Bagaimana Proses Terbentuknya Awan? Ini Jawaban Lengkapnya

Olivia Sabat - detikEdu
Jumat, 01 Okt 2021 14:34 WIB
Gunung Semeru mengeluarkan guguran awan panas sejauh 2 km pada Selasa (2/2). Saat ini Gunung Semeru masih fluktuatif.
Foto: Nur Hadi Wicaksono
Jakarta -

Awan adalah kumpulan partikel air berupa tetes air atau kristal es yang tampak di atmosfer. Partikel air ini berasal dari perubahan uap air atau benda gas menjadi benda cair pada suhu udara di bawah titik embun atau disebut juga dengan kondensasi.

Proses Pembentukan Awan

Secara sederhana, awan terbentuk karena penguapan air yang berasal dari laut, danau, atau sungai.

Kemudian, uap air ini akan naik ke atas menjadi titik-titik air dan terbentuklah awan. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai proses kondensasi titik-titik air dalam pembentukan awan yang dikutip dari halaman web Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

1. Udara yang bergerak ke atas akan mengalami pendinginan secara adiabatik sehingga kelembaban nisbinya (RH) akan bertambah.

Perubahan RH terjadi karena adanya penambahan uap air oleh penguapan atau penurunan tekanan uap jenuh melalui
pendinginan.

Namun, sebelum RH mencapai 100, yaitu sekitar 78 ondensasi telah dimulai pada inti kondensasi yang lebih besar dan aktif. Inti kondensasi adalah partikel padat atau cair berupa debu, asap, belerang dioksida, garam laut, atau benda mikroskopik lainnya yang bersifat mudah menghisap dan melepaskan uap air (higroskopis) dengan ukuran 10 mikrometer.

2. Kemudian, ketika RH mendekati 100, tetes air mulai berubah menjadi tetes awan. Hal ini dikarenakan uap air telah digunakan oleh inti-inti yang lebih besar, sedangkan inti yang lebih kecil kurang aktif berperan. Maka dari itu, volume tetes awan yang terbentuk jauh lebih kecil dari jumlah inti kondensasi.

3. Tetes awan yang sudah terbentuk umumnya memiliki jari-jari 5-20 mm dan akan jatuh dengan kecepatan 0,01-5 cm/s. Namun, kecepatan aliran udara ke atas jauh lebih besar sehingga tetes awan tersebut tidak akan jatuh ke bumi dan tetap berada di atas.

Jenis-jenis Awan

Meskipun terlihat sama, nyatanya awan memiliki jenis yang berbeda-beda, lho. Dalam buku Gegografi untuk SMA/MA Kelas X yang disusun oleh Amir Khosim dan Kun Marlina Lubis, jenis-jenis awan dibedakan berdasarkan bentuk permukaannya (morfologi), ketinggian, dan material pembentuknya.

Berdasarkan bentuk permukaannya, awan terbagi menjadi:

1. Awan Cumulus, yaitu awan yang memiliki bentuk bulat putih dan biasanya dijumpai pada
awal musim penghujan,

2. Awan Stratus, merupakan awan yang berlapis-lapis dan biasanya berwarna kehitaman,

3. Awan Nimbus, adalah awan tebal kehitaman yang sering menimbulkan hujan,

4. Awan Cirrus, yakni awan yang tipis berwarna putih menyerupai bulu.

Jika beberapa bentuk awan tersebut bergabung, akan terbentuk awan gabungan, seperti nimbostratus, cumulonimbus, dan cirrostratus. Awan gabungan yang sering menimbulkan hujan adalah awan cumulonimbus. Bahkan, adakalanya awan ini menimbulkan hujan deras disertai badai.

Kemudian, berdasarkan ketinggiannya, awan digolongkan menjadi:

1. Awan rendah dengan ketinggian kurang dari 2.000 m,

2. Awan sedang dengan ketinggian antara 2.000 m-6.000 m,

3. Awan tinggi dengan ketinggian lebih dari 6.000 m.

Berdasarkan material pembentuknya, awan dapat dibedakan menjadi:

1. Awan air, seluruhnya terdiri dari titik-titik uap air,
2. Awan es, terbentuk dari kristal-kristal es,
3. Awan campuran, terdiri dari titik-titik uap air dan kristal es.

Nah, itu dia penjelasan mengenai proses pembentukan dan awan. Sampai di sini, sudah mengerti ya, detikers?



Simak Video "Ada Uap Air Terdeteksi di Satelit Jupiter Ganymede"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia