Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa Timur, Ini Makna dan Filosofinya

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 20 Mei 2021 18:00 WIB
Indonesian traditional food during the Idul Fitri day
Foto: iStock
Jakarta - Lebaran Ketupat menjadi salah satu rangkaian tradisi peringatan hari raya Idul Fitri di Indonesia, khususnya oleh masyarakat Jawa Timur.

Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan pada hari kedelapan hari raya Idul Fitri, yang artinya pada 8 Syawal.

Melansir dari Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat IAIN Surakarta, tradisi ini pada awalnya dipraktikkan oleh masyarakat di daerah Durenan, Trenggalek, Jawa Timur. Pada akhirnya, selama sekitar 200 tahun, tradisi Lebaran Ketupat tetap ada dan dilestarikan hingga kini.

Sekarang, tradisi Lebaran Ketupat (riyoyo kupat/Kupatan) tidak hanya diperingati di daerah Durenan saja. Di Jawa Timur, tradisi Kupatan bisa dibilang umum dilakukan.

Di Surabaya misalnya. Seperti dikutip dari Kemdikbud, riyoyo kupat di Surabaya dilakukan di masjid atau musalla.

Para warga yang mengikuti tradisi tersebut, membawa ketupat masing-masing dari rumahnya, kemudian melakukan selamatan atau yang biasa disebut bancakan dalam tradisi Jawa.

Ketupat yang digunakan dalam tradisi Lebaran Ketupat ini biasanya dibuat menggunakan daun janur yang dibentuk persegi. Kemudian diisi dengan beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa lalu dikukus hingga matang.

Dalam tradisi Lebaran Ketupat, masyarakat yang merayakannya juga akan berbagi ketupat dengan satu sama lain, baik dengan tetangga maupun saudara.

Dalam perayaan Kupatan, ketupat disantap dengan berbagai hidangan lain seperti lodeh, kare, sambal goreng ati, opor ayam atau sapi.

Nah, asal mula dari bentuk dan rupa ketupat ini ternyata ada filosofinya sendiri.

Warna isi ketupat yang putih melambangkan kesucian hati setelah kita meminta maaf atas atas kesalahan yang dilakukan pada orang lain. Lalu, daun janur yang dipakai juga mengandung makna jatining nur atau hati nurani.

Bahan ketupat yang terbuat dari beras pun memiliki arti sendiri. Beras ini melambangkan hawa nafsu manusia.

Jadi, arti dari ketupat secara menyeluruh adalah nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Kemudian, apa tujuan dilaksanakannya tradisi Riyoyo Kupat?

Jika merujuk pada asal mulanya di Durenan, masyarakat di sana menjaga tradisi Lebaran Ketupat ini hingga sekarang sebagai wujud nilai luhur silaturahmi, sedekah, dan memuliakan tamu.

Dan dalam perayaan Kupatan, keberadaan lepet juga merupakan hal yang pasti. Lepet sendiri adalah makanan yang terbuat dari beras ketan, lalu diisi dengan biji kacang panjang kering.

Sama dengan kupat, lepet ini dibungkus dengan janur.

Lepat memiliki nilai filosofis yang tak kalah mendalam. Secara filosofis, lepet yang berarti lengket, mengandung makna bahwa manusia tidak dapat luput dari kesalahan.

Dari situ, diharapkan bahwa sebagai manusia, kita mampu bersikap arif dengan cara mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan ini, juga ditafsirkan dari bahasa Arab kaffatan, yang artinya kesempurnaan, dalam konteks kembali ke fitrah di momen Idul Fitri.

Dengan logat orang Jawa, kaffatan akhirnya menjadi Kupatan.



Simak Video "Melihat Kesibukan di Kampung Ketupat Bogor Jelang Lebaran"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia