamboja paling lambat tanggal 30 September 1989.

3. Akan dibentuk pemerintahan yang mengikutsertakan keempat kelompok yang bertikai di Kamboja

4. Pengawasan internasional atas penarikan pasukan tersebut serta aspek yang berkaitan.

Pada akhirnya, konflik Kamboja-Vietnam berhasil diselesaikan melalui Perjanjian Paris pada 23 Oktober 1991. Indonesia ikut ambil bagian dalam pasukan perdamaian United Nations Transitional Authority in Cambodia (UNTAC) melalui pengiriman pasukan kontingen Garuda ke Kamboja sebanyak 3.957 personil pada tahun 1992-1993.

Demikianlah sejarah latar belakang dilaksanakannya Jakarta Informal Meeting yang menjadi upaya Indonesia dalam mewujudkan perdamaian di Asia Tenggara.

Simak Video "Eks PM Kamboja Pangeran Norodom Ranariddh Meninggal Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia