Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram memasang alarm keras terkait maraknya percakapan komunitas LGBT di media sosial. Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menegaskan tidak ada ruang untuk normalisasi perilaku menyimpang tersebut karena dikhawatirkan dapat menular di tengah masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan menyusul hebohnya dugaan percakapan seksual sesama jenis di salah satu grup komunitas LGBT di Facebook yang ramai diperbincangkan warga Mataram dalam beberapa hari terakhir.
Penelusuran detikBali di Facebook menemukan sejumlah akun menuliskan pesan berbau seksual. Salah satunya berbunyi, 'TOP Mataram, kalau mau main, chat saja. Info B yang bisa diajak siang ini.'
Tak hanya itu, akun lainnya juga menuliskan kata-kata tak senonoh seperti, 'Cari yang suka main terong. Nyari TOP umur 23 sampai 40 tahun, kalau ada inbox. TOP sekitaran Cakra ada kah?'
Mohan mengaku prihatin dengan fenomena tersebut. Ia khawatir perilaku itu berkembang luas dan memberi dampak buruk bagi kehidupan sosial masyarakat.
"Kita khawatirkannya nanti ini menjadi semacam perilaku yang menular, ke mana-mana menular dengan cepat. Kemudian memberikan dampak yang tidak baik dalam kehidupan masyarakat kita," kata Mohan, Rabu (10/6/2026).
Menurut Mohan, seluruh elemen masyarakat harus ikut terlibat membendung potensi berkembangnya perilaku menyimpang tersebut.
"Kondisi ini jadi keprihatinan kita juga, saya kira semua kita memberikan perhatian khusus pada potensi berkembangnya perilaku menyimpang seperti ini. (Intinya) tidak ada ruang untuk menormalisasi itu. kita berharap kerjasama semua pihak," tegas Mohan.
Belum Ada Laporan Aktivitas Terbuka
Meski grup tersebut ramai dibahas di media sosial, Pemkot Mataram mengaku belum menerima laporan adanya aktivitas komunitas tersebut secara terbuka di ruang publik. Namun, Mohan menegaskan kondisi itu bukan berarti aktivitas tersebut tidak ada.
"Kalau informasi yang kita terima belum secara vulgar, mereka menunjukkan aktivitasnya. Tetapi tidak kita katakan bahwa itu tidak ada, bahwa itu mungkin ada," ungkapnya.
Mohan juga meminta sekolah dan para guru ikut memperkuat pengawasan terhadap siswa melalui pemberian pemahaman dan penyadaran di lingkungan pendidikan.
"Nanti di sekolah-sekolah tentu juga harus terlibat untuk pemberian penyadaran agar anak-anak kita ini jangan menganggap itu (LGBT) sebagai hal yang lumrah, hal yang biasa, di tengah-tengah interaksi sosial mereka, di tengah-tengah kawan mereka," tegas Mohan.
Ia menilai pengawasan dari orang tua, lingkungan, hingga sekolah perlu diperketat agar perilaku tersebut tidak berkembang semakin luas.
"Jadi harus ada teguran, harus ada peringatan, sehingga mereka merasa diawasi dan kemudian kondisi itu tidak membuat mereka nyaman. Orang tua, lingkungan, guru, semua kita (harus gerak)," pungkasnya.
Simak Video "Video: Viral Aksi Ciuman Sesama Jenis Mahasiswa PNJ di Kampus"
(dpw/dpw)