Tari Seudati, Tari Unik Berasal dari Aceh

Faqihah M Itsnaini - detikEdu
Kamis, 25 Mar 2021 09:00 WIB
Masjid Baiturrahman Aceh
Tari Seudati, tari Aceh yang punya keunikan (Foto: shutterstock)
Jakarta - Indonesia memiliki beragam tari daerah , salah satunya tari Seudati. Tarian asal Aceh ini memiliki suatu keunikan yaitu dibawakan tanpa iringan alat musik apapun.

Tari Seudati berasal dari daerah Pidie, Aceh. Namun ada juga sumber yang mengatakan kalau tari ini berkembang di daerah Aceh Utara. Meski belum ada catatan pasti mengenai asal-usul tari Seudati, diyakini tari ini berkembang sejak Islam masuk ke Aceh sekitar abad ke-16 Masehi.

Lalu, seperti apa sejarah, fungsi, dan gerakan tari Seudati?

Sejarah Tari Seudati

Tari Seudati berasal dari bahasa Arab 'Syahadat', yang artinya bersaksi atau pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah dalam Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa Seudati berasal dari kata 'Seurasi' yang berarti harmonis atau kompak.

Tarian ini dibawa dengan mengisahkan berbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu cara menyelesaikan persoalan bersama-sama. Awalnya, tarian Seudati dikenal sebagai tarian pesisir yang disebut Ratoh atau Ratoih. Artinya menceritakan untuk mengawali permainan atau diperagakan untuk bersuka ria saat musim panen atau malam bulan purnama.

Dalam Ratoh, ada cerita berbagai kisah sedih, gembira, nasihat, sampai kisah yang membangkitkan semangat juang. Istilah-istilah dalam Seudati umumnya berasal dari bahasa Arab, karena ulama yang mengembangkan Islam di Aceh berasal dari sana.

Tarian ini juga termasuk kategori Tribal War Dance atau Tari Perang, karena syairnya dianggap dapat membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk melawan penjajahan. Oleh sebab itu, Seudati sempat dilarang pada masa penjajahan Belanda, namun kini diperbolehkan kembali dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.

Fungsi Tari Seudati

Seudati banyak dikatakan sebagai tari yang dibawa ketika Islam masuk ke Aceh. Maka, tarian ini memiliki fungsi dipentaskan sebagai media dakwah bagi masyarakat agar terhibur sekaligus memahami agama Islam. Kemudian, fungsinya untuk membangkitkan semangat dari syair-syair yang dilantunkan selama tarian berlangsung.

Selain pengobar semangat, tarian ini mengandung filosofi kehidupan sehingga dapat mengajarkan nilai atau solusi bagi permasalahan. Semakin lama, tari Seudati juga banyak ditampilkan di berbagai acara seperti pernikahan, festival budaya, hingga promosi pariwisata di Aceh.

Komponen Tari Seudati

Tari Seudati ditarikan oleh delapan laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu syeh, satu orang pembantu syeh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut peet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Tarian ini unik karena tidak menggunakan alat musik seperti tarian pada umumnya. Sebagai pengiring, ada lantunan syair dari aneuk syahi. Serta bunyi tubuh penari yang berasal dari tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah, dan ketipan jari. Gerakan ini mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan.

Dalam pementasan tari Seudati, ada beberapa babak/sesi yaitu Saleum aneuk, Saleum syeh, Likok, Saman, Kisah, Lanie/Gambus pembuka, dan Gambus penutup. Syair-syair Seudati berisi pesan agama Islam, pesan adat, pembakar semangat, dan kisah sejarah Aceh. Namun selama perkembangan, syairnya juga bisa disesuaikan. Biasanya seorang syeh ataupun aneuk syahi yang handal dapat menciptakan syair secara spontan sesuai dengan kondisi ketika tampil. Syairnya sendiri bersajak ab ab.

Saat pentas, penari Seudati memakai baju berwarna putih dipadu dengan celana panjang. Sedangkan aksesorisnya terdiri dari kain songket yang dililitkan di pinggang hingga paha. Selain itu, dilengkapi Rencong di bagian pinggang dan Tangkulok (ikat kepala) berwarna merah.

Pada tahun 2014, tari Seudati ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Aceh. Selain itu, juga sedang diusulkan kepada UNESCO sebagai Warisan Seni Budaya Tak Benda Dunia. Semua ini dilakukan untuk menjaga kelestarian tari Seudati yang berasal dari kota Serambi Mekkah. (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia