Sebanyak enam nelayan Kapal Triasmo Sejahtera terdampar di laut Timor Leste selama dua pekan lebih sejak 19 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026. Enam nelayan itu terdiri dari satu nakhoda Kapal Triasmo Sejahtera bernama Erfan Agus serta lima anak buah kapal (ABK), yakni Alfurkan Kapitan Lamahala, Juslan Tungga, Kamaruddin, Muhaimin Abas, dan Nawwir Gazali.
Kepala Stasiun Badan Keamanan Laut (Bakamla) Kupang, Mayor Yeanry M Olang, mengatakan menerima informasi dari pengurus kapal dan Kantor Search and Rescue (SAR) Kupang soal Kapal Triasmo Sejahtera hilang kontak dan belum kembali. Informasi itu diterima pada 29 Desember 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stasiun Bakamla Kupang, Kantor SAR Kupang, dan keluarga terus berkoordinasi melakukan upaya pencarian. Stasiun Bakamla Kupang kemudian menerima informasi dari keluarga pada 3 Januari 2026 ada ABK ditolong oleh kapal minyak di perairan Timor Leste.
Stasiun Bakamla Kupang lantas melakukan pelaporan secara berjenjang untuk menindaklanjuti informasi tersebut. Koordinasi sampai dilakukan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dilli, Timor Leste.
Enam nelayan itu akhirnya bisa kembali ke NTT. Stasiun Bakamla Kupang telah menerima para nelayan dari KBRI Dili di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota'ain, Belu, Rabu (7/1/2026).
"Hari ini telah dilaksanakan serah terima 6 orang ABK/nelayan WNI yang terdampar di Laut Timor oleh KBRI Dili ke Stasiun Bakamla Kupang," jelas Yeanry, melalui sambungan telepon.
Perwakilan KBRI di Dili, Nugroho Aribhimo, mengungkapkan awalnya mendapat informasi dari Bakamla Kupang soal ada nelayan yang hilang. Setelah dilakukan pencarian, KBRI di Dili akhirnya mendapatkan informasi nelayan telah dievakuasi ke Timor Leste.
Laporan yang diterima dari Otoritas Petroleum Nasional Timor-Leste (ANP) pada 3 Januari 2026, enam nelayan yang terdampar diselamatkan di kawasan eksplorasi minyak lepas Pantai Bayu Undan di Laut Timor. "Para ABK selanjutnya dievakuasi ke Dili menggunakan kapal milik perusahaan migas Santos (MMA Coral)," terang Nugroho.
Informasi yang didapatkan KBRI di Dili, terang Nugroho, keenam nelayan WNI berangkat melaut untuk mencari ikan pada 12 Desember 2025. Namun, mesin kapal mereka mati saat dalam perjalanan pulang pada 19 Desember 2025.
"Mesin kapal rusak (klep patah) sehingga kapal tidak dapat dioperasikan. Upaya perbaikan dan permintaan pertolongan tidak berhasil, menyebabkan kapal terombang-ambing di laut selama beberapa hari dengan persediaan logistik terbatas," terang Nugroho.
Para ABK lantas melihat anjungan proyek migas Bayu Undan pada awal Januari 2026 dan memberikan sinyal darurat. Setelah melalui prosedur keselamatan, mereka dievakuasi ke kapal MMA Coral milik perusahaan Santos.
"Kapal nelayan yang ditarik mengalami putus tali akibat cuaca buruk dan akhirnya tenggelam. Seluruh ABK dalam kondisi sehat selama proses evakuasi, penanganan hingga penampungan di KBRI Dili, serta tidak melaporkan adanya perlakuan tidak layak dari otoritas setempat," jelas Nugroho.
(hsa/hsa)










































