Jago Gocek Alumni Unair Ini Pernah Berlaga di Piala Dunia

Fahri Zulfikar - detikEdu
Sabtu, 29 Mei 2021 09:15 WIB
Achmad Nawir (berkacamata) saat menghadapi tim Belanda pada 26 Juni 1938. Foto: dok. Nationaal Archief
Foto: Achmad Nawir (berkacamata) saat menghadapi tim Belanda pada 26 Juni 1938. Foto: dok. Nationaal Archief
Jakarta - Universitas Airlangga (Unair) Surabaya rupanya memiliki alumni yang pernah tampil di gelaran kompetisi sepak bola paling bergengsi yakni Piala Dunia pada 1938. Alumni itu bernama Achmad Nawir.

Achmad Nawir merupakan mahasiswa asal Maninjau, Sumatera Barat yang pernah mengenyam Sekolah Kedokteran Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada 1929.


Masuk Sekolah Pendidikan Dokter di Surabaya

Pada Mei 1930, koran berbahasa Belanda, De Indische Courant menyebut Nawir naik dari tingkat satu ke tingkat dua di sekolah pendidikan dokter pribumi yang sekarang lebih dikenal dengan Fakultas Kedokteran Unair.

Selama berkuliah , Nawir terbilang cukup aktif dan mengikuti beberapa kegiatan. Tercatat Nawir pernah masuk dalam skuat klub Houd Braef Stand (HBS) Surabaya pada 1931 melawan klub dari Australia dalam rangka turnamen peringatan ulang tahun klub Tot Heil Onzer Ribben (THOR) Surabaya.


Masuk Timnas Hindia Belanda

Mahasiswa yang berposisi sebagai seorang gelandang ini akhirnya bisa tembus kompetisi tingkat internasional pada Februari 1935. Nawir terpilih menjadi salah satu pemain yang mewakili Hindia Belanda dalam Philippines Football Championship di Manila.

Sebagai pemain tengah, Nawir berhasil membawa Tim Hindia Belanda menempati posisi kedua dari tujuh tim yang diundang mengikuti turnamen tersebut. Ia bahkan berhasil mencetak satu gol selama kejuaraan.


Berlaga di Piala Dunia

Pada tahun 1938 Nawir lolos seleksi masuk tim nasional Hindia Belanda untuk Piala Dunia di Prancis dan terpilih secara aklamasi menjadi kapten tim HBS pada April 1938 didampingi Rohrig sebagai wakil kapten.

Uniknya, pria asal Maninjau itu saat berangkat ke Prancis belum menyandang predikat dokter, melainkan masih seorang mahasiswa. Namun, nasibnya tak seperti pada kompetisi di Filipina sebelumnya. Nawir dan Tim Hindia Belanda langsung takluk di babak awal Piala Dunia setelah terbantai 6-0 melawan Hungaria.

Meski begitu Stadion Velodrome Municipal, Kota Reims, pada Minggu, 5 Juni 1938 akan menjadi bukti bahwa Indonesia dan alumni Unair pernah berlaga di putaran final ajang sepak bola paling bergengsi.

"Ayah adalah pahlawan kami sekaligus pahlawan sepakbola pada masanya. Beliau tercatat dalam buku sejarah sepakbola," ujar putri Achmad NAwir, Farida Nawir yang kini menetap di Amerika Serikat pada detikEdu beberapa waktu lalu.

Seperti dikutip dari koran Belanda, Twentsch Dagblad pada akhir Juni 1938, Nawir mengaku berlaga di Piala Dunia adalah sebuah keajaiban karena banyak sekali pengalaman yang didapatkan setelah pulang ke Indonesia.

Setahun setelah pulang dari Piala Dunia, tepatnya pada bulan September 1939, Nawir berhasil lulus untuk ujian pertama untuk memperoleh gelar dokter Hindia di NIAS seperti yang dikabarkan De Indische Courant, edisi 4 September 1939.

Akhirnya, De Indische Courant baru menambahkan gelar dokter di depan namanya dalam susunan pemain klub HBS melawan klub Gie Hoo pada pertengahan Oktober 1939. Lulusan Kedokteran Unair ini bahkan masih memperkuat klub HBS hingga sampai akhirnya kompetisi berhenti karena invasi Jepang pada 1942.

Pemilik klub HBS Surabaya saat ini, Ferril Raymond Hattu, menuturkan kecintaan Nawir pada sepakbola tak perlu diragukan. Zaman itu hampir seluruh masyarakat Surabaya mengenal Achmad Nawir.

"Ayah saya, JA Hattu, yang juga pemain Surabaya memberikan nama Ferril kepada saya, sama persis dengan nama anak dokter Achmad Nawir," ujar Raymond, mantan kapten tim nasional Indonesia, kepada detikEdu.

Tak hanya tenar sebagai pemain sepakbola, Achmad Nawir juga merupakan sebagai dokter ahli kandungan ternama di Kota Surabaya. Nawir masuk berita dalam koran De Vrije Pers: Ochtendbulletin edisi 27 Desember 1949 saat meninggalkan Surabaya menuju Jakarta, lalu selanjutnya ke Belanda, untuk melanjutkan studi obstreti dan ginekologi di Utrecht, Belanda.



Simak Video "Tok! Eks Pejabat Kemenkes Divonis 2 Tahun Bui atas Kasus Korupsi Alkes"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia