Tak Sekadar Tontonan, Tari Kecak di Pura Uluwatu Miliki Filosofi Magis

Triwidiyanti - detikBali
Rabu, 10 Agu 2022 21:42 WIB
Uluwatu -

Tari Kecak yang kerap ditampilkan di Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Kabupaten Badung menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun asing.

Tarian ini bukan hanya sekadar tontonan atau pertunjukan biasa, namun juga memiliki filosofi penuh magis.

Ketua Sanggar Tari Tabuh Karangboma, Desa Adat Pecatu I Made Astra menjelaskan, secara filosofi tari Kecak yang sudah eksis di Desa Adat Pecatu sejak tahun 1930an memiliki nilai magis.


"Artinya kita dengan pementasan dengan beberapa penari Kecak, penari tari kita mengambil epos Mahabharata dan Ramayana," terang I Made Astra kepada detikBali di Pura Luhur Uluwatu, Kamis (10/8/2022).

Dari sinilah, lanjutnya, banyak filosofi - filosofi yang didapat seperti ceritanya.

"Untuk kecaknya, artinya tarian bisa berkumpul tarian yang memiliki nilai magis di sini dulu belum ada penerangan dan kami hanya gunakan penerangan alam," imbuh I Made Astra.

Selain itu menurutnya, tarian kecak juga memiliki makna menyatukan antara warga di Bali.

"Ya kalau berkumpul kami juga bersenda gurau, para penari juga harus memainkan formasi-formasi sehingga drama bernilai estetis," ungkapnya.

Dan dalam perkembangannya, Tari Kecak di Uluwatu ada dua kelompok, katanya. Pertama Kecak Uluwatu dan Karang Boma.

"Tahun 90-an itu belum berkembang. Kami coba bagaimana menghidupkan seni di Desa Pecatu yang bisa dikomersilkan sehingga kami punya modal secara pemandangan dan punya SDM yang ingin meningkatkan taraf ekonomilah," kata Astra.

Bahkan imbuh Astra, untuk penghasilan seorang penari Kecak jika dikalkulasikan mampu meraih uang Rp30 juta sebulan selama 18 kali tampil.

"Sebelum covid tembus Rp23 juta per bulan itu menari 18 kali. Setelah covid Mei diatas Rp20 juta, bulan Juli 30 juta itu 18 kali performance per orang ya," jelasnya.

Untuk di musim liburan seperti bulan Juli-Agustus 2022 saat ini, ditambahkan Ketua Kecak Karangboma I Made Sudira merupakan masa puncaknya turis asing berlibur.

"Kalau rata-rata harian pengunjung itu kita di kisaran 1200-an lah pengunjung baik lokal maupun asing. Karena kapasitas panggung itu maksimal 1200, dan bulan Agustus ini pengunjung didominasi turis asing," terang I Made Sudira.

Di masa pandemi saat ini, pihaknya katanya membuka destinasi wisata Tari Kecak dengan protokol kesehatan secara ketat. Dan untuk penampilan tarian pasca Presiden Joko Widodo mengimbau untuk lepas masker katanya, para penari pun kini tampil tanpa masker.

Saat ini ada 90 orang yang tergabung dalam grup tari Kecak Karangboma yang ada di Uluwatu. Dan untuk tetap eksis di Desa adat Pecatu katanya, garis keturunannya harus terus tetap ada yang menari Kecak.

"Sampai mereka tidak ada harus ada generasi penerus agar Tari Kecak tetap eksis kita tambal sulam lah," katanya.

Seperti pantauan Kamis (10/8/2022) sebanyak 1225 orang turis asing dan lokal memadati panggung Open Air Stage Uluwatu.

Untuk dapat menikmati Tari Kecak dan Fire Dance di kawasan Pura Luhur Uluwatu wisatawan baik lokal maupun asing dikenakan tarif Rp150 ribu.

Harga ini menurut Sudira sangat pantas mengingat ada 4 obyek yang dapat dinikmati wisatawan. Empat spot itu seperti pemandangan alam pantai dengan sunsetnya (matahari terbenam), ada monyet liar yang tidak jahat, ada pura Luhur Uluwatu dan terakhir katanya Tarian Kecak itu tadi.

Dan jika pengunjung penuh katanya, tari Kecak dapat dimainkan dua sesion (dua kali).

(dpra/dpra)