Rencana Amerika Serikat (AS) menyiarkan langsung eksekusi mati mantan tentara Nidal Hasan menuai kecaman. Perdana Menteri (PM) Inggris Andy Burnham menyebut rencana tersebut sebagai tindakan yang sangat menjijikkan.
Dilansir detikNews, Senin (12/10/2026), seorang pejabat Pentagon mengatakan eksekusi mati Hasan dengan regu tembak akan disiarkan secara langsung. Eksekusi terhadap Hasan dijadwalkan berlangsung pada 3 Desember.
Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan belum ada keputusan mengenai apakah eksekusi tersebut akan disiarkan secara terbuka. Trump tetap menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan hukuman mati menggunakan regu tembak.
"Mereka sedang mengambil keputusan mengenai hal itu, tetapi dia akan dihukum mati," kata Trump terkait rencana menyiarkan secara langsung eksekusi Nidal Hasan dengan regu tembak yang dijadwalkan pada 3 Desember.
"Saya sebenarnya tidak peduli bagaimana caranya dia mati, asalkan dia mati," ujarnya.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, seperti dilansir AFP, Jumat (9/10), sebelumnya mengatakan eksekusi mati terhadap Hasan akan dilaksanakan di hadapan publik.
Rencana tersebut mendapat kecaman dari Burnham. Saat ditanya mengenai kemungkinan eksekusi terbuka di AS, Burnham mengatakan kepada siniar atau podcast The Rest is Politics yang dijadwalkan rilis, Senin (12/10): "Saya tidak akan pernah mendukung hal itu."
"Itu adalah sesuatu yang tidak ingin saya lihat terjadi di mana pun di dunia ini," ujarnya.
"Menurut saya, hal itu sangat menjijikkan dalam banyak hal," tambahnya.
Hasan, mantan psikiater Angkatan Darat AS, melakukan penembakan massal yang menewaskan 13 orang di pangkalan militer Fort Hood pada tahun 2009.
Eksekusi mati terhadap Hasan akan menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak tahun 1961 silam. Eksekusi tersebut juga akan menjadi yang pertama melibatkan regu tembak sejak Perang Dunia II.
Simak Video "Video: Iran Pastikan Tak Ada Demonstran yang Dieksekusi Hukuman Mati"
(dpw/dpw)