Sejarah Idul Adha, Tentang Pengorbanan Seorang Ayah dan Anaknya

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Selasa, 20 Jul 2021 10:41 WIB
Pemotongan hewan kurban dilakukan Aren Jaya, Kota Bekasi, Jabar, Selasa (20/7). Ritual ini dilakukan dengan Prokes ketat karena pandemi COVID-19.
Pemotongan hewan kurban di hari raya Idul Adha. Begini sejarah Idul Adha. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Setiap kali berbicara tentang Idul Adha , ada empat tokoh yang selalu disebut dalam sejarah lahirnya hari besar ini. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Bagaimana sejarah Idul Adha selengkapnya?

Dikisahkan dalam sebuah buku yang bertajuk Menyinari Kehidupan dengan Cahaya Al-Quran karya Akmal Rizki Gunawan Hasibuan, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, istrinya, sudah lama mendambakan kehadiran seorang buah hati. Namun, tidak kunjung juga datang pada mereka.

Hingga tibalah waktunya saat Sarah sudah merasa tua, tepatnya dalam kondisi usia yang tidak mungkin untuk hamil dan beranak. Ia memberi saran pada suaminya untuk menikahi Siti Hajar, seorang wanita yang jujur, setia, dan baik hati.

Hal itu dengan tujuan semata-mata agar Hajar melahirkan seorang keturunan yang akan melanjutkan tugas sang suami sebagai Nabi. Hingga pada akhirnya, pernikahan antara Siti Hajar dan Nabi Ibrahim melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan diberi nama Ismail.

Namun, kisah mereka tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika Nabi Ismail masih bayi, ia dan ibunya Hajar ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim untuk bertugas. Nabi Ibrahim pergi mengembara untuk memenuhi panggilan Allah tanpa meninggalkan apa-apa tanpa anak dan istrinya. Berikut ia juga pergi tanpa membawa bekal apapun.

Pepisahan antara ketiganya berlangsung sangat lama, hingga saat Nabi Ibrahim kembali ke kampung halamannnya, anak dan istrinya sudah tidak ada di tempat tersebut. Kemudian, seseorang membagikan informasi pada Nabi Ibrahim bahwa anak dan istrinya berada di suatu tempat untuk mengembala kambing.

Tempat itulah yang sekarang dikenal dengan Padang Arafah. Sejarah Idul Adha mencatat Akhirnya terjadi pertemuan yang mengharukan antara Nabi Ibrahim dengan anak dan istrinya tersebut. Dalam perjalanan pulang ke Mekah, keluarga kecil tersebut memutuskan untuk bermalam di Masya'ir Haram karena kelelahan.

Pada malam itulah, Nabi Ibrahim diberi mimpi oleh Allah SWT. Mimpi yang merenggut dan merampas kebahagiaan Nabi Ibrahim dan keluarganya yang baru saja kembali berkumpul bersama.

Nabi Ismail yang saat itu mulai tumbuh remaja, belum cukup waktu bertemu dengan ayahnya. Sang istri yang belum cukup melepas rindu pada suami dan juga Nabi Ibrahim yang bahkan belum melepas lelah dari mengembara, tiba-tiba mendapat mimpi dari Allah SWT yang dirasa sebagai ujian berat baginya.

Dalam Al Quran Surat As Saffat ayat 102, Allah SWT berfirman bahwa mimpi itu berisi perintah-Nya untuk mengorbankan Nabi Ismail untuk disembelih. Dengan amat bijaksana dan suara lembut, Nabi Ibrahim membisikkan mimpi itu ke telinga Hajar.

Sebagai seorang ibu, ia merasa sangat terkejut. Namun, keterkejutan itu hanya berlaku sebentar saja. Hajar yakin Allah selalu memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Hingga akhirnya, Nabi Ibrahim datang menghampiri anak yang dicintainya dan berkata:

"Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!"

Ismail yang masih dalam masa pertumbuhan tersebut berpikir dengan tenang sampai mengangkat wajahnya dan menjawab:

"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Mengutip dari buku Cerita Al Quran untuk Anak karya Tim Erlangga, sebelum peristiwa penyembelihan dimulai, Ismail meminta beberapa permohonan pada ayahnya. Ia meminta agar ayahnya mengikatnya dengan kuat agar dirinya tidak banyak bergerak dan tidak merepotkan Nabi Ibrahim.

Lalu, Nabi Ismail juga meminta agar Nabi Ibrahim menanggalkan pakaiannya supaya tidak terkena darah. Kemudian yang ketiga, Nabi Ismail juga meminta untuk ditajamkan parah sang ayah dan mempercepat proses penyembelihan agar dapat meringankan penderitaan yang dirasakannya.

Hingga permintaan yang terakhir, Nabi Ismail meminta ayahnya untuk memberikan pakaiannya pada sang ibu untuk menghiburnya dari kesedihan. Sang ayah, Nabi Ibrahim, mengabulkan semua permintaan anaknya kemudian memeluk dan mencium kedua pipi anaknya tersebut.

Sambil memegang parang di tangannya, Nabi Ibrahim akhirnya memejamkan matanya yang masih digenangi oleh air mata tersebut. Saat parang sudah mendekati leher Nabi Ismail, tiba-tiba atas izin Allah, parang tersebut menjadi tumpul dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Peristiwa tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pengorbanan Ismail merupakan ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagai ganti dari Ismail yang diselamatkan Allah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menggantinya dengan seekor kambing.

Kambing tersebut sudah dalam keadaan terikat di sebuah pohon dekat Gunung Tsubair. Akhirnya, Nabi Ibrahim menyembeli kambing tersebut di Mina.

Peristiwa inilah yang dijadikan pedoman dan sejarah sunnah berkurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari Raya Idul Adha. Itulah sejarah Idul Adha yang dirayakan setiap tahun. Selamat Hari Raya Idul Adha, detikers!



Simak Video "Makna Kurban Idul Adha: Meneladani Ketakwaan Sang Abul Anbiya"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia