Aliran Cingkrik Goning: Asal, Pencipta, dan Gerakan Silat Khas Betawi

Faqihah M Itsnaini - detikEdu
Rabu, 03 Mar 2021 18:03 WIB
Ribuan pendekar Betawi dari berbagai perguruan silat hari ini menyerbu kawasan car free day (CFD) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat,  hari Minggu (7/8/2016). Kedatangan para pendekar itu, dalam rangka memeriahkan event bertajuk 1000 Pendekar Jilid 2 Lebaran Pendekar Betawi 2016.Hasan Alhabshy/detikcom
Ilustrasi pencak silat (detikcom)
Jakarta - Betawi yang terkenal dengan budaya silat, memiliki kurang lebih 300 aliran. Salah satunya, aliran Cingkrik Goning yang merupakan aliran silat dengan mengandalkan kelenturan dan kecepatan.

Aliran ini lahir dan populer di tengah rakyat Betawi hingga sekarang. Konon katanya, silat ini lahir pada awal abad ke-20 dan berkembang di Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat. Tokoh yang memperkenalkan silat ini adalah seorang pendekar bernama Ki Maing.

Ternyata, aliran Cingkrik Goning terinspirasi dari gerakan monyet yang dulu berusaha merebut tongkat Ki Maing. Si monyet menghindar saat diserang, lalu menyerang balik dengan cepat. Menyerang dengan cepat dan lincah ini akhirnya menjadi ciri khas silat Cingkrik. Penyebutan Cingkrik sendiri memiliki arti gerakan yang lincah, gesit, dan lentur.

Setelah Ki Maing benar-benar menguasai ilmu silat Cingkrik, ia menurunkan ilmu silatnya ke beberapa murid, diantaranya adalah Saari, Ajid, dan Ali. Dari mereka bertiga, silat Cingkrik kembali diturunkan kepada Wahan, Bang Nur, Munasik, Uming, Ayat, Majid, Legod, Sinan, dan Goning.

Murid-murid ini lalu mengajarkan kepada murid lainnya yang tinggal di luar Kampung Rawa Belong. Sampai kemudian gerakan silat Cingkrik meluas ke beberapa daerah, seperti Kampung Tenabang, Kemandoran, Kebok Jeruk, Kelapa Dua, dan lain-lain.

Secara umum, silat Cingkrik mempunyai 12 jurus dasar dan 3 jurus sambut. 12 jurus silat Cingkrik disebut juga Bongbang. Nama jurusnya seperti Keset Bacok, Keset Gedor, Cingkrik, Langkah Tiga, Langkah Empat, Buka Satu, Saup, Macam, Tiktuk, Singa, Lokbe, dan Longok. Lalu nama sambutnya, yaitu Sambut Tujuh Muka, Sambut Gulung, dan Sambut Detik atau Sambut Tutup.

Meski begitu, berbagai jurus ini hanyalah petunjuk dasar bagi murid yang mau mengajar. Pasalnya, tiap guru dapat mengembangkan metode baru dalam pengajaran mereka. Sehingga tiap jurus berkembang fleksibel sekaligus tetap mempertahankan inti gerakan yaitu gesit, lincah, dan lentur. Serta menyerang sekaligus bertahan, bertahan tetapi sebenarnya menyerang.

Misalnya, ada jurus yang menitikberatkan pada serangan khusus bagian atas, seperti menotok serangan tangan ke arah ulu hati, leher, dada, dan muka. Ada juga yang mengembangkan gerakan atas-bawah, dan sebagainya.

Saat ini, ada dua aliran Cingkrik yang masih bertahan yaitu aliran Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan. Keduanya diambil dari nama pewarisnya yaitu Ki Goning dan Ki Sinan.

Perbedaannya, Ki Sinan menggunakan 'ilmu kontak' sementara Ki Goning mengandalkan kelincahan fisik, selalu berusaha masuk dan mengunci lawan, serta tidak berlama-lama bertukar pukulan atau tendangan.

Namun, dikutip dari buku Silat Nusantara oleh Erik R. Prabowo, antara silat Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning hanya berbeda dalam langkah dan gerakan saja. Jurus Cingkrik Goning lebih memiliki langkah dan gerakan yang melebar. Maka, rentangan kuda-kuda maupun tangan lebih lebar. Sedangkan jurus silat Cingkrik Sinan menggunakan langkah dan gerakan pendek-pendek. Rentangan kuda-kuda dan gerakan tangan pun tidak terlalu lebar.

Pewaris aliran Cingkrik Goning saat ini adalah Tubagus Bambang Sudrajat yang melatih di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jika tertarik, detikers dapat menyaksikan latihan mereka dengan berkunjung ke sana, lho. (pal/ddn)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia