Coco Mart menjadi salah satu minimarket yang mudah ditemui di Bali. Gerainya tersebar di berbagai wilayah dan menyediakan segala macam kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, minuman hingga kebutuhan rumah tangga.
Di balik keberadaannya yang cukup familier bagi masyarakat dan wisatawan, mungkin masih banyak yang bertanya-tanya siapa pemilik Coco Mart dan bagaimana awal mula minimarket ini berkembang?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa Pemilik Coco Mart?
Coco Mart merupakan jaringan ritel terkemuka di Bali dengan komitmen menyediakan berbagai produk sehari-hari berkualitas dan lengkap dengan harga terjangkau. Ritel ini merupakan bagian dari perusahaan Coco Group yang didirikan sepasang suami istri (pasutri) I Nengah Natyanta dan Ni Ketut Siti Maryanti.
Awalnya Pencuci Piring, Kini Crazy Rich Bali
Siapa sangka ritel yang menggurita di wilayah Bali ini ternyata berawal dari usaha kecil dan tak lepas dari kisah inspiratif sang owner.
Natyanta memulai bisnis dari sebuah perjalanan yang tidak mudah. Pada 1992-2004, pria asal Karangasem tersebut hanyalah karyawan biasa di Hotel Grand Hyatt Bali. Awalnya ia bekerja sebagai pencuci piring, kemudian diangkat sebagai waiter. Kala itu kehidupannya tentu tidak semewah tamu-tamu yang dilayaninya.
Sambil bekerja di hotel, Natyanta mencari pundi-pundi rupiah lain dengan terjun di dunia bisnis kecil-kecilan. Ia berjualan produk fashion dengan bermodal 15 juta rupiah. Perlahan, bisnis jualan bajunya mulai berkembang dan membuahkan hasil.
Natyanta akhirnya bersama istrinya melebarkan bisnis dengan merintis usahanya sendiri dengan mendirikan toko pertamanya pada 2002 dan diberi Nama Coco Bistro. Alasan pemilihan nama itu pun sangat sederhana lantaran menjual minuman es kelapa muda.
Perjalan bisnisnya pun tidak selalu berjalan mulus. Coco Bistro sempat kesulitan, terlebih lagi saat penyerangan Bom Bali 2 yang meledak di Kuta pada 1 Oktober 2025. Namun, peristiwa tersebut tidak sampai membuat bisnisnya gulung tikar.
Namun, dengan semangat yang gigih, pasutri tersebut memberanikan diri membuka outlet sembako pertama yang diberi nama Coco Mart pada 2006. Seiring berjalannya waktu, toko yang dirintisnya tersebut berkembang hingga saat ini.
Bisnis ritel Coco Mart kini telah berkembang hingga memiliki 124 outlet di Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Di balik perkembangan tersebut, terdapat sosok yang mengawali perjalanan kariernya sebagai pencuci piring. Kini, Natyanta mampu mempekerjakan sekitar 2.000 karyawan dan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Gurita Bisnis Coco Group
Natyanta dan istrinya memiliki peran yang krusial selama mengembangkan bisnis. Natyanta berperan sebagai pemimpin yang inovatif dan memiliki kemampuan manajerial yang kuat untuk mengembangkan strategi bisnis. Sementara istrinya, Maryanti, memainkan peran untuk memperkuat fondasi perusahaan dari sisi sumber daya manusia dengan pendekatan yang humanis
Dikutip dari company profile Coco Group, Natyanta dan Maryanti telah berhasil mengembangkan Coco Group menjadi lini bisnis yang menggurita, di antaranya Coco Supermarket, Coco Mart, Coco Express, hotel dan vila, restoran, dan layanan distribusi logistik.
Khusus bisnis hotel, terdapat empat hotel yang sudah beroperasi di Tanah Lot, Ubud, Denpasar, dan Gili Trawangan. Selain itu, ada pula tiga jaringan Hotel Black Penny yang berlokasi di Gili Trawangan dan dua lain di Ubud. Bisnis Hotel ini menyasar pasar kelas menengah ke bawah. Sementara itu, untuk pasar konsumen kelas atas, Natyanta memiliki resort di Ubud dengan luas 1,5 hektare (ha) yang terdiri dari 24 vila pribadi.
(hsa/hsa)