3 Perjuangan RA Kartini yang Selalu Dikenang

Anastasia Anjani - detikEdu
Sabtu, 27 Mar 2021 16:42 WIB
Kamar pingit RA Kartini di Jepara, Rabu (28/2/2018).
Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jakarta - Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia merayakan hari Kartini untuk menghormati jasanya. RA Kartini dikenal sebagai pahlawan yang giat memperjuangkan emansipasi wanita.

RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879.

RA Kartini dikenal sebagai pahlawan yang mempelopori kesejahteraan derajat antar gender di Indonesia. Perjuangan RA Kartini dimulai saat dirinya merasa ada ketidakadilan antara pria dan wanita dalam hal mengenyam pendidikan.

Berikut adalah 5 Perjuangan R.A Kartini yang selalu dikenang masyarakat Indonesia yang dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:

1. Ingin Mendirikan Sekolah Wanita

Seperti wanita Jawa pada umumnya saat itu, Kartini dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seseorang keturunan ningrat. Beliau adalah Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang memiliki tiga istri.

Kartini akhirnya menikah dengan bupati tersebut pada 12 November 1903. Kartini ingin mendirikan sekolah sekolah wanita. Sang suami mengerti keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah wanita.

Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik Etis.

2. Pemikiran Feminisme di Indonesia

Perjuangan R.A Kartini lainnya berupa pemikiran-pemikirannya yang dituliskan melalui surat-suratnya. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi.

Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Pemikiran Kartini juga merupakan pioner dari pemikiran feminisme di Indonesia.

Pada perkenalan dengan seorang perempuan Belanda bernama Estelle 'Stella' Zeehandelaar, Kartini menulis surat dengan mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

3. Habis Gelap Terbitlah Terang

Wafatnya R.A Kartini tidak mengakhiri perjuangannya. Salah satu temannya di Belanda, yaitu Mr. J.H. Abendanon yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, mengumpulkan surat-surat Kartini yang pernah dikirimkan oleh Kartini kepada dirinya.

Abendanon membukukan surat tersebut dan memberi judul yaitu Door Duisternis tot Licht yang berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" atau yang bisa disebut Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut dicetak pada tahun 1911. Di dalam buku tersebut menunjukkan perubahan pola pikir Kartini.

Buku tersebut mengubah pola pikir masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi kala itu. Tulisan dari buku Kartini juga menginspirasi W.R Soepratman dalam menulis lagu Ibu Kita Kartini.

Demikianlah perjuangan R.A Kartini seperti yang dijabarkan di atas. Jangan lupa untuk selalu meneruskan semangat R.A Kartini ya detikers.



Simak Video "KuTips: Cara Baca Al-Qur'an dengan Tanda Waqaf"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia