Semerbak bunga dan aroma dupa tercium di Pura Puseh, Dusun Kembang Sari, Kecamatan Plampang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Satu per satu perempuan berkebaya memasuki pura sembari menjunjung gebogan -- sesaji berisi aneka buah-buahan.
Ratusan warga Hindu sudah berdatangan sejak pagi untuk bersembahyang merayakan Hari Raya Kuningan. Tak lama kemudian, suara genta menggema. Doa dipanjatkan.
Meski jauh dari tanah leluhur di Bali, umat Hindu di Sumbawa tetap melaksanakan rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan khidmat. "Pertama kali merayakan Galungan dan Kuningan di Sumbawa sejak 1979," ujar Jero Mangku Gede I Nyoman Dastra saat dihubungi detikBali dari Bali, Sabtu (29/11/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mangku Dastra menuturkan warga Dusun Kembang Sari mempersiapkan berbagai sarana upakara (banten) Galungan maupun Kuningan dengan semangat kebersamaan. Mereka masih memegang tradisi ngayah atau gotong royong yang diwariskan para leluhur mereka di Bali di masa lalu.
Warga Hindu merayakan Hari Raya Kuningan di Pura Puseh di Dusun Kembang Sari, Kecamatan Plampang, Sumbawa, NTB, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Dok. Ni Ketut Sri Astuti) |
"Sekarang masyarakat sudah semakin pintar dan makin banyak yang bisa membuat banten. Cukup satu hari sudah selesai bikin banten untuk persiapan Galungan dan Kuningan," imbuh Mangku Dastra.
Prosesi Galungan dan Kuningan di Dusun Kembang Sari, Sumbawa, tak jauh berbeda dengan tradisi yang dilakukan umat Hindu di Bali. Mangku Dastra menyebut rasa toleransi warga Sumbawa yang mayoritas beragama Islam sangat tinggi.
"Susana merayakan Galungan dan Kuningan di tanah rantau sangat khidmat. Saudara-saudara muslim di sini sangat bertoleransi. Kami masih diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing," imbuh Mangku Dastra.
Mangku Dastra bertransmigrasi dari Bali ke Pulau Sumbawa tidak melalui program pemerintah, melainkan secara sukarela sejak 1979. Warga Bali yang merantau ke Sumbawa berasal dari Kabupaten Buleleng, Karangasem, Jembrana, Klungkung, Bangli, dan Tabanan.
Ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumbawa, belum ada pura untuk tempat sembahyang. Mereka lantas membuat pura berbahan kayu sebagai tempat persembahyangan sementara.
Warga Hindu sembahyang merayakan Hari Raya Galungan di Pura Puseh di Dusun Kembang Sari, Kecamatan Plampang, Sumbawa, NTB, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Dok. Ni Ketut Sri Astuti) |
Sekitar 1984-1985, warga rantauan itu mulai membangun pura semi permanen. Barulah pada 2002 warga Hindu di Dusun Kembang Sari memiliki Pura Puseh dan Pura Desa permanen. Kemudian, pada 2006 dilakukan upacara melaspas untuk Pura Dalem.
"Jumlah krama adat sekitar 120 kepala keluarga (KK) atau sekitar 400 jiwa penduduk," tutur Mangku Dastra
"Mudah-mudahan umat Hindu di Kembang Sari bisa meningkatkan sradha dan baktinya sesuai dengan sastra Weda," imbuhnya.
Melestarikan Ajaran Leluhur
I Wayan Lendra juga memiliki kisah merayakan Galungan dan Kuningan di tanah rantau. Pria asal Nusa Penida, Klungkung, Bali, itu sudah merantau ke Sumbawa sejak 1980-an.
Lendra dikaruniai empat anak dari pernikahannya dengan Ni Luh Sukenti. Ia sukses menyekolahkan anak-anaknya berkat ketekunannya bekerja di ladang sebagai petani dan peternak sapi di Sumbawa. Ia berharap anak-anaknya bisa terus melestarikan ajaran leluhur.
"Semoga kami di Dusun Kembang Sari tetap akur dan makmur. Biar bisa terus melaksanakan tradisi," tutur Lendra.
Istri Lendra, Sukenti, setali tiga uang. Meski telah bertahun-tahun berada di tanah rantauan, Sukenti kerap merindukan Bali. Terutama saat hari-hari besar seperti Galungan dan Kuningan.
"Yang paling dirindukan adalah keluarga besar di Bali. Suasana hari raya di Bali sangat hangat, mungkin karena masih bisa bercanda dengan sepupu. Di sini hangat juga, tapi pasti ada pembedanya karena di rantauan," tutur perempuan asal Jembrana itu.
Sukenti bersyukur masih diberi kesehatan untuk menjalankan tradisi dan ajaran leluhur. Seperti orang Bali pada umumnya, ia pun masih rutin mengikuti kegiatan ngayah selama berada di Sumbawa.
*Walaupun tidak berkumpul keluarga besar, tetap bersyukur masih bisa ngayah dan rukun warga di sini," pungkasnya.
Simak Video "Video: POV Naik Eskalator Viral Berdekorasi Natal di Mal Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)













































