Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Amerta Dayan Gunung merespons soal warga Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, yang terpaksa menampung hujan untuk kebutuhan mandi dan memasak imbas krisis air bersih.
Komite Audit Perumda Amerta Dayan Gunung Lombok Utara, Bagiarti, menegaskan krisis air yang berlarut-larut bukanlah akibat ketiadaan solusi teknis yang diberikan PDAM. Krisis air yang terjadi di Gili Meno, tegasnya, adalah dampak provokasi dari pihak-pihak tertentu yang menghambat operasional mitra strategis PDAM dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Utara dengan PT Tiara Cipta Nirwana (TCN).
"Krisis ini akibat desakan penutupan tanpa solusi yang berimbas pada penderitaan warga Gili Meno saat ini adalah konsekuensi nyata dari desakan penutupan operasional mitra PDAM, yakni PT TCN," kata Bagiarti dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagiarti mengatakan upaya penghentian operasi PT TCN sebagai perusahaan satu-satunya penyedia air yang memiliki infrastruktur seawater reverse osmosis (SWRO) dilakukan tanpa alternatif pengganti. Tindakan ini sama dengan sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di kawasan destinasi wisata itu.
Bagiarti mengatakan PDAM Lombok Utara akan melakukan transisi metode horizontal directional drilling (HDD) ke sistem beach wells untuk memasok air ke Gili Meno. Secara teknis, sistem HDD meminimalkan kerusakan karang dibanding galian terbuka.
"Demi mengakhiri polemik dan menjamin keberlanjutan ekosistem di sana, PDAM dan PT TCN telah bersepakat untuk tidak lagi menggunakan open sea intake berbasis HDD. Sekarang kami sedang melakukan transisi teknologi ke intake infiltrasi air laut dengan sistem sumur pantai (beach wells)," lanjut Bagiarti
Bagiarti mengatakan sistem beach wells ini akan menyedot air melalui resapan pasir pantai sebagai filter alami sehingga nol risiko terhadap biota laut. Dia mengklaim sistem tersebut adalah solusi jalan tengah terbaik.
Meski sistem ini masih dalam perencanaan PDAM Lombok Utara, Bagiarti berujar, distribusi air ke masyarakat Gili Meno di pabrik tidak ditutup sampai izin PT TCN keluar. "PDAM sudah diperintahkan untuk membantu PT TCN mempercepat proses perizinan," ujarnya.
Tanggapi Usulan Pemasangan Pipa
Bagiarti juga menanggapi usulan warga untuk pemasangan pipa dari Pulau Lombok ke Gili Meno. Menurutnya, usulan itu merupakan solusi mustahil yang bisa dilakukan PDAM.
Solusi itu dinilai mustahil lantaran cakupan air di daratan utama Lombok Utara baru berkisar 25%. Sehingga, tidak mungkin mengambil jatah air warga daratan untuk dialirkan ke Gili Meno.
"Rencana ini juga berpotensi memicu konflik sosial horizontal, seperti tragedi Kayangan 2016, di mana warga daratan menolak airnya dialirkan ke Gili," terang Bagiarti.
PDAM Lombok Utara mengimbau semua pihak untuk menghentikan provokasi yang mengorbankan warga. Terlebih, solusi untuk mengatasi persoalan krisis air di Gili Meno sudah ada.
"Solusi sudah ada, mesin siap, teknologi sedang di-upgrade ke beach wells yang ramah lingkungan. Biarkan kami bekerja mengalirkan air untuk Gili Meno," jelas Bagiarti.
Diberitakan sebelumnya, warga Dusun Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, menampung hujan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Upaya itu dilakukan imbas krisis air bersih yang dialami warga selama dua tahun.
Video yang diterima detikBali memperlihatkan warga meletakkan empat bak ukuran besar untuk menampung air hujan pada Rabu malam (26/11/2025). Air yang ditampung itu kemudian disimpan di dalam rumah untuk kebutuhan mandi dan memasak.
Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, mengatakan kondisi ini imbas belum ada pipa air bawah laut yang disalurkan pemerintah ke rumah-rumah warga di kawasan wisata itu. Padahal, kata Mursan, kebutuhan air di Gili Meno sangat fundamental.
"Kami meminta perhatian Pemerintah NTB, khususnya Lombok Utara, harus memperhatikan kondisi ini. Sudah dua tahun kami berada dalam kondisi ini," kata Masrun, Kamis malam (27/11/2025).
(iws/iws)











































