Mitos-Mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Negara di Dunia, Masih Dipercaya?

fah - detikEdu
Rabu, 26 Mei 2021 11:00 WIB
Puncak gerhana bulan sebagian atau parsial sekitar pukul 04:30 WIB terlihat dari Bekasi, Jawa Barat, Rabu (17/7/19). Durasi gerhana bulan sebagian ini dapat diamati selama dua jam dan 58,8 menit dari fase awal hingga fase akhir. ANTARA FOTO/Paramayuda/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda
Jakarta - Gerhana Bulan total atau super blood moon akan terjadi pada Rabu 26 Mei 2021. Fenomena ini diperkirakan berlangsung selama 5 jam.


Menurut Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi (BMKG), gerhana Bulan merupakan peristiwa terhalangnya sinar Matahari oleh Bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan jika dilihat dari Bumi.


Namun, di balik fenomena gerhana Bulan, selalu ada mitos-mitos yang berkembang dari berbagai negara di dunia. Apa saja kira-kira?

Berikut ini mitos-mitos gerhana Bulan yang ada di beberapa negara:


1. Naga yang Haus Darah

Di negeri Tirai Bambu, masyarakat Tionghoa memiliki mitos bahwa warna merah pada bulan yang hampir menyerupai darah saat gerhana disebabkan oleh naga yang haus darah. Naga akan turun ke bumi untuk memangsa manusia.


Tak hanya itu, ada juga mitos tentang seekor Naga yang menelan matahari yang pernah diyakini oleh masyarakat Tiongkok kuno. Mereka percaya bahwa kegelapan dari gerhana matahari disebabkan oleh Naga langit, yang menelan matahari dan bulan.


Biasanya untuk mengusir sang Naga, masyarakat di Cina kemudian membunyikan petasan. Cara lainnya yakni dengan menggelar pertunjukan seni sampai bulan kembali seperti semula.


2. Tanda Bencana

Di negeri para dewa yakni Yunani, dahulu Masyarakat Yunani Kuno percaya bahwa gerhana merupakan kemarahan dari para dewa. Selain itu, kedatangan gerhana juga dipercaya sebagai tanda dari adanya bencana dan kerusakan.


3. Perempuan Hamil Harus di Dalam Rumah

Sebagian masyarakat seperti di Meksiko, India, hingga Indonesia pernah mempercayai mitos bahwa selama terjadi gerhana bagi perempuan hamil tidak boleh berada di luar rumah. Bahkan mereka dianjurkan membawa gunting sebagai bentuk keamanan apabila terjadi sesuatu yang dianggap mengganggu kehamilan.


4. Jaguar Memakan Bulan

Suku Inca di daratan Peru beranggapan bahwa fenomena ini terjadi karena jaguar memakan bulan, maka dari itu gerhana bulan total kerap berwarna merah akibat 'darah' dari bulan.


5. 20 Hewan Piaraan dan Kondisi Sakit

Suku Hupa dari Amerika percaya bahwa Bulan memiliki 20 hewan piaraan, yang jika tidak diberi makan akan menyerangnya dan mengakibatkan terjadinya gerhana.


Sementara menurut Suku lain di Amerika yakni Suku Luiseño beranggapan bahwa gerhana merupakan tanda bahwa Bulan sedang jatuh sakit, sehingga mereka bernyanyi untuk memulihkannya.


6. Terjadi Pertengkaran

Di negara Afrika, Suku Batammaliba meyakini mitos bahwa gerhana matahari atau bulan terjadi karena keduanya sedang berperang di langit. Maka dari itu setiap gerhana cincin, anggota suku Batammaliba melakukan ritual untuk mendamaikan kembali agar kegelapan cepat berlalu.


7. Ada Iblis Datang

Mitos lain juga muncul dari Bangsa Tiongkok dan Viking yang mempercayai bahwa gerhana merupakan tanda akan adanya iblis yang datang. Mereka akan berkumpul untuk menggedor panci dan wajan dengan suara keras selama gerhana untuk mengusir iblis agar gerhana cepat berlalu.


Itulah mitos-mitos gerhana Bulan yang berkembang dan dipercaya dari berbagai negara di dunia pada zaman dahulu.



Simak Video "Siap-siap! Super Blood Moon Bakal Terlihat di Indonesia Pada 26 Mei"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia