detikBali

Dari Rumah Warga ke Panggung Dunia, Energi Baru Bernama Mandalika

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dari Rumah Warga ke Panggung Dunia, Energi Baru Bernama Mandalika


Ahmad Viqi - detikBali

Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Mandalika -

Rumah itu sudah tak ada lagi. Tanah tempat Damar dahulu tinggal bersama keluarganya kini berubah menjadi bagian dari sirkuit balap kelas dunia. Di atasnya, motor-motor berkapasitas 1.000 cc melesat kencang, disaksikan ribuan pasang mata dari berbagai penjuru dunia.

Damar masih mengingat tempat itu. Sebelum deru mesin menggantikan kesunyian perkampungan, sebelum aspal hitam membelah bukit dan kebun, di sanalah keluarganya menjalani kehidupan sederhana.

Namun, sejak 2022, Damar dan keluarganya pindah ke Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Bekas tempat tinggalnya bersama puluhan kepala keluarga lain kini menjelma menjadi area paddock dan tribun premium Pertamina Mandalika International Street Circuit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang sudah menjadi area premium bekas lahan tempat tinggal di dalam area sirkuit itu," kenang Damar, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Perubahan yang dialami Damar bukan sekadar perpindahan rumah. Ia menjadi bagian dari transformasi besar sebuah kawasan pesisir di selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kini namanya menggema hingga penjuru dunia.

ADVERTISEMENT

Mandalika, yang dahulu lebih dikenal dengan tanah gersang dan perbukitannya, kini menjelma menjadi magnet pariwisata, investasi, dan olahraga otomotif internasional. Bahkan, bagi sebagian masyarakat di luar NTB, nama Mandalika terdengar lebih familier ketimbang nama provinsinya sendiri.

Di kawasan yang kini menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika itu, sebagian besar warga dahulu menggantungkan hidup sebagai petani, peternak, nelayan pesisir, hingga pekerja lepas. Kehidupan berjalan sederhana, jauh dari bayangan bahwa suatu hari kampung mereka bakal menjadi tuan rumah kejuaraan balap motor dunia.

Perubahan mulai terlihat ketika Pertamina Mandalika International Street Circuit dibangun. Sejak gelaran World Superbike (WSBK) pertama pada November 2021 hingga rangkaian MotoGP tahun kelima pada Oktober 2026, wajah Mandalika bersolek total.

Namun, cerita Mandalika tak hanya tentang lintasan sepanjang 4,31 kilometer, hotel berbintang, atau ribuan wisatawan yang datang. Di balik gemerlapnya, ada warga yang menyaksikan langsung bagaimana ruang hidup mereka berubah, sekaligus berusaha menemukan tempat dalam geliat ekonomi baru.

Sibawaih (46) dan Alus Darniah (42), warga Dusun Ebunut dan Dusun Lauk, Desa Kuta Mandalika, termasuk di antaranya. Mereka tak pernah membayangkan kebun dan pesisir pantai tempat mereka tumbuh bakal disulap menjadi lintasan aspal mulus.

"Dulu kawasan ini penuh pohon kelapa dan kebun warga. Bahkan pemakaman leluhur pun dibongkar untuk area paddock," kata Sibawaih saat ditemui pada Rabu 14 Oktober 2026.

"Jalan setapak tempat nelayan melaut kini sudah berubah jadi aspal mulus yang dilintasi pembalap dari seluruh dunia."

Sibawaih menjadi saksi hidup transformasi masif di atas lahan seluas 300 hektare, bagian dari kawasan terpadu 1.035 hektare yang dikelola PT InJourney Tourism Development Corporation (ITDC).

Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).Penonton penuhi tribun menonton MotoGP di Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Ahmad Viqi/detikBali

Meski begitu, ia masih tinggal di rumahnya yang berada tepat di sisi selatan tikungan 8 Sirkuit Mandalika. Rumah itu masih berdiri kokoh dan belum tersentuh pembangunan sirkuit.

Sementara itu, Alus masih mengingat saat deru mesin motor 1.000 cc pertama kali menggelegar di tanah kelahirannya pada WSBK 2021. Kala itu, pebalap asal Turki, Toprak Razgatlioglu, mengunci gelar juara dunia.

Warga yang semula awam dengan olahraga otomotif berbondong-bondong mendaki Bukit Batik Bantar di dekat tikungan 5 dan 6. Mereka ingin melihat balapan, meski hanya dari kejauhan.

Kini, pemandangan di sekitar sirkuit jauh berbeda. Masyarakat mulai beradaptasi dengan kedatangan wisatawan dan gelaran balap internasional. Peluang usaha pun bermunculan.

"Sekarang masyarakat sudah mulai beradaptasi. Ada yang menjual suvenir, membuka warung, sampai menyewakan kamar rumah jadi homestay," tutur Alus.

Saat MotoGP perdana digelar pada Maret 2022, Alus bahkan menyewakan dua kamar rumahnya kepada penonton yang kehabisan akomodasi.

Dari Keterbatasan Kamar Menuju Gelombang Investasi

Pengalaman Alus menggambarkan salah satu peluang ekonomi yang muncul seiring tumbuhnya Mandalika. Pada tahun-tahun awal penyelenggaraan, kebutuhan akomodasi menjadi persoalan tersendiri.

Saat MotoGP 2022, pasokan kamar di Mandalika hanya berkisar 1.800 hingga 2.000 unit. Ribuan tamu terpaksa mencari penginapan hingga ke Kota Praya, Kabupaten Lombok Barat, bahkan Kota Mataram yang berjarak 45 kilometer.

Namun, keterbatasan itu perlahan dijawab oleh pertumbuhan investasi.

Sekretaris Mandalika Hotel Association, Rata Wijaya, mencatat kapasitas hunian di KEK Mandalika meningkat drastis. Dari 2.000 kamar pada 2022, jumlahnya melonjak menjadi 3.000 kamar pada 2025 dan mencapai 5.000 kamar saat perhelatan MotoGP 2026.

Hotel-hotel berbintang seperti Pullman hingga Raja Hotel kini berdiri megah di pesisir pantai Kuta Mandalika.

"Penambahan kamar hotel di Mandalika nyaris dua kali lipat hanya dalam rentang tiga tahun. Akses jalan pun dipoles total, sangat berbeda dibanding WSBK pertama yang jalannya masih becek," ujar Rata, Kamis 8 Oktober, sehari sebelum MotoGP Mandalika 2026.

Pertumbuhan fasilitas tersebut berjalan beriringan dengan perubahan citra Mandalika. Kawasan yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir kini menjadi destinasi wisata internasional.

Dari Legenda Putri Mandalika ke Magnet Wisata Dunia

Nama Mandalika sendiri bukan sekadar penanda geografis. Kawasan ini memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat dalam ingatan masyarakat Sasak melalui legenda Putri Mandalika.

Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putria, menjelaskan nama Mandalika lekat dengan kisah seorang putri Sasak yang jelita. Dalam legenda tersebut, Putri Mandalika memilih mengorbankan dirinya ke laut ketimbang menjadi pemicu pertikaian para pangeran yang memperebutkannya.

Dalam memori kolektif masyarakat suku Sasak, sang putri dipercaya terjun ke laut dan menjelma menjadi Nyale atau cacing laut.

"Putri Mandalika konon terjun di laut (menjadi nyale) karena diperebutkan banyak lelaki di Lombok. Kini Mandalika menjadi primadona baru bagi warga dunia," tutur Putria.

Dari kisah legenda lokal, Mandalika kini menjelma menjadi tujuan wisatawan mancanegara. Salah satunya Gerard Mikel, wisatawan asal Perth, Australia.

Ia rela memboyong kekasihnya untuk menghabiskan liburan selama dua pekan di Lombok demi menyaksikan aksi Marc Marquez di Sirkuit Mandalika.

Tak hanya menikmati balapan, Mikel juga memanfaatkan waktunya untuk menjelajahi kuliner nusantara dan bersiap menaklukkan jalur pendakian Gunung Rinjani.

"Suasananya sangat menyenangkan dan masyarakatnya sangat ramah," kata Mikel.

Deru Mesin, Berkah di Lapak Rakyat

Kedatangan wisatawan dan penyelenggaraan balap dunia tak hanya menguntungkan industri perhotelan. Di luar pagar sirkuit, geliat ekonomi juga terasa hingga lapak-lapak pedagang kecil.

Samsul Kamarudin, pedagang kuliner asal Lombok Timur, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung lonjakan transaksi selama MotoGP 2026.

Dalam dua hari saja, ia mampu mengantongi omzet Rp 500 ribu per hari. Ia menargetkan total penjualan mencapai Rp 6 juta, meningkat dibanding capaian tahun lalu sebesar Rp 4 juta.

Peluang bagi pelaku usaha kecil juga terbuka melalui pelibatan UMKM di area sirkuit.

Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTB mencatat sebanyak 114 UMKM dilibatkan di area inner sirkuit pada MotoGP 2026. Sebanyak 70 persen di antaranya bergerak di sektor kuliner, sedangkan sisanya di bidang kriya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Wirawan Ahmad, menyebut transaksi dari 50 UMKM binaan Pemprov NTB saja menembus Rp 700 juta selama tiga hari acara. Angka tersebut meningkat dari Rp 550 juta pada 2025.

Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).Acara hiburan meramaikan gelaran MotoGP Mandalika 2026. Foto: Ahmad Viqi/detikBali

Besarnya aktivitas ekonomi selama MotoGP juga menjadi perhatian Badan Pusat Statistik (BPS) NTB. Untuk mengukur dampaknya secara lebih presisi, hampir 40 petugas survei diterjunkan ke lapangan.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan pendataan mencakup perilaku belanja penonton, kinerja hotel, pergerakan UMKM, hingga arus penumpang di pelabuhan dan bandara.

"Sektor transportasi dan akomodasi selalu menjadi komponen yang paling mendominasi. Selain itu, suvenir khas seperti kaus berlogo khusus dan topi menjadi buruan utama penonton," jelas Wahyudin.

Hasil survei komprehensif tersebut dijadwalkan dirilis pada awal 2027.

Rp 5,2 Triliun Energi Ekonomi MotoGP

Besarnya geliat ekonomi Mandalika tergambar dari klaim penyelenggara MotoGP 2026. Chairman MotoGP Mandalika 2026, Troy Reza Warokka, menyebut ajang balap tahun ini sukses menyedot 157.875 penonton, naik 12,5 persen dibanding rata-rata perhelatan tahun 2022-2025.

Menurut Troy, kehadiran pebalap muda Indonesia seperti Veda Ega Pratama di Moto3 dan Mario Aji di Moto2 turut menjadi magnet baru bagi penonton.

"Dampak ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp 5,2 triliun. Ini melampaui target awal Rp 5 triliun," klaim Troy.

Selain itu, perhelatan ini menyerap 3.900 tenaga kerja lokal NTB dan mendorong pengoperasian 66 penerbangan tambahan (extra flight) ke Bandara International Lombok.

Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, Maya Watono, menambahkan siaran langsung MotoGP Mandalika disaksikan oleh 700 juta pasang mata di seluruh dunia melalui 200 media secara simultan.

Menurut Maya, geliat ekonomi ini berimbas langsung pada penurunan angka kemiskinan di kawasan Mandalika dari 14 persen menjadi 11 persen. Pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) NTB juga mencapai 10,42 persen, di atas rata-rata nasional.

Besarnya potensi tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan Mandalika lebih jauh. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir meminta ITDC melengkapi KEK Mandalika dengan fasilitas olahraga terpadu.

Fasilitas yang didorong antara lain lapangan golf, jogging track, lapangan tenis, padel, hingga area bonded zone untuk kendaraan balap.

"Mandalika jadi Kawasan Ekonomi Khusus Olahraga. Harus ada lapangan golf-nya, tambah hotel, jogging track, lapangan tenis, padel, sampai bonded zone buat mobil-mobil balap di sini," kata Erick di Mandalika, Minggu 11 Oktober 2026.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, juga menegaskan Pemprov NTB berencana memperpanjang durasi agenda pendukung (road to dan after event) pada perhelatan MotoGP 2027. Langkah tersebut diharapkan membuat multiplier effect ekonomi dirasakan lebih lama oleh warga.

"Tugas kita bersama memanfaatkan momentum ini untuk membangun pariwisata agar NTB mendunia dengan standar pelayanan internasional," ujar mantan Dubes RI untuk Turki tersebut, Senin 12 Oktober 2026.

Energi yang Menopang Mandalika

Di balik kemeriahan MotoGP, ada kebutuhan besar yang tak selalu terlihat oleh penonton. Mobilitas puluhan ribu orang, aktivitas hotel, restoran, kendaraan operasional, hingga penerbangan tambahan membutuhkan pasokan energi yang memadai.

Tumpuan pariwisata Mandalika juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja terdidik. Direktur Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Ali Muhtasom, mengungkapkan nyaris 50 persen dari total 1.700 alumni kampusnya kini terserap di KEK Mandalika, mulai dari manajemen perhotelan hingga industri kuliner.

"Mayoritas investor yang masuk ke Mandalika berkolaborasi langsung dengan kampus kami untuk perekrutan tenaga kerja," kata Ali, Kamis 22 Oktober 2026.

Bersamaan dengan itu, kebutuhan energi di Pulau Lombok ikut meningkat seiring melonjaknya mobilitas warga dan wisatawan.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melaporkan penambahan pasokan BBM sebesar 20 hingga 30 persen selama periode 8-15 Oktober 2026. Rinciannya, Pertalite mencapai 8.216 kiloliter, Pertamax 980 kiloliter, dan Solar 2.704 kiloliter.

Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan pasokan LPG di Pulau Lombok bahkan digelontorkan hingga 200 persen dari konsumsi normal. Sementara itu, stok Avtur di Bandara Internasional Lombok ditambah hingga 47 persen.

"Kami menyiagakan SPBU 24 jam di jalur bypass serta menyediakan SPBU modular berkapasitas 5.000 liter Pertamax Turbo di dalam sirkuit untuk operasional kendaraan Dorna, tim balap, dan Safety Car," tutur Ahad, Selasa 27 Oktober 2026.

Kesiapan energi tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan ajang internasional. Sebab, di balik aksi para pembalap di lintasan, ada rantai aktivitas yang harus terus bergerak, mulai dari transportasi hingga operasional kawasan.

Namun, kontribusi Pertamina di Mandalika tak berhenti pada pemenuhan kebutuhan energi. Perusahaan juga membawa puluhan pelaku UMKM binaan untuk memanfaatkan momentum kehadiran wisatawan dari berbagai negara.

Sebanyak 30 UMKM binaan Pertamina dilibatkan dalam Festival Pertamina Energizing Indonesia 2026 di area Grandstand A. Total transaksi gabungan dari UMKM binaan dan merchandise resmi tercatat mencapai Rp 4,2 miliar.

Khusus Bazar UMKM, transaksi mencapai Rp 800 juta, melonjak 207 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sudiman, pengrajin kain dari kelompok Mina Tenun binaan Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Lombok, merasakan langsung manfaat pembinaan tersebut.

"Pendampingan Pertamina tidak hanya membantu produksi, tetapi juga membuka akses pasar internasional bagi perajin lokal untuk menjaga warisan budaya," ujarnya.

Investasi Besar, PR bagi Warga Lokal

Di tengah pertumbuhan investasi dan aktivitas ekonomi, ada satu hal yang perlu dipastikan: seberapa besar manfaat Mandalika benar-benar tinggal dan berputar di NTB?

Pakar Ekonomi sekaligus Dosen Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram), Associate Professor Dr. Iwan Harsono, mencatat investasi kumulatif di Mandalika telah mencapai sekitar Rp 6,018 triliun mulai 2022 hingga akhir 2025 dengan 27 pelaku usaha yang aktif beraktivitas.

Event MotoGP 2026, menurut Iwan, pun terbukti sukses menyedot ratusan ribu penonton hingga tingkat okupansi hotel di KEK Mandalika menyentuh angka 100 persen.

"Dampaknya ada dan cukup besar. Yang harus kita lihat sekarang adalah berapa besar uang itu benar-benar tinggal dan berputar di NTB," ujar Iwan.

Alumni University of New England ini menekankan pentingnya penguatan rantai pasok lokal di Mandalika. Sektor perhotelan, restoran, hingga berbagai aktivitas usaha di kawasan tersebut harus makin masif menyerap hasil pertanian, peternakan, perikanan, serta produk UMKM dan ekonomi kreatif asli NTB.

Besarnya peluang itu terlihat dari kebutuhan komoditas perikanan. Pada MotoGP 2026, kebutuhan komoditas perikanan per hotel melonjak drastis dari 50 kilogram menjadi 500-600 kilogram per pesanan per hari.

Lonjakan tersebut menjadi bukti konkret betapa besarnya peluang menghubungkan industri pariwisata Mandalika dengan produsen lokal.

"Nah, dampak seperti ini jangan hanya terjadi tiga hari saat event MotoGP saja. Harus ada hubungan usaha yang lebih permanen agar manfaatnya terus mengalir setelah MotoGP selesai," tegasnya.

Iwan juga memberi catatan kritis terkait kondisi sosial-ekonomi di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, lokasi KEK dan Sirkuit Mandalika berdiri.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Kecamatan Pujut masih menjadi salah satu wilayah dengan kantong kemiskinan cukup tinggi, yakni sekitar 11,77 persen atau setara 16.037 jiwa.

Menurut Iwan, kondisi ini bukan menandakan Mandalika gagal. Sebaliknya, hal tersebut menjadi sinyal bahwa keterikatan antara investasi berskala besar dan ekonomi warga sekitar belum terjalin cukup kuat.

"Investasi boleh tumbuh, wisatawan boleh meningkat, tetapi kalau masyarakat lokal belum masuk lebih dalam ke rantai usaha, manfaatnya belum akan tersebar merata," ujar Iwan.

Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).Bazar UMKM di Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Ahmad Viqi/detikBali

Karena itu, Kecamatan Pujut dinilai harus menjadi wilayah prioritas pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut bisa dilakukan melalui penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok pangan, jasa transportasi, pengembangan homestay, hingga industri kreatif lokal.

Iwan juga mendorong seluruh pemangku kebijakan agar Mandalika diposisikan sebagai pintu masuk (gateway) untuk mempromosikan destinasi wisata NTB secara menyeluruh.

"Kita dorong tamu-tamu untuk mengeksplorasi keindahan Pulau Sumbawa. Ada beberapa destinasi potensial antara lain kawasan Samota, wisata hiu paus di Teluk Saleh, Gunung Tambora, spot surfing Lakey di Dompu, hingga beragam destinasi unggulan di Kabupaten dan Kota Bima," saran Iwan.

Dengan demikian, keberhasilan MotoGP di Sirkuit Mandalika menurut Iwan tak lagi cukup diukur dari suksesnya penyelenggaraan balap motor kelas dunia. Ukuran keberhasilan kawasan ini harus naik kelas.

"Kemiskinan di Pujut harus turun lebih cepat, pendapatan masyarakat meningkat, rantai pasok lokal makin kuat, dan manfaat ekonominya terasa hingga ke Dompu, Bima, dan wilayah lainnya di Pulau Sumbawa," ujarnya.

Energi Baru yang Harus Terus Mengalir

Dari rumah Damar yang kini menjadi bagian dari sirkuit hingga lapak-lapak UMKM yang dipadati pembeli, Mandalika memperlihatkan wajah perubahan yang nyata. Kawasan yang dahulu identik dengan tanah gersang dan kehidupan sederhana kini menjadi panggung dunia, mengundang investasi, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi.

Di balik perubahan itu, pasokan energi menjadi salah satu penopang yang membuat seluruh aktivitas terus bergerak. Pertamina hadir melalui kesiapan BBM, LPG, dan Avtur, sekaligus membuka ruang bagi UMKM binaan untuk tumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Namun, gemuruh mesin MotoGP hanya berlangsung beberapa hari. Sementara itu, harapan masyarakat terhadap perubahan ekonomi jauh lebih panjang.

Mandalika kini memang telah menjadi energi baru bagi NTB. Tantangan berikutnya adalah memastikan energi itu tidak berhenti di lintasan, hotel, atau kawasan investasi, tetapi terus mengalir hingga ke rumah-rumah warga, kebun, pesisir, dan sentra usaha lokal.

Sebab, keberhasilan Mandalika pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa kencang motor melaju di lintasan, atau seberapa besar uang berputar selama MotoGP. Lebih dari itu, tentang seberapa jauh perubahan mampu mengangkat kehidupan masyarakat yang sejak awal menjadi bagian dari tanah Mandalika.



(dpw/dpw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads