Suku Sangir Taulud dari Sulawesi Utara, Asal Usul, Karakteristik, dan Kebudayaannya

Faqihah Muharroroh Itsnaini - detikEdu
Jumat, 07 Mei 2021 08:00 WIB
Desa Kete Kesu jadi salah satu destinasi wisata andalan Sulawesi Selatan. Di sana wisatawan salah satunya dapat melihat rumah adat suku Toraja. Penasaran?
Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta - Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan keanekaragaman etnis dan suku bangsa. Salah satu contohnya seperti suku Sangir Talaud dari Sulawesi Utara, yang merupakan penyebutan bagi dua suku.

Masyarakat suku Sangir dan Talaud adalah salah satu dari penduduk asli yang menghuni rangkaian kepulauan antara Sulawesi Utara dan Mindanao, Filipina.

Asal Usul Sangir dan Talaud

Sebenarnya, hingga saat ini belum ditemukan keterangan atau informasi yang pasti mengenai asal usul kata Sangir dan Talaud. Mengutip dari buku Sastra Lisan Tangir Talaud dari Kemendikbud, umumnya orang-orang memberikan arti secara etimologi.

Menurut etimologi, pendapat terbanyak mengatakan bahwa kata Sangir berasal dari kata Zanger dalam bahasa Belanda. Zanger dalam bahasa Indonesia memiliki arti yaitu "penyanyi".

Dulu, Belanda memberikan nama ini dengan alasan bahwa orang yang dikenal sebagai suku Sangir sangat menggemari nyanyian atau suka bernyanyi dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara, tidak banyak pendapat mengenai asal usul kata Talaud, melainkan hanya secara etimologis. Menurut mereka, Talaud berasal dari kata Tau dan Rode. Tau dalam bahasa Talaud berarti "orang", sedangkan Roda berarti "laut". Jadi, Talaud artinya adalah "orang laut".



Letak Geografis Wilayah

Orang suku Sangir dan Talaud berasal dari Provinsi Sulawesi Utara. Sebagian besar dari mereka mendiami gugusan kepulauan di bagian utara Sulawesi Utara dan memanjang ke daerah wilayah berbatasan Filipina, negara tetangganya.

Kepulauan ini dinamakan kepulauan Sangir dan Talaud atau lebih sering dikenal dengan nama kepulauan Nusa Utara.

Secara geografis, gugusan pulau ini dibatasi oleh laut Mindanao di sebelah utara, Selat Taliso di sebelah selatan, laut Sulawesi di sebelah barat, dan laut Pasifik di sebelah timur.

Ciri khas yang dapat dilihat dari lingkungan alam kedua gugusan pulau adalah bukit-bukit tinggi dan rendah yang dipisahkan oleh sungai besar dan kecil.

Daerah Sangir dan Talaud juga memiliki gunung berapi yang aktif maupun tidak aktif, dengan puncak tertingginya 1320 meter. Secara umum, pulau ini termasuk daerah vulkanis dengan jenis tanah latosol.


Karakteristik Penduduk

Tidak ada keterangan waktu yang secara persis menjelaskan kapan wilayah Sangir Talaud dihuni manusia. Namun dari beberapa penelitian dan penggalian arkeologi, diduga pulau ini sudah ditempati sejak 5000 hingga 2000 sebelum masehi.


Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul penduduk kepulauan Sangir dan Talaud


D. Brilman, dalam bukunya De Zending op de Sangir en Talaud eilanden (1938), mengatakan bahwa penduduk Sangir dan Talaud termasuk ke dalam bangsa Indonesia dengan induk bangsa Melayu Polinesia. Asal perpindahan mereka adalah dari utara (Mindanau), dan yang lain berasal dari Ternate.

Ahli lain, DM. H. A. Brouwer, mengatakan bahwa asal mula penduduk Sangir Talaud tidak dapat ditentukan secara pasti. Ia menduga bahwa mereka berasal dari Filipina, dan sebagian dari Sulawesi Utara.

Dugaan Brouwer didasarkan adanya kesamaan yang terdapat dalam bahasa di daerah Sangir Talaud. Bahasa di Sangir dan Talaud mempunyai banyak kesamaan dengan bahasa di Filipina maupun di Sulawesi Utara.

Secara etnis, penduduk Sangir Talaud dapat dibedakan menjadi 3 subsuku bangsa. Pertama, orang Talaud yang merupakan penduduk asli kepulauan Talaud dan sekitarnya.

Kedua, orang Sangir yang merupakan penduduk asli kepulauan Sangir Besar dan sekitarnya.
Ketiga, orang Siau-Tagulandang yang merupakan penduduk asli kepulauan Siau, Tagulandang, dan pulau-pulau sekitarnya.

Masyarakat suku Sangir Talaud hampir semuanya hidup sebagai petani. Mereka bercocok tanam di ladang, dengan komoditas seperti kelapa, cengkeh, pala, sagu, padi, dan umbi-umbian.

Mereka juga melakukan kegiatan perikanan dengan cara tradisional. Seperti memancing ikan menggunakan jaring atau perangkap lainnya. Hasil ikannya dapat dimakan, diperjualbelikan, atau ditukar dengan barang lain.

Agama yang banyak dianut oleh orang Sangir Talaud adalah Kristen Protestan, Islam, dan Kristen Katolik. Sebelum ada agama yang masuk, mereka umumnya masih menganut animisme dan dinamisme.

Dari segi bahasa, S.J. Esser dalam buku Atlas voor Tropisch Nederland (1938) menggolongkan bahasa Sangir Talaud ke dalam rumpun bahasa-bahasa Austronesia atau Melayu Polinesia, dan bahasa Filipina.

Ada dua kelompok bahasa besar di Sangir Talaud, yaitu bahasa Sangir dan bahasa Talaud.

Kelompok bahasa Talaud terdiri dari dialek Miangas, dialek Esang, dialek Nenusa, dialek Karakelang, dialek Salibabu, dan dialek Kabaruan. Sedangkan kelompok bahasa Sangir dibagi atas dialek Sangir Besar, dialek Siau, dan dialek Tagulandang.


Tradisi Budaya dan Kesenian

Ada beberapa tradisi lisan yang terkenal dari orang Sangir Talaud. Misalnya Sasalamate atau puisi bebas yang diciptakan untuk mendatangkan keselamatan bagi yang mengucapkannya.

Lalu ada Sasambo, tradisi sastra lisan berupa pengucapan syair atau puisi yang dilagukan dan diiringi pemukulan tegonggong (sejenis tifa besar). Isi sasambo antara lain mengenai percintaan, nasihat, sindiran atau kritik.

Ada juga Mesamper yang dalam bahasa Indonesia berarti menyanyi, sebagai kebiasaan orang Sangir yang paling banyak digemari. Mesamper dilaksanakan dengan cara berbalas-balasan dan dipimpin oleh satu sampai tiga orang, dengan keadaan berdiri sambil berjalan dan menuju hadirin satu persatu.

Untuk tradisi tulisan, suku Sangir Talaud memiliki naskah-naskah tertua berisi cerita Alkitab. Cerita ini ditulis dalam bahasa Sangir dan dengan huruf Latin.

Selanjutnya, ada beberapa tarian dan musik yang dimiliki suku Sangir Talaud. Seperti tari Gunde untuk pemujaan, tari Salo yaitu tari perang yang menggambarkan prajurit-prajurit Sangir di zaman kerajaan, tari Alabadiri untuk menggambarkan kerjasama raja dan rakyat, dan lain sebagainya.

Seni musik asli atau khas suku Sangir Talaud disebut dengan Oli-oli. Musik yang terbuat dari kayu dan kulit pohon ini sudah sangat tua serta tidak lagi digunakan.

Selain Oli-oli, ada alat musik kerang serta musik bambu yang keduanya dimainkan dengan cara ditiup. Jumlah pemain musik kerang adalah di bawah sepuluh orang, sedangkan musik bambu dapat dimainkan 80 hingga 1000 orang pemain.



Simak Video "Indahnya Tarian Khas Suku Dayak di Desa Budaya Pampang Samarinda"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia