Sindikat penimbunan Pertalite di Bali terbongkar. Ada keterlibatan pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) nakal di balik sindikat penyalahgunaan BBM bersubsidi itu.
Sindikat tersebut mencatut puluhan barcode milik konsumen untuk membeli Pertalite yang kemudian ditimbun dan dijual kembali.
Polisi mengungkap kasus itu di Jalan Trengguli, Kelurahan Penatih, pada Kamis (22/10/2026). Empat orang diamankan, yakni AS (25), ANR (30), IN, dan IPS (38).
"Kami amankan empat orang ini, masing-masing punya peran sebagai pemodal, kemudian pengendara motor dan pikap yang juga digunakan untuk mengangkut BBM. Jenis BBM-nya Pertalite," ujar Kapolresta Denpasar, Kombes I Wayan Winaya, saat konferensi pers di Mapolresta Denpasar, Minggu (25/10/2026).
Dijual ke Warung-warung
Winaya menjelaskan sindikat tersebut telah menjalankan aksinya secara berulang. AS berperan sebagai pemodal sekaligus pengelola penampungan dan pendistribusian Pertalite ke warung-warung. Sementara itu, IPS merupakan operator SPBU Jalan Padma, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, yang membantu meloloskan transaksi menggunakan barcode.
Adapun ANR dan IN bertugas membeli Pertalite menggunakan pikap dan motor. BBM yang terkumpul kemudian disedot dari tangki kendaraan menggunakan mesin khusus untuk dipindahkan ke drum dan jeriken.
"Satu jeriken kalau kita bisa lihat di sini isi sampai dengan 30 sampai 35 liter, kemudian dari seluruh total ini hampir sekitar 750 liter yang bisa kami amankan. Dengan cara membeli, kemudian inisial PS sudah menunggu dengan barcode-nya, sekitar 57 barcode yang digunakan untuk bolak-balik sehari minimal 5 sampai dengan 10 kali pulang pergi ke SPBU," kata Winaya.
Kasatreskrim Polresta Denpasar, Kompol Agus Riwayanto Diputra, menjelaskan barcode yang digunakan pelaku berasal dari konsumen SPBU. Barcode tersebut diduga difoto oleh oknum operator tanpa sepengetahuan pemiliknya.
"Ini langsung permainan mereka, jadi petugas SPBU ini dapat barcode itu dari pembeli saat barcode diserahkan di SPBU. Biasanya kan lewat HP atau barcode itu ditunjukkan, itu langsung difoto oleh oknum karyawan itu sendiri tanpa sepengetahuan pemilik barcode sehingga bisa dipakai," sambung Agus.
(hsa/hsa)