DPRD Minta Kadis PU-Kontraktor Tuntaskan Jalan Lenangguar-Lunyuk Pekan Ini

Ahmad Viqi - detikBali
Rabu, 01 Jul 2026 21:14 WIB
Foto: Kepala Dinas PU Perkim NTB Lalu Wijaya Kusuma saat rapat dengar pendapat, Rabu (1/7/2026). (Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PU Perkim) NTB beserta pihak kontraktor proyek jalan long segment Lenangguar-Lunyuk yang molor dikerjakan.

Pemanggilan ini, meminta kejelasan sekaligus mendesak penyelesaian proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk yang kini telah melampaui masa kontrak awal.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP), jajaran Komisi IV DPRD NTB menegaskan agar sisa pengerjaan infrastruktur tersebut dapat dituntaskan seluruhnya dalam pekan ini agar manfaatnya bisa segera dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

Kepala Dinas PU Perkim NTB, Lalu Wijaya Kusuma, menjelaskan bahwa proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk saat ini sebenarnya sudah hampir rampung. Sisa pekerjaan dari kontrak awal senilai Rp 8 miliar dengan total nilai proyek Rp 19 miliar tersebut kini tinggal menyisakan 1,6 persen saja.

"Tinggal 1,6 persen. Kami targetkan dalam 7 hari ini tuntas," ujar Wijaya seusai pertemuan di Gedung DPRD NTB, Rabu sore (1/7/2026).

Wijaya membeberkan sejumlah kendala berat di lapangan yang memicu keterlambatan pengerjaan proyek tersebut. Mulai dari faktor cuaca, mobilisasi material yang terhambat, hingga kerusakan peralatan (delay) di badan jalan. Selain itu, kondisi geografis yang ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri.

"Ke sana itu tidak semudah yang dibayangkan. Banyak longsoran dan kerusakan jalan mulai dari Sekongkang Atas hingga Lunyuk. Permukaan jalan sebenarnya sudah siap ditutup aspal, namun produksi aspal sempat tertunda karena kontraktor harus melakukan negosiasi ulang harga bahan baku," paparnya.

Di tempat yang sama, kontraktor proyek jalan Lenangguar-Lunyuk, Sabrin, memberikan penjelasan langsung mengenai situasi rill di lapangan yang mereka hadapi. Menurutnya, kondisi di kawasan Lunyuk memiliki tingkat kesulitan geografis yang berbeda dari wilayah biasa.

"Di Lunyuk itu berbeda. Pada saat kami berupaya menyelesaikan pekerjaan ini, berbagai bencana longsor terjadi hingga menyebabkan akses jalan terputus," ungkap Sabrin.

Selain faktor alam, Sabrin mengakui adanya kendala teknis yang mengharuskan mereka melakukan negosiasi ulang terkait pasokan bahan baku aspal dan operasional asphalt mixing plant (AMP).

"Fasilitas AMP itu sangat jarang di Sumbawa. Kami harus melakukan negosiasi ulang. Seandainya alat (AMP) itu bisa segera kembali normal, pengerjaan sebenarnya langsung selesai," tambahnya.

Meski didera berbagai hambatan, Sabrin menegaskan komitmennya untuk merampungkan sisa proyek tanpa menurunkan kualitas. Pihaknya juga siap menerima konsekuensi finansial akibat keterlambatan pengerjaan tersebut.

"Kami akan selesaikan dengan tidak mengurangi spesifikasi teknis sedikit pun. Konsekuensi denda per hari per mil (seperseribu dari nilai kontrak) tetap berjalan, walaupun acuan pastinya belum ada saat ini," tegas Sabrin.



Simak Video "Video: Hamdan Kasim Jadi Tersangka Gratifikasi Uang 'Siluman' Pokir DPRD NTB"


(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork