Kateter Urine: Fungsi dan Jenis-jenisnya

Lusiana Mustinda - detikEdu
Rabu, 24 Mar 2021 18:15 WIB
Manfaat Minum Urin Sapi
Foto: Getty Images/iStockphoto/microgen
Jakarta - Kateter urine adalah tabung berlubang, sebagian fleksibel yang mengumpulkan urine dari kandung kemih dan mengarah ke kantong drainase

Kateter dibuat dari beberapa bahan seperti karet, plastik (PVC) dan silikon. Kateter umumnya diperlukan jika seseorang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya. Jika kandung kemih tidak dikosongkan, urine dapat menumpuk dan menyebabkan tekanan pada ginjal.

Tekanan tersebut bisa menyebabkan gagal ginjal, yang bisa berbahaya dan mengakibatkan kerusakan permanen pada ginjal. Kebanyakan kateter diperlukan sampai Anda bisa buang air kecil sendiri. Orang tua dan mereka yang mengalami cedera permanen atau penyakit parah mungkin perlu menggunakan kateter urin untuk waktu yang lebih lama atau secara permanen.

Untuk apa kateter urine digunakan?


Dilansir dalam Healthline, seorang dokter biasanya merekomendasikan kateter jika Anda tidak dapat mengontrol kapan Anda buang air kecil, mengalami inkontinensia urine dan mengalami retensi urine.

Ada beberapa alasan yang menjadikan seseorang tidak bisa buang air kecil sendiri meliputi aliran urine tersumbat karena kandungan kemih atau batu ginjal, pembekuan darah dalam urine atau pembesaran kelenjar prostat yang parah, operasi pada kelenjar prostat, operasi di area genital seperti perbaikan patah tulang pinggul atau histerektomi, cedera pada saraf kandung kemih hingga kondisi yang mengganggu fungsi mental seperti demensia karena obat-obatan yang mengganggu kemampuan otot kandung kemih Anda untuk menekan yang menyebabkan urine tetap terangkut di kandung kemih Anda.

Jenis-jenis kateter urine


Ada tiga jenis kateter yakni kateter menetap, kateter eksternal dan kateter jangka pendek.

1. Kateter yang menetap (kateter uretra atau suprapubik)

Kateter yang menetap adalah kateter yang berada di kandung kemih. Ini juga dikenal sebagai kateter Foley. Jenis kateter ini dapat berguna untuk jangka waktu pendek dan panjang.

Seorang perawat biasanya memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra. Terkadang, penyedia layanan kesehatan akan memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui lubang kecil di perut. Jenis kateter yang menetap ini dikenal sebagai kateter suprapubik.

Balon kecil di ujung kateter digelembungkan dengan air untuk mencegah tabung meluncur keluar dari tubuh. Balon kemudian bisa mengempis saat kateter perlu dilepas.

2. Kateter eksternal (kateter kondom)

Kateter eksternal adalah kateter yang ditempatkan di luar tubuh. Ini biasanya diperlukan untuk pria yang tidak memiliki retensi urine tetapi memiliki disabilitas fungsional atau mental yang serius seperti demensia. Alat yang terlihat seperti kondom menutupi kepala penis. Sebuah tabung mengarah dari perangkat kondom ke kantong drainase.

Kateter ini umumnya lebih nyaman dan memiliki risiko infeksi yang lebih rendah daripada kateter yang menetap. Kateter eksternal atau kondom ini biasanya perlu diganti setiap hari, tetapi beberapa mereka dirancang untuk penggunaan yang lebih lama. Ini dapat menyebabkan lebih sedikit iritasi kulit daripada kateter kondom yang memerlukan pengangkatan dan penggunaan ulang setiap hari.

3. Kateter jangka pendek (kateter intermiten)

Seseorang mungkin hanya membutuhkan kateter untuk waktu yang singkat setelah operasi sampai kandung kemihnya kosong. Setelah kandung kemih kosong, kateter jangka pendek perlu dilepas. Penyedia layanan kesehatan menyebut ini sebagai kateter masuk dan keluar.

Meskipun begitu, kateter urine yang menetap adalah penyebab utama infeksi saluran kemih terkait perawatan kesehatan (ISK). Oleh karena itu, penting untuk selalu membersihkan kateter guna mencegah terjadinya infeksi.

Salah satu gejala ISK yang disebabkan dari penggunaan kateter urine adalah demam, panas dingin, urine keruh karena nanah hingga adanya darah dalam urine.





Simak Video "Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Personel Polres Sinjai Jalani Tes Urine!"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia