Seorang ibu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memprotes panitia Pameran Pembangunan NTT 2025 dan viral di media sosial (medsos). Pasalnya, anaknya yang berhasil menjuarai lomba karate yang seharusnya mendapat hadiah Rp 2 juta, tetapi cuma diterima Rp 300 ribu. Hadiah juga diterima selang tiga bulan.
Protes ibu itu ramai diperbincangkan dan dibagikan. Salah satunya oleh akun TikTok @damasus96 yang sudah ditonton hingga 5,5 juta kali.
"Saya sebagai orang tua sangat kecewa karena pemberian hadiah itu disaksikan semua orang yang hadir saat penutupan pameran, itu Rp 2 juta," ujar ibu tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Respons Pemprov NTT
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) NTT sekaligus Ketua Panitia Pameran Pembangunan NTT 2025, Frederick Koenunu, menjelaskan pembayaran hadiah dilakukan secara bertahap. Menurutnya, hal itu sesuai aturan keuangan pemerintah saat ini.
Pembayaran ini, kata Frederick, sudah sesuai besaran dan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT dan juga telah disampaikan kepada Pengurus Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).
"Pembayaran itu sudah sesuai, kemudian dilanjutkan kepada induk organisasi olahraga NTT, dalam hal ini FORKI NTT, kemudian disampaikan kepada atlet yang bersangkutan," ujar Frederick, Minggu (30/11/2025) malam.
Frederick mengungkapkan telah menjelaskan kepada orangtua dari atlet yang menjadi juara pertama tersebut mengenai alur pemberian uang tersebut. Frederick mengklaim semuanya sudah terklarifikasi.
"Masalah ini sudah teratasi dengan bukti video tersebut telah dihapuskan dari akun ibu tersebut," tambah Frederick.
Sekretaris Dispora NTT, Karel Muskanan, menjelaskan telah melakukan klarifikasi terhadap pelatih, atlet, dan FORKI NTT. Namun, berbeda dengan penjelasan Frederick, Karel mengungkapkan hadiah uang tunai senilai Rp 2 juta itu dibagi lagi kepada atlet lain. Pembagian ini juga diketahui sang atlet.
"Ternyata apa yang terjadi, di dalam pembinaan olahraga dan latihan ada pembinaan karakter terkait dengan kebersamaan, nilai solidaritas antarsesama atlet. Sehingga, besaran yang diterima itu mereka saling berbagi, jadi dari Rp 2 juta dibagi dengan teman yang lain, maka dapatlah Rp 300 ribu itu," urai Karel dalam sambungan telepon.
Menurut Karel, dalam kejuaraan bukan besaran uang yang dilihat, tetapi kebersamaan antar atlet yang diutamakan.
"Persoalan ini sudah selesai dan ditangani dengan baik. Kami selesaikan bersama orang tua, atlet, dan FORKI yang dalam hal ini diwakili pelatih yang bersangkutan," kata Karel.
(iws/iws)











































