detikBali

Ribuan Warga Mataram Protes Masuk Desil 10 DTSEN

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ribuan Warga Mataram Protes Masuk Desil 10 DTSEN


Nathea Citra - detikBali

Warga Bandung protes usai masuk desil 10
Ilustrasi desil 10. (Foto: Rifat Alhamidi)
Mataram -

Masuk desil 10 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), ribuan warga Kota Mataram memilih mengajukan sanggahan. Mereka keberatan karena kondisi ekonomi yang mereka jalani dinilai tidak menggambarkan peringkat tersebut.

Kepala Dinsos Mataram, Muzakkir Walad, mengatakan ribuan warga telah mengajukan sanggahan sepanjang 2026. Menurutnya, ketidaksesuaian data tersebut disinyalir terjadi saat proses wawancara pendataan.

"(Kemungkinan) salah mereka menjawab, sehingga salah juga di sistem," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (27/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah banyak yang menyanggah. Ada ribuan warga yang menyanggah," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Muzakkir mengatakan tingginya jumlah sanggahan tidak menjadi kendala dalam proses verifikasi dan perbaikan data. Menurutnya, proses tersebut dapat dilakukan dalam waktu singkat.

"Proses sanggahannya terbilang cepat. Hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit saja," jelasnya.

Muzakkir mempersilakan masyarakat yang merasa mengalami kendala dalam pemeringkatan desil untuk mengajukan sanggahan ke Dinsos Mataram.

Sebelumnya, sejumlah warga Mataram mengeluhkan hasil pemeriksaan desil dalam DTSEN. Mereka mengaku kaget setelah mengetahui namanya masuk desil 9 bahkan 10, meski kondisi ekonomi masih pas-pasan.

Salah satunya Fikri, warga Mataram. Ia mengaku tercatat dalam desil 10 meski saat ini masih tinggal di rumah kontrakan.

"Kaget kok bisa saya masuk desil 10. Padahal saya ngontrak rumah di sini, motor juga cuma satu, itupun motor butut. Kok bisa desil 10," katanya, Rabu.

Fikri menilai hasil pemeringkatan tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonominya. Ia berharap data DTSEN dapat diperbarui agar sesuai dengan keadaan masyarakat sebenarnya.

"Kalau saya punya 2 mobil, 10 motor, rumah di BTN mewah, gaji dua digit, nah itu cocok jadi desil 10. Kenyataanya motor satu, rumah masih ngontrak," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Nabila yang juga tercatat dalam desil 10. Ia mengaku masih tinggal di kos-kosan bersama suami dan baru memiliki satu sepeda motor. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan penghasilan suami.

"Kami masih tinggal di kos, motor cuma satu. Penghasilan suami UMK di sini. Kami sederhana lah, tapi kok bisa masuk desil 10," keluhnya.



(dpw/dpw)









Hide Ads