Ini Rumah Adat Sulawesi Selatan, Bukan Hanya Tongkonan

Faqihah M Itsnaini - detikEdu
Sabtu, 08 Mei 2021 07:00 WIB
Desa Kete Kesu jadi salah satu destinasi wisata andalan Sulawesi Selatan. Di sana wisatawan salah satunya dapat melihat rumah adat suku Toraja. Penasaran?
Rumah adat Sulawesi Selatan tak hanya Tongkonan (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta - Kekayaan budaya Indonesia dapat terlihat dari beragam bentuk rumah adat khas di setiap daerah. Salah satu yang menarik perhatian adalah jenis-jenis rumah adat Sulawesi Selatan.

Tak hanya bentuk dan struktur yang beragam, rumah adat nusantara biasanya memiliki makna atau filosofi di dalamnya.

Seperti yang tergambar dalam 4 jenis rumah adat di Provinsi Sulawesi Selatan. Rumah khas ini berasal dari tiap-tiap suku yaitu suku Toraja, suku Makassar, suku Bugis, suku Luwuk, dan suku Mandar.

1. Rumah Adat Suku Toraja

Tongkonan, rumah adat suku Toraja di Sulawesi Selatan ini umumnya paling banyak dikenal orang. Selain tempat tinggal, Tongkonan sangat penting karena dijadikan sebagai tempat upacara.

Tongkonan berdiri di atas tumpukan kayu dengan ukiran warna merah, hitam, dan kuning. Atapnya berbentuk seperti perahu telungkup.

Rumah adat berbentuk panggung ini terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang tamu, ruang makan, dan ruang belakang. Sementara, kolong rumah dijadikan kandang kerbau belang sebagai simbol kekayaan suku Toraja.

Di depan rumah, dihiasi susunan tanduk-tanduk kerbau, sebagai perlambang bahwa pemiliknya telah berulang kali mengadakan upacara kematian secara besar-besaran.

Hingga kini, rumah adat Tongkonan menjadi daya tarik wisata masyarakat suku Toraja dan menjadi favorit para wisatawan.


2. Rumah Adat Suku Makassar

Selanjutnya, ada rumah panggung khas masyarakat suku Makassar yaitu Balla.

Dalam arsitekturnya, rumah ini terbagi menjadi tiga yaitu bagian atap, inti rumah, dan kolong. Uniknya, rata-rata atap rumah ini terbuat dari ijuk atau jerami, sedangkan bagian lainnya terbuat dari perpaduan beberapa jenis kayu.

Dengan 10 tiang penyangga, Balla memiliki ketinggian hingga 3 meter. Ruangan teras disebut dengan Dego-Dego, ruang tamu disebut Paddaserang dallekang setelah pintu masuk, ruang tengah sebagai ruang keluarga, dan kamar khusus perempuan di ruang belakang.

Balla memiliki makna filosofis misalnya di puncak atap ada segitiga yang disebut tibaksela, sebagai simbol khusus yang menunjukkan kebangsawanan penghuninya.

Timbaksela yang disusun tiga atau lebih menunjukkan arti bangsawan, sedangkan segitiga yang tidak memiliki susunan adalah tanda masyarakat biasa.


3. Rumah Adat Suku Bugis

Bugis dan Makassar seringkali digabungkan karena kesamaan budaya keduanya, meski sebenarnya berbeda.

Rumah khas Bugis ini disebut juga rumah panggung kayu. Rumahnya memiliki ciri khas atap berbentuk pelana, serta memiliki timpalaja dengan jumlah tertentu sesuai simbol status sosial.

Timpalaja atau disebut gevel (gable) adalah bidang segitiga antara dinding dan pertemuan atap.

Rumah suku Bugis memiliki 3 bagian penting yaitu Rakkeang, Bola, dan Awasao.

Bagian Rakkaeng berfungsi untuk area menyimpan barang berharga seperti emas, perak, keris, ataupun perhiasan. Rakkeang juga bisa dimanfaatkan sebagai area menyimpan persediaan makanan.

Bagian kedua yaitu Bola atau Kalle Balla. Bagian ini khusus dipakai untuk kebutuhan pemilik, misalnya untuk ruang tamu, ruang tidur, ruang makan dan dapur.

Ruangan terakhir adalah Awasao atau Passiringan. Biasanya, pemilik rumah menyimpan hewan ternak, atau alat pertanian dan alat bekerja lainnya.

Rumah panggung kayu ini dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan status sosial penghuninya. Rumah Saoraja atau Sallasa adalah rumah besar untuk keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan rumah yang ditempati masyarakat biasa disebut Bola.

4. Rumah Adat Suku Luwuk

Suku asli kota Luwuk terdiri dari suku Saluan, Balantak, dan Banggai. Seperti rumah adat Sulawesi Selatan lainnya, rumah ini juga berbentuk panggung.

Karakteristik rumah adat suku Luwuk adalah berbentuk persegi dengan ukuran pintu yang sama.

Perbedaan rumah Luwuk dengan yang lainnya, adalah karena rumah ini terdiri dari tiga atau lima puncak yang disebut dengan Bubungan. Bubungan ini bertujuan untuk menunjukkan kasta dan status dari pemilik rumah.

Keunikan rumah ini juga dilihat dari adanya ornamen atau ukiran bunga Parenreng. Ukiran ini melambangkan filosofi yang tak pernah putus, atau simbol umur panjang.

Meskipun berada di provinsi yang sama, namun masing-masing jenis rumah adat Sulawesi Selatan memiliki keunikan dan makna filosofisnya tersendiri.

Apakah kamu berminat mengunjungi salah satu rumah adat ini, detikers? (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia