Suku Samin, Masyarakat Adat dari Pedalaman Blora yang Memiliki Nilai Luhur

Lusiana Mustinda - detikEdu
Rabu, 07 Apr 2021 15:00 WIB
Pengendara sepeda motor melaju di kawasan Dobangsan, Giripeni, Wates, Kulon Progo, D.I Yogyakarta, Rabu (19/8/2020). Jalan kampung yang dihiasi ribuan bendera Merah-Putih untuk memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia itu menjadi destinasi wisata alternatif di D.I Yogyakarta khususnya bagi para pemburu swafoto. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww.
Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko
Jakarta - Indonesia sebagai negara dengan ratusan suku bangsa, memiliki beberapa suku yang tetap bertahan dengan keaslian tradisi mereka. Salah satunya adalah suku Samin yang berasal dari pedalaman Blora, Jawa Tengah.

Suku Samin yang masih memegang teguh tradisi dan adat, memiliki ajaran sendiri. Mereka konsisten dalam berperilaku menjunjung tinggi kejujuran, tidak iri, tidak dengki, dan tidak berprasangka jelek pada orang lain. Selain itu, bersikap apa adanya tanpa mengada-ada.

Ajaran Sedulur Sikep

Ajaran Samin yang disebut Saminisme, adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan Sedulur Sikep. Dulu, ajaran ini membuat orang suku Samin dianggap kurang pintar dan sinting.

Kata Sedulur memiliki arti "saudara", dan Sikep adalah "senjata". Sedulur Sikep bermakna ajaran Samin yang mengutamakan perlawanan tanpa senjata dan tanpa kekerasan. Semua berawal dari masa penjajahan Belanda dan Jepang pada zaman dahulu. Sedulur Sikep artinya mereka mengobarkan semangat perlawanan kepada Belanda, dengan cara menolak membayar pajak dan semua peraturan dari pemerintah kolonial.

Masyarakat suku Samin sering kali memusingkan pemerintah Belanda dan Jepang dengan sikap ini, yang mana sampai sekarang masih suka dianggap menjengkelkan oleh kelompok luar.

Namun, suku Samin justru senang jika disebut Wong Sikep. Pasalnya, menurut mereka, istilah atau sebutan ini berkonotasi positif yaitu berarti orang yang baik dan jujur.

Masyarakat Samin memang dikenal jujur dan terbuka pada siapapun, termasuk pada orang yang belum dikenal. Mereka akan berbicara sesuai realitas tanpa rekayasa, meski kadang dinilai sebagai sikap lugu yang cenderung bodoh. Cara inilah yang digunakan saat dulu melawan Belanda, meski sudah mengerti namun pura-pura tidak mengerti.

Mereka juga menganggap semua orang sebagai saudara dengan mengedepankan kebersamaan. Contohnya berlaku dalam hal simpan-pinjam. Di salah satu daerah yang masih kuat memegang ajaran Samin, ada arisan setiap 35 hari sekali. Iuran akan dikumpulkan menjadi tabungan, lalu bisa dipinjamkan kepada siapa saja tanpa ada bunga.

Selain itu, ada juga sikap gotong royong yang tinggi. Misalnya, saat ada yang membangun rumah atau mengerjakan sawah, tanpa diminta semua warga akan datang untuk membantu. Gotong royong ini dikenal oleh suku Samin sebagai Sambatan atau Rukunan.

Keunikan lainnya, mereka memegang teguh Solahing Ilat atau gerak lidah. Artinya, lidah harus dijaga agar tetap mengucapkan kata-kata yang jujur dan tidak menyakiti orang lain. Jangan menyakiti orang lain, kalau tidak mau disakiti. Jangan membohongi orang lain kalau tidak ingin dibohongi, jangan mencelakai orang lain kalau tidak mau celaka, dan masih banyak lagi.

Sosok Tokoh Samin Surosentiko

Samin berasal dari nama seorang penduduk, Ki Samin Surosentiko, yang lahir pada 1859 di Desa Poso, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dulu Samin dianggap sebagai residivis oleh pemerintah Belanda, atau penjahat yang keluar-masuk penjara.

Namun, bagi masyarakat di pedesaan Bojonegoro, ia memiliki predikat sebagai pencuri berhati mulia, mirip dengan kisah Robin Hood di hutan Sherwood, Inggris. Bahkan, seorang guru besar di Surabaya menyebut sosok Samik sebagai intelektual desa.

Samin juga merupakan seorang pemimpin yang sangat dihormati, pejuang pergerakan melawan pemerintah kolonial Belanda, guru kebatinan, dan raja tanah Jawa.

Lokasi, Kebiasaan, dan Lingkungan Suku Samin

Masyarakat Samin mewarisi budaya tani dan tinggal mengelompok di daerah tertentu. Dikenal sebagai masyarakat yang tertutup, sebagian besar dari mereka tinggal di Dusun Tambak, kurang lebih 40 kilometer dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Namun, selama lebih dari satu dasawarsa, ada suku Samin yang menyebar sampai ke luar wilayah Blora, seperti di Kabupaten Kudus, Pati, Grobogan, Rembang, Bojonegoro, dan Ngawi.

Meski di tengah kehidupan modern, mereka tetap memegang ajaran Saminisme dari leluhur. Masyarakat Samin memang dikenal dengan keluguan, kejujuran, dan sikap apa adanya yang kadang nyeleneh sehingga dipandang masyarakat lain secara berbeda. Namun dibalik itu, ada pesan terutama mengenai kejujuran yang bisa diteladani dari kehidupan suku Samin.



Simak Video "Mengakhiri Perjalanan Kereta, Blora, Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia