Belajar dari Pakar

Memaknai Bulan Bahasa

- detikEdu
Senin, 04 Okt 2021 09:17 WIB
Peserta menuliskan aksara Bali di atas daun lontar dalam festival
Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Jakarta - Waktu seakan berlari. Tidak terasa kita pun kembali menjejakkan kaki pada Oktober, bulan dengan nomor urut sepuluh ini. Sebagaimana bulan lain, ia juga mempunyai hari-hari penting. Hari Kesaktian Pancasila, Hari Batik Nasional, Hari Surat-Menyurat Internasional, dan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ialah contohnya. Selain itu, ada pula hari bersejarah yang juga kita peringati pada bulan ini, yaitu Hari Sumpah Pemuda. Hari itu menjadi dasar sebuah perayaan tahunan mengenai kebahasaan dan kesastraan. Kita mengenalnya sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.

Nah, kapan pertama kali Anda mengetahui atau turut serta dalam kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra? Mungkin pada masa bersekolah, ya. Pada waktu itu, berbagai perlombaan diadakan, mulai dari membaca puisi, mendongeng, hingga berpidato. Sebagian orang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut. Sementara itu, ada pula yang mengurus kesibukan belakang layar sebagai panitia. Yang tidak menjadi peserta atau panitia cukup menonton hiburan yang disuguhkan.

Bulan Bahasa dan Sastra sendiri sudah berjalan sangat lama. Acara yang bertujuan meningkatkan upaya pemasyarakatan bahasa dan sastra di Indonesia itu diadakan tiap Oktober sejak 1980 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kala itu namanya hanya Bulan Bahasa. Barulah pada 1989 Bulan Bahasa diubah menjadi Bulan Bahasa dan Sastra. Itu berarti nama Bulan Bahasa dan Sastra sudah digunakan selama 32 tahun. Meskipun demikian, sepertinya kita lebih akrab dengan nama pendeknya, ya. Terlebih, beberapa kampus atau sekolah masih menggunakan nama Bulan Bahasa, alih-alih Bulan Bahasa dan Sastra, sebagai sebuah acara akbar. Namun, itu bukan masalah.

Lantas, kita pun bertanya, apa makna dari kegiatan yang sudah berusia 41 tahun itu untuk masa kini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat situasi kebahasaan dan kesastraan yang terjadi, setidaknya di sekitar kita.

Di sekitar saya sendiri, aktivitas berbahasa dan bersastra sekilas tampak baik-baik saja. Orang-orang mampu menggunakan bahasa Indonesia sewajarnya. Namun, pada beberapa kesempatan, saya menemukan problem yang dihadapi sebagian orang, yakni berbicara, khususnya di depan umum. Kata-kata mereka sering kali terjeda. Dalam jeda itu, bentuk tegun, seperti eh dan em, mengisi dengan nada tidak pasti. Pesan akhirnya kurang tersampaikan dengan baik.

Saya pun menjumpai permasalahan pada aktivitas kebahasaan lain, yakni menyimak. Walaupun terlihat sepele, menyimak ternyata cukup susah. Terlebih, gangguan atau pengalih fokus sangat mudah ditemui, misalnya ponsel. Hal itu kerap membuat seseorang berkata, "Maaf, kamu tadi bilang apa?"

Lalu, ada pula yang memiliki problem dalam membaca atau menulis. Yang saya sebut terakhir itu lebih sering saya temui. Seorang kawan, misalnya, pernah mengeluh kesulitan untuk mengembangkan ide tulisan dan menentukan sambungan antarparagraf.

Atas permasalahan tersebut, Bulan Bahasa dan Sastra seharusnya dapat menjadi momen yang tepat bagi kita untuk mengembangkan keterampilan bahasa dan memperkaya pengetahuan akan sastra. Kita dapat memulainya dengan menyisihkan waktu lebih lama untuk membaca. Novel-novel Indonesia yang begitu beragam sudah siap untuk dijelajahi. Selain itu, kita pun dapat menantang diri sendiri untuk menulis takarir tiga paragraf di Instagram, Facebook, atau Twitter selama bulan ini. Meskipun sederhana, hal itu akan membuat kita terampil untuk menyajikan suatu topik dalam tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup. Kita juga dapat mengikuti berbagai webinar untuk melatih kemampuan menyimak. Jika ada kesempatan, kemampuan berbicara juga dapat diasah di sana melalui penyampaian pertanyaan atau pendapat. Di sisi lain, secara pasif, kita bisa mempelajari berbagai teknik berbicara melalui video-video yang berkaitan di YouTube.

Pada intinya, Bulan Bahasa dan Sastra tidak boleh hanya jadi "angin lalu". Inilah waktu yang baik untuk menempa diri agar kita dapat mengolah bahasa dengan lebih luwes lagi.

Simak Video "Sumpah Pemuda, Nadiem: Mengejar Ketertinggalan Saja Tak Cukup"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia