Peradaban Babilonia Lama: Puncak Kejayaan dan Keruntuhan

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 11 Sep 2021 13:00 WIB
Bagian kepala Codex Hammurabi. Codex Hammurabi adalah lempengan batu berisi hukum yang diterapkan di Imperium Babilonia.
Bagian kepala Codex Hammurabi. Codex Hammurabi adalah lempengan batu berisi hukum yang diterapkan di Imperium Babilonia Lama. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Kota Babilonia Lama terletak di di Mesopotamia, di wilayah lembah Eufrat dan Sungai Tigris. Kota ini dibangun sekitar sebelum abad ke-23 SM (sebelum Masehi). Kota ini disebut sebagai pusat pemerintahan atau ibu kota dari Kerajaan Babilonia Lama.

Kerajaan Babilonia Lama didirikan oleh bangsa Amoria pada tahun 1894 SM di bawah pemerintahan raja bangsa Amoria, Sumuabum. Sementara itu, Kerajaan Babilonia Lama membentang di sepanjang selatan Mesopotamia dan sebagian Assyria (utara Irak).

Sejarah Babilonia lama banyak tercatat pada masa Raja Hammurabi (1792-1750 SM). Kota Babilonia kelak menjadi wilayah perdagangan dan administratif utama karena lokasinya yang strategis. Karena itu pula, kemakmuran dan prestise wilayah ini membuat bangsa-bangsa di sekitar berebut menaklukkan. Hammurabi menaklukkan kota Babilonia dan menjadikannya ibu kota kerajaan.

Puncak kejayaan Babilonia Lama

Puncak kejayaan kerajaan Babilonia Lama tercapai pada masa pemerintahan Raja Hammurabi. Pada masa pemerintahan Hammurabi, kekuasaan Babilonia membentang dari Teluk Persia sampai seberang wilayah Turki saat ini, seperti dikutip dari World History Encyclopedia.

Codex Hammurabi, peninggalan Babilonia Lama berisi hukum bagi warga kerajaan.Codex Hammurabi, peninggalan Babilonia Lama berisi hukum bagi warga kerajaan. Foto: Wikimedia Commons

Hammurabi merumuskan dan mengkodifikasi hukum-hukum yang berlaku di Babilonia. Salah satu yang ditemukan yaitu code of law yang menjadi kitab hukum tertua di dunia.

Hukum Hammurabi yang ditemukan ahli arkeologi Prancis M. Morgan sekitar tahun 1901 tersebut berupa tulisan hukum di atas lempengan batu. Lempengan tersebut berisi ketentuan mengenai hak dan kewajiban seluruh warga Kerajaan Babilonia Lama.

Prinsip Hukum Hammurabi dalam lempeng tersebut yaitu 'hukuman mata untuk mata dan gigi untuk gigi'. Hukum Hammurabi memiliki pengaruh besar dalam penyusunan hukum bangsa Romawi. Hukum bangsa Romawi kelak menjadi dasar penyusunan hukum bangsa Eropa modern, seperti dikutip dari buku Peradaban Asia Barat Daya oleh Dr. Agus Mursidi M.Pd., dkk.

Di samping itu, Hammurabi memperbesar dan meninggikan tembok kota dan menerapkan pekerjaan umum besar yang mencakup kuil dan kanal yang mewah dengan bantuan budak. Babilonia di masa kejayaannya merupakan kota yang paling terkenal dari peradaban kuno Mesopotamia dengan tembok-tembok kota dan bangunan yang megah.

Hammurabi juga menjadikan diplomasi sebagai bagian integral dari pemerintahannya. Diplomasi dan perang di bawah pemerintahan Hammurabi membuat Mesopotamia di bawah kekuasaan Babilonia Lama pada tahun 1755 SM.

Agama di Babilonia

Bangsa Amoria di Babilonia menganut politeisme. Sistem kepercayaan bangsa Amoria tidak jauh berbeda dengan bangsa Sumeria. Bangsa Amoria percaya bahwa beragam peristiwa alam dan nasib manusia sudah digariskan para dewi, seperti dikutip dari Sejarah Terlengkap Peradaban Dunia oleh Rizem Aizid.

Kepercayaan bangsa Amoria merupakan gabungan pengamatan ilmiah terhadap alam semesta serta cuaca dan tata cara pemujaan dewa-dewi pelindung dan sihir. Kepercayaan bangsa Amoria mengantarkan mereka mengenal astrologi.

Dewa-dewi yang disembah bangsa Amoria sama dengan bangsa Sumeria, tetapi berbeda nama. Dewa tertinggi bangsa Amoria adalah Marduk. Dewa Kota Babilonia ini menjadi semakin penting seiring menguatkan kedudukan kota tersebut di Mesopotamia. Orang Amoria percaya bahwa Marduk adalah dewa bijaksana yang akan melindungi orang baik dan menghukum orang jahat.

Penyebab keruntuhan Babilonia lama >>>

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia