Tari Gambyong: Sejarah, Makna, Ciri Tarian, dan Gerakannya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 11 Jun 2021 09:30 WIB
Latihan tari gambyong kolosal di Stadion Sriwedari, Solo, Jumat (27/4/2018).
Foto: Dok Pemkot Surakarta
Jakarta - Tari Gambyong adalah tari tradisional yang berasal dari daerah Provinsi Jawa Tengah tepatnya wilayah Surakarta. Berdasarkan iringan gendingnya, Tari Gambyong mempunyai berbagai ragam, yaitu Gambyong Pareanom, Gambyong Pancerana, dan Gambyong Pangkur.


Tarian ini sudah ada sejak zaman dahulu dan mulai ditampilkan di lingkungan Istana Mangkunegaran pada era 1916-1944. Gambyong menjadi terkenal karena gerakan yang halus dan anggun sehingga membuat kagum penonton yang melihat.


Sejarah Tari Gambyong

Dikutip dari arsip pada situs resmi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Serat Centhini, kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823), telah menyebut adanya gambyong sebagai tarian tledhek.


Pada masa itu, salah seorang penata tari pada pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi.


Tarian rakyat yang telah diperhalus ini menjadi populer dan biasa ditampilkan di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran.


Perubahan penting pada Tari Gambyong terjadi ketika pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang "dibakukan", yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom.


Koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan Mangkunegara VIII, di tahun 1951. Tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas.


Makna Tari Gambyong

Makna Tari Gambyong diumpamakan seorang dewi padi (Dewi Sri) yang tengah menari. Oleh sebab itu, dulu tari ini digunakan untuk upacara ritual pertanian demi mendapat kesuburan padi dan panen yang melimpah.


Dalam perkembangannya, Tari Gambyong telah diangkat sebagai sebuah hiburan memeriahkan acara resepsi perkawinan, hingga menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan.


Ciri Tari Gambyong

Adapun ciri khusus Tari Gambyong di antaranya:


- Pakaian yang digunakan bernuansa warna kuning dan warna hijau sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

- Sebelum tarian dimulai, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur.

- Teknik gerak, irama iringan tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.


Gerakan Tari Gambyong

Gerakan Tari Gambyong terdiri dari tiga bagian, yakni awal, isi, dan akhir. Keunikan tari Gambyong berada pada gerakan yang berfokus pada kaki, lengan, tubuh, dan juga kepala.


Gerakan mengiringi atau mengikuti setiap gerak tangan dengan cara memandang arah jari tangan. Setiap gerakan bahkan beriringan dengan lantunan musik yang dibawakan.


Pembuka tarian juga diiringi dengan gendhing Pangkur. Kemudian, irama ini membuat teknik gerakan ditampilkan para penari dengan luwes, kenes, kewes, dan tregel.


Biasanya para penari Tari Gambyong dilengkapi dengan sanggul dan kemben. Walaupun begitu, penampilan mereka tetap elegan dan menunjukkan ekspresi anggun.



Simak Video "Melestarikan Kesenian Budaya Betawi, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia