Hari Tani Nasional 24 September, Ini Sejarah dan Temanya Tahun 2021

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 24 Sep 2021 20:51 WIB
JATILUWIH, BALI, INDONESIA - JUNE 19:  A farmer spreads paddy stalks to be dried under the sunlight during harvest season at Jatiluwih on June 19, 2014 in Tabanan, Bali, Indonesia. Industry Officials and analysts are expecting Indonesia to more than double its rice imports to around 1.5 million tons in 2014 from an estimated 700,000 tons imported in 2013 ahead of a general election and El Nino looms on the horizon which could lead into drought and lack of rainfall. Jatiluwih is famous for its well-maintained terraced rice fields and functioning subak traditional irrigation system. UNESCO has recognized it as one of the worlds heritage sites. (Photo by Agung Parameswara/Getty Images)
Foto: Getty Images/Agung Parameswara
Jakarta - Tanggal 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional (HTN). Tanggal tersebut ditetapkan oleh Presiden Soekarno dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 169 Tahun 1963.

Dalam sejarah agraria di Indonesia, tanggal 24 September juga bertepatan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).


Sejarah, Tujuan, dan Tema Hari Tani Nasional


Sejarah Hari Tani Nasional


Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Grobogan, sebelum Hari Tani Nasional ditetapkan, pada 24 September 1960 dibentuk UU No 5/1960 tentang UUPA.

Terciptanya UUPA melewati proses yang panjang bahkan memakan waktu 12 tahun lamanya. Sejak 1948, terdapat sejumlah panitia yang merancang program UUPA, di antaranya:

- Panitia Agraria Yogyakarta (1948)

- Panitia Agraria Jakarta (1951)

- Panitia Soewahjo (1955)

- Panitia Negara Urusan Agraria (1956)

- Rancangan Soenarjo (1958)

- Rancangan Sadjarwo (1960)


Dari rancangan tersebut, akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), yang kala itu dipimpin Haji Zainul Arifin menerimanya dan melahirkan UUPA.

Lahirnya UUPA ini memiliki makna besar bagi bangsa dan negara Indonesia, yaitu:


1. Untuk mewujudkan amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 (Naskah Asli), yang menyatakan, "Bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat"

2. Penjungkirbalikan hukum agraria kolonial dan penemuan hukum agraria nasional yang bersendikan realitas susunan kehidupan rakyatnya.


Adapun tujuan dibentuknya UUPA adalah:


- meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional

- mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan

- meletakkan dasar-dasar kepastian hukum hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat.

- mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan, keadilan bagi negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam menuju masyarakat adil dan makmur.


Tema Hari Tani Nasional 24 September 2021

Dilansir dari laman resmi Serikat Petani Indonesia (SPI), tahun 2021 peringatan Hari Tani Nasional mengusung tema "Percepatan Penyelesaian Konflik Agraria dan Penguatan Kebijakan Reforma Agraria untuk Menegakkan Kedaulatan Pangan dan Memajukan Kesejahteraan Petani dan Rakyat Indonesia".

Tema ini diambil mengingat upaya untuk terus meneguhkan percepatan reforma agraria dan penguatan kebijakan reforma agraria.


Bersamaan dengan upaya tersebut, SPI turut mendorong pembentukan kampung-kampung reforma agraria dan kawasan daulat pangan, di mana kekuatan massa petani sebagai motor penggerak utama dalam redistribusi tanah dan membangun kehidupan secara kolektif.

Kampung-kampung reforma agraria merupakan wujud dari pelaksanaan reforma agraria sejati. Hal itu dikarenakan kampung reforma agraria SPI menjawab persoalan ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia serta menjadi pondasi penting bagi pelaksanaan kedaulatan pangan di Indonesia.

Simak Video "Demo Mahasiswa di Tasik soal Hari Tani Nasional Ricuh"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia