Sebanyak 30 penumpang kapal wisata Interniti berhasil diselamatkan setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Satonda, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dini hari tadi. Sebelum karam, kapal yang melayani rute Lombok-Labuan Bajo itu dilaporkan mengalami mati mesin.
Proses penyelamatan dilakukan awak kapal wisata Lamima yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi sebelum kapal Interniti tenggelam diterjang gelombang.
Informasi kecelakaan laut tersebut diunggah di media sosial oleh akun Facebook @Bambang Irawan. Pemilik akun diketahui merupakan Guide Dive (penyelam profesional) asal Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Insiden itu terjadi sekitar pukul 04.00 dini hari tadi. Kebetulan saya bagian tim penyelamat dari kapal wisata Lamima," ujar Bambang saat dikonfirmasi detikBali, Sabtu (1/8/2026).
Bambang menjelaskan kapal wisata Interniti berlayar dari Lombok menuju Labuan Bajo ketika mengalami mati mesin saat melintas di perairan Satonda, Dompu. Informasi mengenai kondisi kapal pertama kali diterima melalui grup WhatsApp Pariwisata Indonesia.
"Informasi awalnya kapal Interniti yang berlayar Lombok menuju Labuan Bajo tiba-tiba mati mesin saat melewati perairan Satonda," katanya.
Mendapat informasi tersebut, awak kapal Lamima yang juga sedang melintas di perairan Satonda segera bergerak menuju lokasi. Seluruh penumpang kemudian dievakuasi ke kapal Lamima.
"Setelah seluruh penumpang dievakuasi ke dalam kapal Lamima, kapal Interniti yang mati mesin langsung tenggelam akibat dihantam gelombang," jelasnya.
Menurut Bambang, total terdapat 30 orang di dalam kapal Interniti, terdiri atas 20 wisatawan asing, dua guide, dan delapan anak buah kapal (ABK).
"Semua penumpang dan ABK yang jumlahnya 30 orang selamat dan berhasil diungsikan ke Pelabuhan Calabai, Dompu," sebut dia.
Setelah tiba di Pelabuhan Calabai dan dipastikan tidak ada korban luka, para wisatawan, guide, serta ABK melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Penyeberangan Sape, Kabupaten Bima, menggunakan bus umum.
"Tadi pagi langsung berangkat menuju Pelabuhan Sape. Tujuan akhir mereka tetap ke Labuan Bajo meski menggunakan kapal penyebrangan Ferry," imbuh Bambang.
Sebagai pemerhati wisata dan Guide Dive, Bambang berharap otoritas terkait memeriksa dan menguji kelayakan kapal-kapal wisata yang mengangkut penumpang. Menurutnya, masih banyak kapal berukuran kecil yang tidak layak berlayar dan mengangkut muatan melebihi kapasitas sehingga berisiko tenggelam.
"Harus diuji dan diperiksa kapal yang berlayar saat cuaca buruk seperti ini. Dalam sebulan ini saja ada beberapa kapal wisata yang tenggelam di perairan Bima dan Dompu," tandasnya.