Angklung Berasal dari Jawa Barat, Ini Sejarah dan Jenis-Jenisnya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 04 Jun 2021 12:00 WIB
Pandemi COVID-19 berdampak pada Saung Angklung Udjo. Sempat terpuruk gegara pandemi, Saung Angklung Udjo bangkit dengan kembali manggung di beberapa event.
Foto: Siti Fatimah/Detikcom
Jakarta - Angklung merupakan salah satu alat tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Angklung dikenal sebagai alat musik yang berasal dari tanah Sunda yakni Jawa Barat.


Berbeda dengan alat musik lainnya yang dipukul atau ditiup, cara memainkan angklung terbilang unik karena dilakukan dengan cara digoyangkan atau digetarkan.


Angklung terdiri dari dua, tiga atau empat bambu dengan susunan dua, tiga dan empat nada. Bambu yang biasa digunakan untuk membuat angklung adalah awi wulung atau bambu hitam dan awi temen atau bambu putih.


Sejarah Angklung

Dilansir dari situs Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI, Angklung adalah alat musik bernada ganda yang telah dikenal sejak abad ke 11.


Untuk nama angklung sendiri berasal dari Bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleungan. Terdiri dari dua suku kata yaitu angka yang berarti nada dan lung yang berarti pecah.


Bunyi pada angklung tersebut dihasilkan oleh benturan badan pipa bambu sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Saung Angklung Udjo terancam tutup akibat terkena dampak pandemi COVID-19. Padahal Saung Udjo telah melestarikan kesenian angklung sejak 1966.Saung Angklung Udjo terancam tutup akibat terkena dampak pandemi COVID-19. Padahal Saung Udjo telah melestarikan kesenian angklung sejak 1966. Foto: Dok Detikcom

Menurut situs resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, terciptanya alat musik angklung yang terbuat dari bambu berasal dari pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris.


Dengan kehidupan yang bersumber pada makanan pokok berupa padi ini kemudian muncul mitos Nji Sri Pohaci sebagai Dewi Sri pemberi kehidupan perenungan bagi masyarakat Sunda dahulu dalam mengelola pertanian terutama pertanian sawah dan ladang.


Syair lagu yang berkembang di masyarakat Sunda dianggap sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyi Sri Pohaci dan sebagai tolak bala agar bercocok tanam mereka tidak mendatangkan malapetaka .


Dalam perkembangannya syair lagu-lagu tersebut diiringi dengan bunyi tetabuhan yang terbuat dari batang-batang bambu yang dibuat sederhana yang kemudian kita kenal dengan nama angklung.

Seorang instruktur memegang angklung di aula pementasan yang kosong di Saung Angklung Udjo.Seorang instruktur memegang angklung di aula pementasan yang kosong di Saung Angklung Udjo. Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Jenis Angklung

Angklung dalam perkembangannya memiliki beberapa jenis, di antaranya:

1. Angklung Dogdog Lojor

Angklung jenis ini digunakan pada saat ritual tradisi Dogdog Lojor yakni sebuah tradisi penghormatan kepada tanaman padi. Hingga saat ini, tradisi Dogdog Lojor masih dilakukan masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul setiap tahunnya.

2. Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam, mengangkut hingga menempatkan padi ke lumbung.


3. Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut.


4. Angklung Buncis

Alat musik angklung jenis ini dinamai angklung buncis karena kerap dimainkan saat perayaan Buncis, yakni seni pertunjukan tradisional berupa hiburan yang kerap diselenggarakan di daerah Baros, Arjasari, Bandung.


5. Angklung Bungko

Bungko adalah kesenian daerah Cirebon khas dari desa Bungko di Kecamatan Kapetakan, yang terletak di pinggir pantai. Sebagian masyarakatnya bekerja sebagai nelayan.


Kesenian di desa tersebut menggunakan alat musik angklung yang pada akhirnya menjadi salah satu jenis angklung yang ada di Jawa Barat.


6. Angklung Daeng Soetigna/Padaeng

Angklung jenis ini dikenalkan pertama kali oleh Daeng Soetigna tahun 1938. Apa yang dilakukan Daeng sebenarnya sangat sederhana.


Dengan modal pengetahuan musik yang diperolehnya dari sekolah buatan Belanda, ia mengembangkan angklung pentatonis menjadi bernada diatonis-kromatis (do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol-la-li-si dst).


Pengembangan ini kemudian memungkinkan angklung dimainkan lebih luas untuk berbagai jenis musik, sehingga perkembangannya pun semakin cepat.



Simak Video " Memahami Sejarah Angklung, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia