Deru tabuh gamelan menggema di sudut Sanggar Kayonan, Semarapura Klod, Klungkung, Bali, Sabtu (12/9/2026). Penabuh gamelan itu adalah sekelompok remaja yang tengah latihan untuk kompetisi baleganjur. Suasana latihan para remaja itu begitu hidup di bawah sorot matahari sore.
Di dinding sanggar, puluhan piagam penghargaan terpampang dengan rapi. Berbagai penghargaan itu sudah ada sejak 1990-an, menjadi saksi bisu perjalanan panjang Sanggar Kayoan.
Sebuah plakat terbaru tampak mencolok di antara deretan bingkai tersebut. Plakat itu adalah penghargaan Adi Sewaka Nugraha dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang diberikan pada 11 Juli 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang terbaru ini, penghargaan dari Gubernur Bali Wayan Koster," kata I Dewa Gede Alit Saputra, pendiri Sanggar Kayoan, kepada detikBali.
Adi Sewaka Nugraha adalah penghargaan tertinggi bagi para seniman dan budayawan dari Pemprov Bali. Penghargaan diberikan kepada mereka yang tanpa kenal lelah melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni tradisi, klasik, maupun seni rakyat Bali.
Alit adalah satu dari sekian seniman yang menerima Adi Sewaka Nugraha. Ia telah mendedikasikan hidupnya selama 33 tahun untuk melestarikan seni dan budaya melalui Sanggar Kayonan. Sanggar yang didirikan pada 8 Juni 1992 ini dibentuk dari kecintaan yang mendalam terhadap dunia teater.
Nama Kayonan sendiri merupakan sebuah gunungan dalam wayang Jawa. Dalam sebuah gunungan wayang, simbol semesta, seperti alam dan hutan, menunjukkan makna sebagai sumber kehidupan.
Selain itu, secara kata 'Kayon' juga bermakna 'kayu' yang diartikan sebagai pikiran dan niat. Dari filosofi itulah Alit menamai sanggar kesenian yang dirintisnya.
"Dari situlah filosofi itu yang menguatkan saya memberikan nama kepada sanggar ini Sanggar Kayonan. Karena saya tidak pernah pantang menyerah untuk berjuang memajukan kesenian di tengah surutnya keadaan sosial ekonomi," tutur Alit.
Alit sempat menghadapi tantangan besar pada era 1990-an ketika memadukan unsur teater modern ke dalam ranah upacara adat di Klungkung. Atas permintaan para sesepuh desa untuk mendukung jalannya upacara dan pementasan, sanggar ini terus beradaptasi dengan meramu teater modern dan tradisi Bali.
Konsistensi Sanggar Kayoan dalam melahirkan karya terus terjaga meski mengalami keterbatasan finansial dan tanpa campur tangan pemerintah. Konsistensi berkarya menjadi fondasi awal sanggar Kayonan menjadi seperti sekarang.
Konsistensi itu membuatnya meraih penghargaan khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung. Bahkan, sejak 2015, Alit dipercaya meramu tema kegiatan dan pertunjukan di Semarapura Festival.
Tak cuma itu, jelajah panggung Sanggar Kayonan merentang dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Solo, Bandung, Yogyakarta hingga menembus batas negara sampai ke Korea. Ragam kesenian yang ditekuni mencakup seni tari tradisional Bali dan Jawa, tari garapan kontemporer, teater hingga tabuh gamelan.
"Orientasi utamanya dalam berkarya adalah ketulusan murni untuk merawat dan melestarikan seni itu sendiri, sementara materi atau bayaran diletakkan sekadar sebagai bonus yang mengikuti proses panjang yang telah dijalani," ungkap Alit.
Semangat pengabdian ini juga ia salurkan melalui dunia pendidikan, membimbing generasi muda dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah kejuruan (SMK). Kendati demikian, tantangan pelestarian seni tradisional tidak pernah surut.
"Kalau dihitung-hitung, sudah banyak sekali alumni sanggar Kayonan. Saya merasa bangga karena mereka yang sudah belajar di sanggar ini sekarang sudah banyak yang mendirikan sanggar seni juga di Klungkung," terang Alit.
Bagi Alit, upaya merawat minat generasi muda di tengah arus modernisasi serta pendokumentasian karya masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Derasnya pengaruh budaya luar juga menuntut kehadiran nyata pemerintah melalui kebijakan, perlindungan hukum, pembinaan berkelanjutan, serta penyediaan ruang ekspresi yang memadai agar eksistensi kelompok kesenian tradisional tidak tergerus zaman.
"Banyak hal yang mesti dikuatkan oleh pemerintah saat ini dalam upaya mengembangkan kesenian tradisi kita. Kalau hidupnya kita tidak khawatir karena selama masih ada upacara, kebutuhan seni itu sendiri hidup bersamaan. Tinggal bagaimana ini terus diperkuat dengan berbagai upaya nyata dari pemerintah," jelas Alit.