Risiko Interaksi Obat COVID-19, Ini Penjelasan Ahli Farmasi UI

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 30 Jul 2021 08:30 WIB
Paket obat gratis buat isoman COVID-19
Foto: Dok pribadi/Risiko Interaksi Obat COVID-19, Ini Penjelasan Ahli Farmasi UI.
Jakarta - Pasien COVID-19 yang menjalankan isolasi mandiri (isoman) ada yang menerima resep obat-obatan. Pakar farmasi dari Universitas Indonesia (UI) mengingatkan pentingnya kontrol penggunaan obat.

Selain memastikan obat dikonsumsi tepat waktu dan jumlah, kontrol juga untuk memperhatikan efek interaksi obat. Guru Besar Fakultas Farmasi UI Prof Dr apt Yahdiana Harahap, M Si, menyatakan efek negatif interaksi obat COVID-19 berisiko kecil. Namun kontrol penggunaan obat tetap harus diterapkan.

"Sekarang masyarakat kita, terutama yang isoman kan membeli sendiri-sendiri, yang obat keras juga dibeli harus dengan resep dokter, kemudian dia mengatur sendiri cara pemberian obatnya. Itulah yang dikhawatirkan," ujar Prof Yahdiana pada talkshow di kanal YouTube milik Fakultas Farmasi UI (FFUI).

Interaksi antar obat standar COVID-19 tidak ada, kecuali antara klorokuin, hidroksiklorokuin dengan azitromisin. Selain itu, mungkin ada efek lain jika pasien memiliki komorbid. Efek interaksi obat COVID-19 dapat dilihat langsung melalui laman https://www.covid19-druginteractions.org.

Prof Yahdiana menjelaskan, interaksi obat sebetulnya selalu dipantau tenaga kesehatan terkait. Pemantauan dokter, perawat, dan apoteker ini untuk mengetahui dan mencegah secepatnya jika ada efek negatif interaksi obat. Risiko interaksi obat bisanya diperhitungkan dokter, namun jika terlewat dapat dicegah apoteker.

Efek samping interaksi obat atau penggunaan tunggal sebetulnya tak bisa dikesampingkan. Namun Prof Yahdiana mengingatkan, obat yang dirilis ke pasaran telah memenuhi standar khasiat, mutu, dan keamanan. Manfaat yang diperoleh usai mengkonsumsi obat lebih besar dibanding kerugiannya.

"Jadi kita harus bijaklah menggunakan obat, tetapi jangan takut. Kalau ada efek samping, Insya Allah efek sampingnya sudah diperkirakan, jadi kita jangan terlalu khawatir," ujar Prof. Yahdiana dalam talkshow dengan tema Bertemu Pakar untuk Menjawab Bagaimana Risiko Interaksi Obat pada Penderita COVID-19.

Hal serupa dinyatakan Kepala Unit Farmasi dan CSSD RSUI Prof Dr apt Retnosari Andrajati, MS, terkait efek interaksi obat COVID-19. Selain itu, para tenaga kesehatan dan peneliti terus bekerja sama untuk menekan risiko interaksi obat sehingga kondisi pasien menjadi lebih baik.

Prof Retnosari dalam talkshow yang dilaksanakan pada Sabtu (24/7/2021) juga menjelaskan interaksi obat secara umum. Interaksi obat adalah peristiwa antar obat berjumlah lebih dari satu yang dikonsumsi bersamaan. Interaksi tidak terbatas pada obat, tapi juga makanan dan minuman yang dikonsumsi bersama obat.

"Jadi bisa ada sesuatu kaitan satu dengan yang lainnya, pengaruhnya bisa baik bisa juga kurang baik," kata Prof Retnosari yang juga Guru Besar FFUI.

Efek interaksi bisa juga terjadi antara obat sintetis dan herbal. Interaksi terjadi karena di dalam herbal juga terkandung berbagai zat kimia. Karena itu Prof Retnosari menyarankan konsumsi obat herbal dilakukan setelah efek obat sintetis mencapai efek puncaknya.

Semoga penjelasan risiko interaksi obat pada pasien COVID-19 ini bikin kamu nggak takut lagi, jika harus konsumsi obat. Semoga sehat selalu ya detikers.

Simak Video "Jual Obat Terapi Covid-19 di Atas HET, 4 Orang di Purwakarta Diciduk!"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia