Pro Kontra Beasiswa STEM Jadi Prioritas, Apa Kata Kampus?

ADVERTISEMENT

Pro Kontra Beasiswa STEM Jadi Prioritas, Apa Kata Kampus?

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 11 Feb 2026 15:07 WIB
Pro Kontra Beasiswa STEM Jadi Prioritas, Apa Kata Kampus?
Ilustrasi kuliah STEM. Foto: Gemini AI
Jakarta -

Sejumlah beasiswa Pemerintah RI kini diprioritaskan pada bidang sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika (STEM). Hal ini selaras dengan salah satu prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni penguatan pendidikan, sains, teknologi, serta digitalisasi.

Presiden Prabowo Subianto mengharapkan peningkatan alokasi beasiswa LPDP bidang STEM hingga 80%. Diketahui, beasiswa LPDP tahun ini terdiri dari beasiswa STEM Industri Strategis, beasiswa SHARE (Social, Humanities, Art for People, Religious Study, Economics), beasiswa khusus kementerian, beasiswa kerja sama khusus, beasiswa kemitraan dan beasiswa non-degree.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, pelajar RI juga berkesempatan kuliah dengan Beasiswa Garuda. Beasiswa bagi putra-putri Indonesia dari latar belakang yang belum terwakilkan ini merupakan bagian pengembangan ekosistem sains dan teknologi di Indonesia.

Porsi STEM pada beasiswa-beasiswa RI saat ini memicu pro-kontra di kalangan peminatnya. Sejumlah kampus turut memberi pandangan atas beasiswa STEM serta pendidikan, pengabdian, dan kontribusi pada bidang ini.

ADVERTISEMENT

Non-STEM Jangan Didiskriminasi

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Komarudin M Si menyarankan agar tidak ada diskriminasi pada bidang sosial, humaniora, dan lain-lain pada kebijakan pendidikannya, termasuk beasiswa, karier, dan lainnya.

"Bahkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara ini justru bidang itulah yang sangat mempengaruhi arah jalannya bangsa dan negara ini," ucapnya pada Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi X dengan Rektor PTN dan PTS di Jakarta, disiarkan di kanal YouTube TVR Parlemen, Selasa (10/2/2026).

"Saya khawatirnya terjadi kegagalan seperti beberapa puluh tahun yang lalu ketika banyak beasiswa itu itu ke basic science, kami masih IKIP saat itu. Jadi yang dikirim-kirim untuk beasiswa itu ya kebanyakan MIPA, saintek,tapi ya faktanya tidak terlalu mendongkrak juga," kata Komarudin.

STEM - Non-STEM Jangan Dipisah

Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof dr Ova Emilia M Med Ed Sp OG(K) Ph D menyarankan pendidikan STEM dan non-STEM menjadi sinergi dalam satu ekosistem untuk menyelesaikan masalah. Maka, kebijakan penelitian dan pengabdian masyarakat serta beasiswa dosen dan untuk non-STEM tidak ada dikotomi dengan STEM.

"Karena pada saat kita mau menyelesaikan masalah itu terbukti hanya dengan STEM pun itu tidak akan mungkin terjadi. Sehingga memang keduanya harus dilihat bersama-sama," ucapnya pada kesempatan yang sama.

Ova mencontohkan, sebuah teknologi baru butuh banyak pendekatan lewat peran non-STEM agar implementasinya bisa diterima masyarakat. Desain universitas sendiri menurutnya mencerminkan sinergi ini dengan adanya unsur pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.

"Saling melengkapi dan menunjukkan bagaimana peran dari universitas itu sendiri di dalam pemerintah atau di dalam negara," ucapnya.

Berpihak, Bukan Mendiskriminasi

Sedangkan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Diponegoro Prof Dr rer nat Heru Susanto S T M M M T menilai berpihak pada bidang STEM tidak berarti mendiskriminasi.

Heru menambahkan, keberpihakan pada STEM lewat beasiswa juga untuk mendorong minat pelajar kuliah di bidang ini. Ia menuturkan, berdasarkan interaksi dengan ratusan siswa kelas 3 SMA, jumlah peminat jurusan fisika, kimia, dan biologi sangat timpang dibanding peminat kedokteran, hukum, dan bisnis digital.

"Toh pada akhirnya, sehebat apapun STEM, yang menentukan itu non-STEM. Manajemennya seperti apa, policy-nya seperti apa," ucapnya pada RDPU.

Ia menambahkan, dengan keterbatasan anggaran, prioritas pun ditentukan dengan jangka pendek, panjang, dan menengah.

"Makanya kalau dalam konteks pemberian beasiswa dan sebagainya mungkin dalam konteks jangka pendek memang perlu berpihak pada STEM. Ini pandangan kami. Tapi mohon dicatat, lagi-lagi berpihak itu bukan berarti mendiskriminasi. Ya artinya, bisa 60:40, 70:30, 80:20, itu tentu sangat tergantung pada jangka pendeknya seperti apa," jelasnya.




(twu/pal)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads