Sekitar 100 warga korban gempa 7,7 magnitudo masih bertahan di pos pengungsian Mbay 2, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga bertahan di sana meski dengan berbagai keterbatasan.
Kondisi ini sudah dialaminya sejak awal kejadian gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Mereka masih bertahan dalam situasi tersebut tanpa didukung fasilitas yang memadai, seperti toilet, tenda, selimut hingga kecukupan sembako.
Posko pengungsian ini terletak di pinggiran Mbay, Ibu Kota Nagekeo, yang jaraknya sekitar 12 kilomoter (km) dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Meski demikian, distribusi bantuan untuk kebutuhan primer dan sekunder belum tersentuh secara merata.
Saat malam hari, mereka hanya mengandalkan cahaya senter sebagai penerangan. Anak-anak pun terpaksa tidur di atas terpal yang dibentangkan di atas tanah gersang sebagai alas tidur tanpa bantal hingga mengalami kedinginan.
Di lain sisi, bila untuk mengecas handphone (HP), mereka harus kembali ke rumahnya yang berjarak sekitar 3 km di tengah ancaman gempa susulan.
Warga yang mengungsi terbagi dalam lima posko pengungsian yang berada di bawah sebuah bukit. Lokasi ini sangat gersang dan suhunya sangat panas. Kondisi itu membuat mereka resah lantaran kebutuhan dasar yang mendesak masih diabaikan.
Bahkan, bila mau membuang air besar dan kecil saja mereka terpaksa masuk ke semak-semak. Sebab, tidak ada fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang disediakan di posko darurat itu.
Simak Video "Video: Kondisi Pengungsian Terkini di NTT Pasca Gempa"
(hsa/hsa)