Laklak Biu Men Bayu Khas Tabanan, Laris Manis Diburu Warga-Wisatawan

Chairul Amri Simabur - detikBali
Sabtu, 25 Jun 2022 23:35 WIB
Proses pembuatan Laklak Biu Men Bayu, di warungnya dekat Balai Banjar Penebel Kaja, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, Sabtu (25/6/2022).
Proses pembuatan Laklak Biu Men Bayu, di warungnya dekat Balai Banjar Penebel Kaja, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, Sabtu (25/6/2022). Foto: Chairul Amri Simabur/detikBali
Tabanan -

Sudah sepuluh tahun terakhir Laklak Biu Men Bayu memberi warna dalam ragam kreasi kuliner Bali, laris manis diburu warga hingga wisatawan. Kue basah khas Penebel yang dijajakan di dekat Balai Banjar Penebel Kaja, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, ini masih menjadi favorit dan banyak dicari.

Dikatakan pemilik warung Laklak Biu Men Bayu I Ketut Sutarma (74), pelanggannya tidak hanya dari Kecamatan Penebel. Orang luar Tabanan yang kebetulan melintas di Jalan Utama Penebel atau Baturiti, juga acap kali memesannya sebagai gapgapan (oleh-oleh).


"Biasanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Paling ramainya Minggu. Ada yang dari Denpasar atau Badung yang mau ke Jatiluwih atau Bedugul," tuturnya, Sabtu (26/6/2022).

Sutarma bercerita, usaha kue Laklak Biu (pisang) mulai dirintis neneknya sejak 2009 lalu. Sepeninggal neneknya, Sutarma dan istrinya, Ni Nyoman Tani, yang meneruskan sampai kini.

"Kami melanjutkan. Dulu cuma pakai satu tungku. Pertama kali dijual cuma Rp 1.000 per biji," ujarnya.

Semula, Laklak Biu hanya usaha sampingan neneknya saat menjual bubur ayam. Namun penjualan kue tersebut justru lebih laris daripada bubur ayam. "Bubur ayamnya laku sedikit. Justru yang ramai malah Laklak Biu ini," kenangnya.

Ia mengatakan, sejak awal dijual, pembelinya sudah ramai. "Bahkan ada yang sampai pesan Rp 50 ribu waktu dijual Rp 1000 per biji," katanya.

Karena lebih laku, penjualan difokuskan ke Laklak Biu. Bahkan saat ini, kreasinya ditambah dengan varian rasa cokelat dan keju. Perbedaannya hanya di harga. Untuk yang rasa original Rp 2000 per biji. Sedangkan yang varian cokelat atau keju per bijinya Rp 3000.

Proses pembuatannya juga tidak lama. Bahan yang dipakai juga mudah didapat. Adonan cairnya dibuat dari campuran tepung beras, terigu, dan kanji. Adonan cair itu kemudian didadar pada lempengan terakota di atas tungku batubara. Untuk memanaskannya, Sutarma menggunakan kayu bakar.

"Waktu dituangkan diberi irisan pisang. Proses bikinnya tidak lama. Cuma dua menit. Biasanya enak dipakai teman kopi atau teh," ujarnya.

Sutarma mengatakan, kue yang dijualnya mulai dikenal sejak rajin mengikuti pameran kuliner pada 2012 lalu. Bahkan pada 2017, ia dan istrinya sampai berpameran hingga ke Jakarta.

"Sampai sekarang kalau ada kesempatan pameran kami ikut. Tapi kalau tidak ada, kami jualannya di sini saja. Dari jam tujuh pagi sampai delapan malam," katanya.

Kalau sedang ramai, Sutarma dan istrinya bisa mengantongi Rp 500 ribu dalam sehari. "Kalau hari-hari biasa sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu," pungkasnya.



Simak Video "Laris Manis Laklak Biu Men Bayu Khas Tabanan"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)