Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 16 miliar untuk menangani dampak banjir dan angin puting beliung yang melanda lima kabupaten/kota. Bencana tersebut terjadi di Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Sadimin, menjelaskan dana tersebut disiapkan sesuai arahan Gubernur NTB untuk memenuhi kebutuhan mendesak di daerah yang tidak mampu ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi kami rapat, kami undang kabupaten kota untuk menyiapkan usulan program kegiatannya apa saja. Nah, yang nggak bisa ditangani akan dicarikan provinsi melalui dana BTT itu," ujarnya saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, Kamis (15/1/2026).
Dana Rp 16 miliar itu diprioritaskan untuk kebutuhan logistik mendesak dan perbaikan infrastruktur vital yang terdampak bencana. Seperti jembatan putus dan akses jalan utama ke wilayah terdampak.
"Itu untuk kebutuhan logistik, untuk kebutuhan infrastruktur, terutama jembatan-jembatan putus, yang jalan satu-satunya kan harus kami prioritaskan," tegas eks Kepala Dinas PUPR NTB itu.
Menurut Sadimin, banjir saat ini terjadi di empat wilayah, yakni Kabupaten Dompu, Bima, Lombok Tengah, dan Lombok Barat. Sedangkan Lombok Timur terdampak angin puting beliung.
Saat ini, BPBD NTB bersama tim Reaksi Cepat masih melakukan pendataan menyeluruh terkait total kerugian dan jumlah rumah warga yang rusak.
"Belum bisa kami sebutkan estimasi kerugian karena masih dihitung. Rumah yang rusak sudah ada datanya, tapi belum menyeluruh. Teman-teman masih turun ke lapangan," tutur Sadimin.
Untuk penanganan rumah rusak, Sadimin menyebutkan akan dilakukan secara kolaboratif sesuai kewenangan masing-masing, baik oleh pemerintah kabupaten/kota, Pemprov NTB, pemerintah pusat melalui BNPB, maupun Balai Wilayah Sungai (BWS).
Sadimin juga menyoroti banjir yang kerap berulang di wilayah Sekotong, Lombok Barat. Ia menilai frekuensi banjir di kawasan Desa Buwun Mas dan sekitarnya meningkat dalam empat hingga lima tahun terakhir akibat alih fungsi lahan di kawasan hulu.
"Kalau kami lihat ke atas (bukit), tutupan lahannya sudah jadi jagung semua. Dulu tidak pernah banjir, tapi empat sampai lima tahun terakhir ini kejadian terus. Ini akibat alih fungsi lahan," terangnya.
Ia menekankan pentingnya perubahan perilaku dan kesadaran bersama. Terutama masyarakat setempat dalam menjaga lingkungan agar bencana serupa tidak terus berulang.
"Kalau hanya memikirkan kepentingan sesaat, banjir akan terus jadi langganan. Ini yang harus sama-sama kita sadari dan ubah," pungkasnya.
Sebelumnya, Sadimin mengatakan hujan lebat yang terjadi pada Selasa (13/1) malam kemarin itu merendam 1.047 rumah di 3 desa Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Banjir juga menerjang dan 3 desa Lombok Tengah yakni Desa Kabul, Selong Belanak dan Desa Montong Ajan.
"Berdasarkan data update terakhir, bencana banjir yang terjadi kemarin mengakibatkan 1.047 KK terdampak di Lombok Barat dan 300 KK di Lombok Tengah," ujar Sadimin, Rabu (14/1/2026).
Selain itu, ada 26 rumah dan fasilitas umum rusak sedang dan berat akibat banjir di Kabupaten Bima. Selain itu, ada 2 rumah rusak ringan dan sedang di Kabupaten Dompu.